AJI Desak Polisi Usut Kasus Doxing, Intimidasi dan Teror Jurnalis Detik.com ILUSTRASI. Para jurnalis mendesak polisi mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dilakukan belasan orang terhadap wartawan iNews TV. Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi

MerahPutih.com - Kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan kembali dialami jurnalis setelah menulis berita terkait kegiatan Presiden Joko Widodo di Bekasi, Selasa (26/5).

Korban adalah seorang jurnalis Detikcom berinisial IS yang diduga mengalami intimidasi, doxing, teror, bahkan diancam akan dibunuh.

Baca Juga

Kaum Buruh Bingung dengan Wacana 'New Normal' Jokowi

Ketua Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Erick Tanjung mengatakan, kasus ini bermula ketika jurnalis Detikcom menulis berita tentang rencana Jokowi akan membuka mal di Bekasi di tengah pandemi COVID-19.

Informasi itu berdasarkan pernyataan Kasubbag Publikasi Eksternal Humas Setda Kota Bekasi. Namun, pernyataan Kasubbag itu kemudian diluruskan oleh Kabag Humas Pemkot Bekasi, yang menyebut bahwa Jokowi hanya meninjau sarana publik di Kota Bekasi dalam rangka persiapan new normal setelah PSBB.

"Klarifikasi itu pun telah dipublikasi Detikcom dalam bentuk artikel," kata Erick dalam keteranganya, Kamis (28/5).

Erick mengatakan, kekerasan terhadap penulis berita tersebut dimulai di media sosial. Nama penulis yang tercantum di dalam berita pun menyebar di internet, dari Facebook hingga Youtube.

Logo AJI
Logo AJI

Salah satu akun yang menyebarkan adalah Salman Faris. Dia mengunggah beberapa screenshot jejak digital penulis untuk mencari-cari kesalahannya, meskipun isinya tak terkait berita yang dipersoalkan.

"Selain itu, Situs Seword juga melakukan hal serupa dan menyebarkan opini yang menyerang penulis dan media," jelas Erick.

Cara ini dikenal sebagai doxing, yaitu upaya mencari dan menyebarluaskan informasi pribadi seseorang di internet untuk tujuan menyerang dan melemahkan seseorang atau persekusi online.

"Doxing adalah salah satu ancaman dalam kebebasan pers," ungkap Erick.

Selain doxing, jurnalis itu juga mengalami intimidasi lantaran diserbu pengemudi ojol yang membawa makanan kepadanya. Padahal, kenyataannya tak memesan makanan melalui aplikasi.

"Bahkan jurnalis tersebut juga diduga menerima ancaman pembunuhan dari orang tak dikenal melalui pesan WhatsApp," tambah Erick.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menilai di tengah upaya Jokowi menggencarkan persiapan new normal, pemberitaan yang tak sepaham dengan narasi pemerintah tampaknya menjadi sasaran penyerangan.

"Hal ini jelas mencederai kemerdekaan pers dan bertentangan dengan amanat Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers,"imbuh Erick.

Erick mendesak aparat kepolisian segera mengusut dugaan pelanggaran pidana doxing, kekerasan, maupun ancaman pembunuhan terhadap jurnalis, hingga pelakunya diadili di pengadilan.

Sementara, ia juga mememinta pemimpin redaksi untuk menjamin keselamatan jurnalis dan keluarganya yang terancam karena pemberitaan.

"Mendesak Dewan Pers untuk terlibat aktif menyelesaikan kasus kekerasan terhadap jurnalis," terang Erick.

Baca Juga

Wacana New Normal Jangan Jadi Kedok Pemerintah tak Mampu Tangani Corona

Ia juga menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk ikut menjaga dan mengembangkan kemerdekaan pers.

"Jika ada sengketa pemberitaan, silahkan diselesaikan dengan cara yang beradab, yaitu meminta hak jawab atau melapor ke Dewan Pers," tutup Erick. (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH