Aktivis Papua Dibui karena Dituding Makar, Surya Anta: Ini Pesanan Aktivis Papua, Surya Anta. Foto: Istimewa

MerahPutih.com - Massa Solidaritas Pembebasan Papua menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta Pusat, Senin (15/6) hari ini. Aksi tersebut menuntut agar tujuh tahanan politik Papua dibebaskan tanpa syarat.

Eks Tapol Papua yang juga peserta aksi, Surya Anta Ginting mengatakan, aksi ini digelar guna menuntut keadilan bagi para tahanan politik.

Baca Juga

DPR Bakal Selidiki Tuntutan Ringan Dua Penyerang Novel

Tujuh tahanan tersebut adalah Mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih Ferry Kombo, Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Alex Gobay, Irwanus Urobmabin, Wakil Ketua II Badan Legislatif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni, Ketua KNPB Mimika Steven Itlay, dan Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Agus Kossay.

Surya Anta menilai, tuntutan Jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan beruntun pada 2 sampai 5 Juni 2020 di Pengadilan Negeri Balikpapan merupakan 'pesanan'. Para tahanan politik tersebut dituntut kurungan penjara bervariasi mulai dari 5 sampai 17 tahun dengan pasal makar.

"Kami melihat bahwa ini pesanan. Kami menduga ini pesanan tuntutan terhadap mereka. Kami minta hentikan pesanan secama ini. Saya minta hakim untuk berani menerobos kecepatan pasal makar ini," kata Surya Anta di depan Gedung MA, Senin (15/6).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono melakukan pemeriksaan sel tahanan 6 mahasiswa Papua yang menjadi tersangka atas tuduhan makar di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Jumat (20/9). FOTO/ANTARA
Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono melakukan pemeriksaan sel tahanan 6 mahasiswa Papua yang menjadi tersangka atas tuduhan makar di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Jumat (20/9). FOTO/ANTARA

Surya Anta mencontohkan tuntutan terhadap Buchtar Tabuni. Saat terjadi aksi demostrasi rasisme di Papua, Buchar sedang berada di kebun dan tidak ikut dalam aksi.

Baca Juga

Tim Kuasa Hukum Minta Dua Penyerang Novel Dibebaskan

Surya Anta menilai, pemerintah terkesan mencari-cari alasan untuk menangkap orang dan menjeratnya dengan pasal makar. Situasi semacam itu, lanjut Surya Anta, akan menciderai nilai-nilai demokrasi.

"Misalnya Buchar Tabuni, dia tidak terlibat dalam aksi demonstrasi, dia tetap dikenakan pasal makar dan dia ditangkap di kebunnya sendiri. Saya pikir pemerintah seperti mencari alasan untuk menangkap orang yang kemudian dikenakan pasal makar. Jika ini dibiarkan, demokrasi kita bisa berbahaya," jelasnya.

Dengan putusan tersebut, Surya Anta meminta hakim untuk segera membebaskan Buchtar Tabuni Cs tanpa syarat. Sebab, mereka tengah melawan rasisme, namun malah berakhir dengan pasal makar.

"Ketika ujaran kebencian seperti kata-kata monyet, kemudian dibalas dengan tuntutan JPU seperti itu. Saya minta hakim untuk membebaskan mereka tanpa syarat bahkan keluar dari cara berpikir etika antarlembaga kehakiman, pengadilan, dan juga kejaksaan. Karena kembali pada kebebasan berpendapat harus dilindungi sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia," beber dia.

Untuk diketahui, ketujuh tapol tersebut mendapat tuntutan penjara dengan masa tahanan yang berbeda.

Mantan Ketua BEM Universitas Cendrawasih Ferry Kombo (10 tahun); Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) Alex Gobay (10 tahun); Hengky Hilapok (5 tahun); dan, Irwanus Urobmabin (5 tahun).

Kemudian, Wakil Ketua II Badan Legislatif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Buchtar Tabuni (17 tahun); Ketua KNPB Mimika Steven Itlay (15 tahun); dan, Ketua Umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Agus Kossay (15 tahun).

Jaksa penuntut umum dalam persidangan beruntun pada 2 sampai 5 Juni 2020 di Pengadilan Negeri Balikpapan, menuntut mereka semua dengan 106 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Makar dalam aksi unjuk rasa di Kota Jayapura, Papua pada Agustus 2019 lalu, buntut tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.

Baca Juga

Pengacara Sebut Rahmat Kadir tidak Bermaksud Celakai Novel Baswedan

Ketujuh tapol Papua itu kini dititipkan di Rutan Klas II B Balikpapan, Kalimantan Timur dari Papua dengan alasan keamanan, mereka menjalani proses peradilan dengan berkas yang berbeda satu sama lain di Pengadilan Negeri Balikpapan sejak Januari 2020 lalu. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kemenkeu Sita Rp8,9 Miliar dari Kasus Pencucian Uang Perpajakan di 2020
Indonesia
Kemenkeu Sita Rp8,9 Miliar dari Kasus Pencucian Uang Perpajakan di 2020

Indonesia menjadi satu-satunya negara anggota G20 yang belum masuk ke dalam Financial Action Task Force (FATF).

Tekan Penularan Corona, Pemprov DKI Minta Pimpinan Perusahaan Pekerjakan Pegawainya dari Rumah
Indonesia
Tekan Penularan Corona, Pemprov DKI Minta Pimpinan Perusahaan Pekerjakan Pegawainya dari Rumah

Pasien terinfeksi corona yang meninggal mencapai 19 orang dengan jumlah terbesar berada di DKI, yakni 12 orang.

Editor Metro TV Diduga Tewas Karena Bunuh Diri, Ini Kata Polisi
Indonesia
Editor Metro TV Diduga Tewas Karena Bunuh Diri, Ini Kata Polisi

Polisi hingga kini masih menyelidiki terus kenapa Yodi bisa sampai ditemukan meregang nyawa di pinggiran tol.

Mekanisme Kompolnas Seleksi Calon Kapolri Hingga Jokowi Pilih Listyo
Indonesia
Mekanisme Kompolnas Seleksi Calon Kapolri Hingga Jokowi Pilih Listyo

Dari hasil pendataan ada 14 nama anggota Polri aktif dan kemudian Kompolnas mulai melakukan seleksi.

Dikenakan Pasal Tambahan, Brigjen Prasetijo Segera Disidang Etik
Indonesia
Dikenakan Pasal Tambahan, Brigjen Prasetijo Segera Disidang Etik

Tanggal 20 Juli, kasus tersebut naik penyidikan

Warga Surabaya Gratis, Luar Kota Dikenakan Rp120 Ribu untuk Tes Swab Labkesda
Indonesia
Warga Surabaya Gratis, Luar Kota Dikenakan Rp120 Ribu untuk Tes Swab Labkesda

Fasilitas kesehatan ini sudah diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan pembangunannya pun dipantau terus.

Rencana 50 Ribu Buruh Demo di DPR Tengah Pandemi Corona Tidak Realisitis dan Berbahaya
Indonesia
Rencana 50 Ribu Buruh Demo di DPR Tengah Pandemi Corona Tidak Realisitis dan Berbahaya

"Rencana Said Iqbal menggelar aksi demo pada tanggal 30 April 2020 merupakan langkah yang tidak realistis di tengah kondisi pendemi COVID-19 dan pemberlakuan social distancing

Terinfeksi COVID-19, Menkes Brazil Kembali Masuk RS
Dunia
Terinfeksi COVID-19, Menkes Brazil Kembali Masuk RS

Menteri Kesehatan Brazil Eduardo Pazuello, yang mengidap COVID-19, kembali masuk rumah sakit pada Minggu (1/11) malam.

Peringati Hari Lahir Pancasila, Ormas Tabur Bunga di Makam Pahlawan
Tradisi
Peringati Hari Lahir Pancasila, Ormas Tabur Bunga di Makam Pahlawan

Anggota organisasi masyarakat (ormas) Pemuda Pancasila melakukan tabur bunga untuk memperingati Hari Lahir Pancasila di Taman Makam Pahlawan

Masuk Pesta Nikah Kapolsek Kembangan Tidak Bisa Sembarangan, Pakai Barcode!
Indonesia
Masuk Pesta Nikah Kapolsek Kembangan Tidak Bisa Sembarangan, Pakai Barcode!

Disitu para tamu yang sudah diizinkan masuk juga diminta agar memakai hand sanitizer