Akademisi UGM Perkirakan Mudik Bisa Perpanjang Akhir Masa Pandemi Corona Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dedi Rosadi (Foto: Dok Pribadi)

MerahPutih.Com - Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dedi Rosadi mengatakan kebiasaan mudik saat Lebaran dapat memicu kemunduran akhir pandemi Corona. Ia memprediksi tanpa adanya mudik, kasus Corona akan mereda di akhir Juli 2020.

"Menyebabkan perkiraan laju tambahan jumlah kasus di setiap wilayah akan berbeda-beda yang akan mempengaruhi time line dan nilai akhir total prediksi nasional," kata Dedi Rosadi melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Selasa (28/4).

Baca Juga:

Selama Pagebluk COVID-19, Mahasiswa dan Dosen UGM Dapat 'Duit Pulsa'

Menurut Dedi, fenomena mudik pada Mei 2020 secara masif atau bentuk migrasi lain dari daerah pusat penyebaran, khususnya daerah zona merah sangat berpotensi ditunggangi virus.

Akademisi UGM sebut mudik bisa perpanjang masa pandemi corona
Universitas Gadjah Mada. Foto: ugm.ac.id

Oleh sebab itu, pemerintah sejak 24 April 2020 telah mengeluarkan larangan kegiatan mudik.

Larangan itu, kata dia, sejalan dengan upaya pengendalian risiko wabah yang bila ditaati akan menghambat tumbuhnya klaster-klaster penyebaran baru diseluruh Indonesia.

"Tumbuhnya klaster-klaster baru perlu dicegah agar wabah tidak mundur lebih lama kebelakang yang berakibat akhir wabah di setiap wilayah akan berbeda-beda," kata Dedi.

Selain aktivitas mudik, hal penting lainnya adalah berkaitan usaha untuk mengubah kecepatan penularan melalui pengendalian yang efektif terhadap episentrum penyebaran virus yang telah ada khususnya kelompok provinsi-provinsi zona merah.

"Jika pengendalian tidak berhasil dilakukan maka time-line wabah akan mundur dan jumlah penderita yang lebih besar dari prediksi sementara masih mungkin terjadi," kata dia.

Wakil Ketua DPRD DI Yogyakarta dari PKS
Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana (MP/Teresa Ika)

Sementara itu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendesak Pemda DIY untuk membuat protap dan aksi nyata dalam pencegahan Covid-19. Sejumlah tempat yang berisiko tinggi, mulai ramai didatangi masyarakat.

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengatakan, saat ini kondisi pasar tradisional, mal dan beberapa tempat yang menjadi pusat ekonomi mulai aktif lagi. Desakan ekonomi menjadikan banyak warga beraktivitas, setelah beberapa saat tinggal di dalam rumah.

"Masalah yang muncul, banyak warga yang tidak memperhatikan protokoler kesehatan. Mulai tidak mengenakan masker, tidak menjaga jarak dan tidak mencuci tangan. Pemerintah harus turun tangan, membuat protap untuk penegakan prosedur kesehatan di tempat keramaian,” kata Huda.

Baca Juga:

Begini Alur Validasi dan Penyampaian Data COVID-19 Hingga ke Masyarakat

Politisi PKS ini melihat, seperti ada pembiaran dari pemerintah terkait kondisi yang ada. Minimal, pengelola harus mengingatkan dan mengimbau melalui pengeras suara. Jika perlu petugas juga turun tangan memperingatkan dengan tindakan persuasif.

Pemda juga harus memperhatikan dusun atau pedukuhan yang ditemukan kasus positif atau pasien dalam pengawasan (PDP). Wilayah ini harus diperlakukan secara khusus, dan jangan dibiarkan. “Pemda belum hadir dalam pencegahan Covid-19 di masyarakat,” pungkasnya.(*)

Berita ini ditulis berdasarkan laporan Teresa Ika, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta.

Baca Juga:

Alasan MK Gelar Sidang Uji Materi Perppu COVID-19 Tatap Muka

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
 Erick Thohir: Badan Usaha Milik Negara, Bukan Badan Usaha Milik Nenek Lu
Indonesia
Erick Thohir: Badan Usaha Milik Negara, Bukan Badan Usaha Milik Nenek Lu

Pendiri Mahaka Group ini mengatakan pihaknya telah melakukan kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, dan kejaksaan.

Di Jawa Timur, Penambahan Kasus Corona Jauh lebih Banyak Ketimbang Sembuh
Indonesia
Di Jawa Timur, Penambahan Kasus Corona Jauh lebih Banyak Ketimbang Sembuh

21 provinsi yang melaporkan kasus baru di bawah 10 orang

 Peneliti LIPI Ungkap Masalah Utama Indonesia Bukan Radikalisme Tapi Ketimpangan Ekonomi
Indonesia
Peneliti LIPI Ungkap Masalah Utama Indonesia Bukan Radikalisme Tapi Ketimpangan Ekonomi

Siti Zuhro menekankan pokok persoalan terjadinya gejolak yang terjadi belakangan ini adalah persoalan ketimpangan sosial akibat stagnasi perekonomian global yang serius.

Dewas KPK Tak Temukan Pelanggaran Etik Firli Bahuri
Indonesia
Dewas KPK Tak Temukan Pelanggaran Etik Firli Bahuri

Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) tidak menemukan dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Ketua KPK, Firli Bahuri dan Deputi Penindakan KPK, Karyoto.

Pangeran Albert dari Monako Positif Virus Corona
Indonesia
Pangeran Albert dari Monako Positif Virus Corona

Pangeran Albert II dari Monaco dinyatakan positif mengidap virus corona (COVID-19). Kondisi kesehatannya tidak mengkhawatirkan.

Pasien Sembuh COVID-19 di RS Wisma Atlet 17.457 Orang
Indonesia
Pasien Sembuh COVID-19 di RS Wisma Atlet 17.457 Orang

Perkembangan jumlah pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet tower 6 dan 7 total 1.806 orang, 860 pria, dan 946 perempuan

Bagi-bagi Masker, Pengamat Nilai Polri Cari Panggung di Tengah Wabah Corona
Indonesia
Bagi-bagi Masker, Pengamat Nilai Polri Cari Panggung di Tengah Wabah Corona

Beberapa kegiatan itu adalah bagi-bagi masker yang mengundang artis di tengah jalan atau operasi pasar yang menarik perhatian masyarakat

Soal Natuna, PBNU: Tiongkok Tak Boleh Main-main dengan Kedaulatan NKRI
Indonesia
Soal Natuna, PBNU: Tiongkok Tak Boleh Main-main dengan Kedaulatan NKRI

NU mendesak pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berhenti melakukan tindakan provokatif.

Pasien RS Pelni Keluhkan Massa yang Sambut Rizieq di Jalan Petamburan
Indonesia
Pasien RS Pelni Keluhkan Massa yang Sambut Rizieq di Jalan Petamburan

Sejumlah jamaah pun satu persatu mulai meninggalkan kawasan Petamburan, Jakarta Pusat

Begini Lima Tahap Pemeriksaan Sampel COVID-19 di Labkesda Jabar
Indonesia
Begini Lima Tahap Pemeriksaan Sampel COVID-19 di Labkesda Jabar

Yang sekarang jadi bottle neck itu tahap ekstraksi