Ajak Pasang Foto Anies dan Turunkan Foto Jokowi di Kelas, Guru SMA ini Ditangkap Seorang guru SMA di Jakarta Utara ditangkap lantaran mengajak menurunkan foto Presiden Jokowi diganti foto Anies (Foto: Humas Polres Metro Jakarta Utara)

MerahPutih.Com - Polisi menangkap seorang guru SMA di Jakarta terkait ujaran kebencian di media sosial. Pelaku yang diketahui bernama Asteria Fitriani diancam enam tahun penjara lantaran mengajak menurunkan foto Presiden Jokowi di kelas untuk digantikan foto Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto menerangkan bahwa berawal dari postingan tersangka Asteria Fitriani yang mengandung ujaran kebencian (SARA) di akun Facebook.

Adapun konten ujaran kebencian tersebut sebagai berikut:

“Kalo boleh usul…di sekolah2 tidak usah lagi memajang foto presiden & wakil Presiden …turunin aj foto2nya…”
“Kita srbagai guru ngga mau kan mengajarkan anak2 kita tunduk, mengikuti dan membiarkan kecurangan dan ketidakadilan?”
“Cukup pajang foto GOODBENER kita aja…
“GUBERNUR INDONESIA ANIES BASWEDAN…” Jum’at (28/6/2019) sekira pukul 06.30 Wib di Kel.Lagoa Kec.Koja Jakarta Utara ( Rumah Tersangka ).”

“Postingan tersebut sempat viral serta membuat onaran di kalangan masyarakat dan menuai komentar atau tanggapan negatif dari lapisan masyarakat yang menganggap postingan tersebut sangat tidak pantas dilakukan,” tutur Budhi, di Halaman Polres Jakarta Utara, Kamis (11/7).

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto (Foto: Humas Polres Metro Jakarta Utara)

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan berupa screen capture postingan tersangka, handphone tersangka, email aktivasi FB tersangka, akun FB dengan nama Asteria Fitriani serta surat pernyataan tersangka saat klarifikasi di SMPN 30 Jakarta Utara.

Asteria dianggap menyebar ujaran kebencian, menyiarkan berita bohong yang dapat menimbulkan keonaran untuk menghasut supaya tidak menurut peraturan perundang-undangan dan menghina sesuatu kekuasaan yang ada di Indonesia.

"Kita meminta keterangan para ahli, baik itu ahli ITE, ahli bahasa, ataupun ahli pidana bahwa postingan yang disampaikan itu masuk dalam kategori tersebut," ujarnya.

Menurut Budhi, penangkapan dilakukan berdasarkan keterangan ahli ITE, ahli bahasa, hingga ahli pidana. Hasilnya, unggahan status tersebut dianggap masuk kategori berita bohong, hingga ujaran kebencian.

“Bahwa postingan yang disampaikan itu masuk kategori menyiarkan berita bohong yang dapat menyebabkan keonaran, atau menyebarkan ujaran kebencian, atau menghasut,” terangnya.

“Karena ancaman hukumannya di atas 5 tahun, maka tersangka dapat dilakukan penahanan. Ini sudah 1x24 jam, sudah masuk penahanan,” beber dia.

Saat ditanya, Asteria mengaku membuat posting seperti demikian karena ia terbawa emosi pasca-Pemilu 2019.

"Yang bersangkutan terpengaruh dengan lingkungan sekitar, terutama kondisi pasca-Pemilu, dia masih terbawa emosi, sehingga belum bisa menahan dirinya sehingga melakukan posting-an tersebut," kata Budhi.

Budhi menjelaskan kiriman Facebook tersebut diunggah Asteria pada 28 Juni 2019 di rumahnya di Lagoa, Koja, Jakarta Utara.

Kemudian kiriman itu diabadikan oleh salah seorang warganet melalui tangkapan layar dan viral di berbagai media sosial.

Lalu pada 1 Juli 2019, salah seorang warga melaporkan Asteria ke Polres Metro Jakarta Utara karena dianggap menyebarkan ujaran kebencian. Polisi lantas menyelidiki kasus tersebut dan Asteria dianggap melakukan pelanggaran pidana baik UU ITE dan UU hukum pidana.

Pada Selasa (9/7) Polisi melakukan penangkapan terhadap Asteria.

BACA JUGA: Kesal Divonis Bersalah, Ratna Sarumpaet Sebut Hukum Indonesia Buruk

Hakim: Ratna Sarumpaet Harus Sadar Hoaks yang Disebarnya Bisa Pecah Belah Masyarakat

Atas perbuatannya, Asteria diancam pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 a ayat 2 Undang-Undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE jo pasal 14 ayat 1 atau ayat 2, atau pasal 15 UU RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

"Ia juga dikenakan pasal 160 KUHP atau pasal 207 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 Miliar," pungkas Budhi.(Knu)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH