Agama dan Kesempurnaan Seni dalam Pertunjukan Randai Sekelompok orang sedang mementaskan Randai. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra)
"Adat basandi syarak
Syarak basandi kitabullah
---------------------------------
Syarak mangato adat mamakai"

HANYA pepatah di ataslah yang bisa menggambarkan betapa beragama dan beradatnya masyarakat Minangkabau. Tak hanya dikenal dengan adat yang sangat kental dengan ajaran Islam saja, ranah Minang (Tanah Minangkabau) juga memiliki budaya yang sangat kaya.

Di bidang seni Minangkabau memiliki 'Randai'. Kesenian yang satu ini sangat kaya akan karya seni di dalamnya. Ada sastra, tari, bela diri, suara, musik, hingga unsur agama yang tak lepas dari ciri khas orang Minang.

Sejumlah orang sedang memperagakan seni Randai di lapangan terbuka. (Foto/Baralek.blogspot)
Sejumlah orang sedang memperagakan seni Randai di lapangan terbuka. (Foto/Baralek.blogspot)

Perbedaan Pandangan tentang Randai

Berbeda dari kesenian Minang lainnya, Randai sangat sukar diartikan oleh masyarakat Minangkabau mau pun Sastrawan. Akibatnya membuat perbedaan penafsiran penamaan di kalangan masyarakat dan juga sastrawan.

Ada beberapa pendapat yang tumbuh dewasa di masyarakat Minangkabau tentang pengertian Randai. Di antaranya pendapat Chairul Harun dalam bukunya berjudul "Kesenian Randai di Minangkabau".

Ia menulis bahwa Randai berasal dari kata andai atau handai. Keduanya mempunyai arti berbicara dengan intim menggunakan ibarat, kias, pantun, serta petatah dan petitih.

Penutur dialog dalam pertunjukan Randai pada pemain-pemainnya mengambil pengandaian atau perumpamaan kepada cerminan kehidupan dalam masyarakat.

Selain itu, pendapat lain menyatakan bahwa Randai berasal dari kata rantai. Ini lebih pada melihat formasi pemain yang terbentuk dalam pertunjukannya.

Waktu penampilan Randai pemain-pemainnya selalu dalam posisi melingkar bagaikan merantai. Satu sama lain saling berhubungan atau terkait dalam melakukan gerakan-gerakan. Anggapan itu ada dalam Ungkapan Beberapa Kesenian: Teater, Wayang, dan Tari oleh Direktorat Kesenian, Proyek Pengembangan Kesenian.

Randai dalam Kesepakatan

Selain dua perbedaan di atas, masih banyak penafsiran lainnya oleh sastrawan tentang nama Randai. Namun, para sastrawan atau pakar di bidangnya sepakat tentang konsep pengembangan Randai pada bagian pengembangan kualitas.

Para pakar Randai telah menyepakati bahwa Randai yang berbentuk teater rakyat Minangkabau mempunyai unsur pokok yaitu; cerita, dialog/akting, gurindam, dan galombangan. Keempat unsur pokok tersebut boleh dikembangankan, tetapi tidak boleh ditiadakan.

Salah satu saja diantara unsur pokok tersebut ditiadakan, maka akan lahir kesenian yang tak dapat dikatakan kesenian Randai lagi.

Sehubungan dengan pendapat ini, maka konsep atau gagasan untuk pengembangan Randai, bisa dilakukan dari pengembangan unsur pokoknya. Termasuk pengembangan unsur pendukung lainnya.

Sekelompok orang sedang mementaskan Randai. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra)
Sekelompok orang sedang mementaskan Randai. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra)

Unsur-Unsur dan Nilai

Seperti yang telah disebutkan di atas, Randai memiliki banyak unsur seni hingga unsur agama, khususnya Islam. Konsultan Kreatif Sastra Kalimalang, Irman Syah mengatakan, ada banyak unsur yang terkandung dalam kesenian Randai ini. Mulai dari tari, sastra, musik, silat, dendang atau gurindam hingga pesan agamanya.

"Tidak ada kesenian di Indonesia yang lebih kaya (dalam hal unsur) dari Randai yang dimiliki masyarakat Minangkabau," katanya saat ditemui merahputih.com di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (17/4).

Irman atau yang akrab dipanggil Mpu Gondrong Sae merinci satu persatu unsur dan nilai yang terkandung dalam Randai. Unsur musik, katanya, di dalam Randai ada alat musik wajib yakni Saluang dan Bansi.

"Bunyi Bansi melambangkan perjalanan seseorang, sedangkan Saluang tentang kesedihan. Selain kesederhanaan dua alat musik tersebut, pemain Randai juga bisa bermusik dengan tepuk tangan dan memukul bagian tengah bawah celana atau yang dikenal dengan nama 'galembong',. Itu nilai dari kesederhanaan tak menghambat kreativitas" katanya sembari memperagakan gerakan tersebut.

Konsultan Kreatif Sastra Kalimalang, Irman Syah. (Foto/facebook.com/penyairi)
Konsultan Kreatif Sastra Kalimalang, Irman Syah. (Foto/facebook.com/penyairi)

Selanjutnya, seni tari dan gerakan bela diri yang terkandung dalam randai memiliki nilai bahwa setiap orang harus tegas, jujur dan teliti.

"Gerakan yang terkandung dalam randai ini mengajarkan kita untuk jujur, teliti, dan tegas. Hal ini merujuk kepada gerakan yang tegas tanpa ragu dan gerakan pasti dalam permainan randai," katanya.

Tentang nilai yang terkandung dalam dendang atau gurindam, Irmansyah mengatakan hal inilah yang membentuk orang Minang sesungguhnya. Dari kebiasaan berdendang dengan petatah petitih ini yang membuat masyarakat Minang sangat mahir berkias.

Selanjutnya, Irman Syah mengatakan bahwa nilai agama hampir terkandung dalam setiap unsur yang ada dalam pertunjukan randai.

"Misalkan dalam unsur tari dan silat. Dalam pertunjukannya mereka menari memutar ke arah kiri, sama persis dengan tawaf pada saat haji atau umrah. Selain itu juga petatah petitih saat pembukaan yang berdoa kepada Allah SWT," katanya.

Tak hanya itu, lanjutnya, penampilan Randai juga dilakukan pada saat tertentu dengan tujuan tertentu. "Misalkan sedang musim panen, masyarakat menggelar Randai sebagai cara mereka bersyukur kepada Tuhan," katanya. (Zai)

Baca juga berita terkait di: Sawahlunto Gelar Festival Randai Bulan Maret

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH