Agenda Reformasi 98 Dibajak Mafia Pemilik Modal Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa di Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta, Rabu (20/5). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/Rei/Spt/15.

Merah Putih Nasional - Aktivis pergerakan 1998 yang dahulu tergabung dalam Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta Ubedilah Badrun mengaku kecewa dengan 17 tahun perjalanan reformasi di tanah air.

Kepada merahputih.com, analis politik yang akrab disapa Ubed itu menilai reformasi telah dibajak oleh kekuatan dan kelompok pemilik modal.

"Agenda reformasi dibajak mafia pemilik modal," kata Ubed, Rabu (20/5).

Ubed yang juga analis politik asal Puspol Indonesia menambahkan Demokrasi hanya sebagai alat bagi oligarki. Hal tersebut diperkuat sejak jatuhnya rezim Suharto hingga pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla sistem politik Indonesia tidak mampu melahirkan pemerintahan yang efektif.

Bahkan ketika demokrasi semakin liberalistik digelar sejak tahun 2004 melalui pemilu legislatif dan dengan sistem proporsional daftar terbuka serta pemilu presiden secara langsung hanya menghasilkan anggota DPR yang tidak berkualitas dan tidak mampu menghasilkan pemerintahan yang efektif alias hanya bisa melahirkan rezim yang bertahan dan memelihara oligarki mafia.

"Pemilu dijadikan sebagai arena kontestasi subyektif sekaligus arena transaksional yang membelah dan merusak watak rakyat," sambung Ubed.

Ubed yang juga aktivis HMI MPO menambahkan ongkos politik yang besar memicu korupsi politik yang meluas. Kapabilitas sistem politik berada pada posisi kapabilitas yang rendah karena tak kunjung menghadirkan arah kesejahteraan rakyat yang seharusnya makin terang.

"Oligarki politik justru yang tumbuh subur, kelompok elit politik berkuasa lebih tetlihat berlomba lomba untuk mencapai tujuan pragmatisnya," tandas Ubed. (bhd)

BACA JUGA:

Astaga, Aksi Demo 20 Mei di Depan Istana Ada Coffee Break dan Pembagian Doorprize 

Dijamu Makan Malam, Aktivis BEM Batal Demo Jokowi 

Demonstrasi BEM Gulingkan Jokowi Ditunda

 

 



Bahaudin Marcopolo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH