Alasan Pemerintah Cabut Status Hoaks Obat COVID-19 Pesanan Jokowi Vaksin corona dikembangkan

MerahPutih.com - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengungkapkan alasan mencabut stempel disinformasi alias hoaks tentang chloroquine, obat yang diklaim dapat menyembuhkan pasien pengidap virus corona atau Covid-19.

Kemkominfo sebelumnya menganggap bahwa informasi tersebut sebagai hoaks. Alasannya,
didasarkan pada pengakuan Kepala Perawatan Klinis Program Emergensi (Organisasi Kesehatan Dunia) WHO Janet Diaz yang menyatakan belum memiliki bukti bahwa klorokuin dapat menyembuhkan pasien COVID-19.

Baca Juga:

Update COVID-19 Indonesia: Kasus Positif 450, Meninggal 38

Pernyataan Janet Diaz ini dimuat di file Coronavirus Disease (Covid-19) Press Conference milik WHO pada tanggal 20 Februari 2020. Namun, seiring dengan penyebaran virus corona yang begitu cepat, para ilmuwan dituntut untuk segera menemukan obat virus corona.

"Dengan adanya informasi terbaru yang dirilis tanggal 16 Maret 2020 bahwa ternyata klorokuin direkomendasikan untuk menjadi bagian dalam proses penyembuhan COVID-19 dan telah melewati uji klinis terhadap 100 pasien di 10 rumah sakit di China, maka stempel ‘Disinformasi’ pada tanggal 15 Maret 2020 kami cabut,” dikutip laman resmi Kekominfo di Jakarta, Sabtu (21/3).

Chloroquine merupakan obat antimalaria yang telah digunakan selama sekitar 70 tahun. Obat tersebut merupakan kandidat potensial untuk obat SARS-CoV-2 atau yang lebih kita kenal dengan virus corona. Obat ini dinilai dapat memblokir virus dengan mengikat diri ke sel manusia dan masuk untuk mereplikasi. Obat ini juga merangsang kekebalan tubuh.

Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan, yang diubah menjadi rumah sakit sementara untuk menerima pasien virus. China Daily via REUTERS/wsj/djo
Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan, yang diubah menjadi rumah sakit sementara untuk menerima pasien virus. China Daily via REUTERS/wsj/djo

Menurut Wakil Kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional Tiongkok Sun Yanrong, obat tersebut telah digunakan dalam uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di provinsi Guangdong, Tiongkok selatan dan provinsi Hunan, Tiongkok tengah, dan menunjukkan khasiat yang cukup baik.

Para dokter di Marseille, bagian selatan Prancis mengklaim pasien berhasil diobati dengan obat malaria chloroquine. Pada sebuah studi, 20 dari 36 pasien diberikan obat tersebut. Setelah 6 hari, 70% pasien tersebut dinyatakan sembuh, virus tidak lagi ada di sampel darah, dibandingkan 12,5% pasien grup kontrol.

Dokter di Australia dan Tiongkok juga telah melihat hasil yang menjanjikan dari chloroquine dan berharap bisa memulai uji coba dalam beberapa minggu ke depan.

Baca Juga:

Chloroquine dan Avigan Ikhtiar Melawan Virus Corona

Informasi tentang chloroquine ini kembali ramai dibahas warganet Indonesia ketika Presiden Jokowi menyatakan pemerintah telah memesan dua juta avigan dan menyiapkan tiga juta chloroquine yang akan diresepkan oleh dokter kepada pasien COVID-19 apabila diperlukan.

"Obat ini sudah dicoba oleh satu, dua, tiga negara dan beri kesembuhan,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Jumat (20/3) kemarin.

Jokowi juga menjelaskan bahwa obat-obatan tersebut akan sampai kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi. Presiden pun sudah meminta kepada BUMN farmasi untuk memperbanyak produksi obat ini. (Pon)

Baca Juga:

Kemenag Batalkan Peringatan Isra Mikraj karena Virus Corona


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH