Ajak Anak ke Gunung, 'Double' Bawaannya Gavin, usia tiga tahun sudah sampai ke puncak Gunung Rinjani. (Foto: dok.pribadi)

DIAH ibu satu anak dari zaman masih gadis sangat menyukai kegiatan luar ruang. Ketika menikah kegiatan ini sempat terhenti. Namun bukan berarti melupakan kesukaannya dengan alam. Tentunya hal ini ingin ia tularkan kepada anaknya yang bernama Gavin. Bukan hanya untuk lebih dekat dengan alam, ia ingin memberikan nilai lebih pada anaknya.

“Saya hanya ingin memberikan pembelajaran untuk Gavin. Supaya dia kenal, paham dan peduli dengan alam. Membina sikap supaya Gavin peduli dengan orang-orang yang dia temui di gunung. Membina fisik dan mental agar tahan banting dan jadi berani. Juga melatih kesabaran Gavin,” ungkap Diah.

Tentunya sebagai seorang ibu Diah mengerti kebutuhan anaknya yang pertama kali diajak ke Taman Nasional Gunung Rinjani ketika berusia tiga tahun. Kebutuhan anak balita sangat jauh berbeda dengan orang atau pendaki gunung pada umumnya.

Packing dan bawaan pasti double untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama perjalanan di hutan kayak kena hujan,” jelas Diah lagi.

gavin
Diah dan Gavin di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (Foto; dok.pribadi)

Untuk seorang pendaki saja sudah banyak yang harus dibawa kalau naik gunung. Ditambah lagi dengan kebutuhan anaknya yang harus dibawa juga. Tidak mungkin anak seusia Gavin harus membawa kebutuhannya sendiri. Untungnya pertemanan antar pendaki gunung sangat solid. Saling tolong-menolong adalah hal yang biasa. Diah bersyukur banyak teman-teman sesama pendaki gunung yang membantunya. Malahan ia mengatakan kalau tidak merasa ada beban selama melakukan pendakian.

“Logistik untuk Gavin memang berbeda dengan orang lain. Yang dibawa berupa makanan dan minuman yang bergizi, makanan favorit Gavin, susu uht dan obat-obatan. Kemudian perlengkapan lapangan yang safety kayak jaket khusus gunung, sepatu, kaus kaki, celana khusus gunung, sleeping bag, jas hujan dan head lamp khusus anak. Saya juga enggak lupa bawa beberapa mainan favoritnya dia,” kata Diah menjabarkan.

Baca juga: Hiking Bersama Anak? Kenapa Enggak?

gavin
Harus mempersiapkan kebutuhan anak. (Foto: dok.pribadi)

Proses perjalanan pun bukan hal yang mudah bagi seorang pendaki, apalagi ini ditambah dengan anak. Namun bagi Diah bukan hal yang berat, Tinggal bagaimana mempersiapkan diri sebelum melakukan pendakian. Diah melengkapi dirinya dengan baby carrier set jika Gavin merasa kelelahan berjalan. Ibu ini juga tidak melarang anaknya berjalan sendiri sejauh rute yang ditempuh masih aman.

“Tidur pulas selama di perjalanan kalau digendong/ atau saat istirahat di perjalanan,”kata Diah.

Menurut Diah, sewaktu mengajak anaknya pertama kali mendaki gunung, tidak ada unsur pemaksaan sama sekali. Ia hanya membuka mata anaknya bahwa ada dunia di luar sana selain keseharian di rumah.

Baca artikel lainnya: Perhatikan Hal Ini Sebelum Mengajak Anak untuk Traveling

gavin
Kegiatan yang membuat anak lebih berani. (Foto: dok.pribadi)

“Tapi pada kenyataannya Gavin (jadi) ketagihan mendaki gunung,” kata Diah sambil tertawa.

Diah sudah mengajak anaknya naik gunung sejak usia tiga tahun, pertama kali ke Taman Nasional Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat. Kemudian umur 4 tahun ke Gunung Prau (Dieng Wonosobo) dan pada usia 5 tahun ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (psr)

Artikel lainnya: Trik Jitu untuk Menghindari dan Mengatasi Tantrum Anak Selama Liburan

Kredit : paksi


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH