Ajip Rosidi, Sastrawan Besar Dunia Asli Indonesia Ajip Rosidi memulai kiprah di dunia sastra sejak usia muda. (foto: Instagram @subhanisme)

DUNIA sastra Indonesia kembali berduka. Belum juga reda hujan di bulan Juli setelah kepergian Sapardi Djoko Damono, kita kehilangan lagi sastrawan besar Indonesia, Ajip Rosidi. Pemrakarsa Penghargaan Sastra Rancage (Sastra Daerah) tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (29/7) di usia 82 tahun.

Jika mayoritas sastrawan besar memulai karier di usia matang, Ajip memulainya sejak usia belia. Di saat teman sebayanya asyik bermain, Ajip kecil justru senang membaca sejumlah buku baik dalam bahasa Sunda atau yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

BACA JUGA:

Sastrawan 'Hujan Bulan Juni' Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

Karya-karya yang ia baca menuntunnya menghasilkan puisi dan cerita pendek (cerpen). Di usia 12 tahun, cerpen pertamanya diterbitkan Indonesia Raya di bagian anak-anak. Memasuki usia 15 tahun, karyanya dimuat di majalah lokal seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Gelanggang hingga Keboedajaan Indonesia.

Kala itu, ia mendapatkan honor sebesar Rp25 hingga Rp125. Upah yang cukup besar di masa itu. Meskipun Ajip masih muda, jam terbang yang tinggi dalam dunia sastra membuatnya dipercaya sebagai redaktur majalah Prosa saat menginjak usia 17 tahun.

Begitu yakin ia akan panggilan jiwa sebagai sastrawan, ia berani memutuskan untuk berhenti sekolah di usia 17 tahun. Langkah tersebut ia ambil agar lebih fokus untuk menulis. Keberanian tersebut berhasil ia pertanggungjawabkan. Satu per satu karya sastra baik dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sunda ia hasilkan.

Ajip rosidi
Ajip Rosidi (kanan) dalam acara pemberian hadiah Sastra Rancage 2020 beberapa waktu lalu. (ANTARA/HO-Dok. Keluarga)

Karya pertamanya, Tahun-Tahun Kematian, dipublikasikan pada 1955. Setahun berikutnya, dua karya sekaligus dihasilkan olehnya. Kedua karya tersebut yakni kumpulan puisi Pesta yang diterbitkan Penerbit Gunung Agung, sedangkan kumpulan cerpen Di Tengah Keluarga diterbitkan oleh Penerbit Pembangunan.

Kumpulan puisi berjudul Pesta memperoleh penghargaan Hadiah Sastra Nasional BMKN di tahun 1956. Selain itu, kumpulan cerpennya yang berjudul Sebuah Rumah buat Hari Tua juga mendapat penghargaan yang sama di tahun 1957.

Apresiasi besar bukan hanya dilihat dari penghargaan yang didapat dari Indonesia tetapi juga dari bangsa asing Karya-karya Rosidi telah diterjemahkan ke banyak bahasa asing, diterbitkan dalam antologi atau sebagai buku dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, hingga Jepang.

Tak puas berkecimpung dalam dunia seni dan penerbitan di Indonesia, Rosidi merantau ke Jepang di tahun 1980an. Menurut informasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, selama di Jepang ia didapuk sebagai guru besar tamu di Osaka Gaikokuho Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), Kyoto Sangyo Daigaku (Universitas Industri Kyoto), Tenri Daigaku (Universitas Tenri) dan Osaka Gaidai (Universitas Osaka untuk Studi Asing).

Dedikasinya yang luar biasa dalam dunia sastra membuat satu persatu penghargaan bergengsi, baik dari dalam maupun luar negeri jatuh ke tangan pria yang menikahi teman lamanya sekaligus aktris terkenal, Nani Wijaya.

Penghargaan Nasional yang pernah diraihnya misalnya Hadiah Sastra Nasional di tahun 1957, Hadiah Sastra Nasional di tahun 1974, Hadiah Seni di tahun 1993, dan Penghargaan 10 Putra Sunda Terbaik di tahun 1994.

Sementara penghargaan mancanegara yang pernah diraihnya yakni Cultural Award dari Australia di 1974, Penghargaan Order of the Sacred Treasure dan Gold Rays with Neck Ribbin Jepang dibtahun 1999, penghargaan Mastera dari Brunei di 2003 dan Teeuw Award dari Belanda di 2004.(Avia)

BACA JUGA:

Hadiah Sastra Rancage, Warisan Ajip Rosidi Rawat Sastra Daerah dari Kocek Sendiri

Kredit : iftinavia

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH