Image
Author by : ANTARA FOTO

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Madura adalah mahakarya keris yang dibuat di desa Aeng Tong Tong di Sumenep. Di tempat inilah penduduk satu desa membuat keris berkualitas dan hampir keseluruhan penduduk desa Aeng Tong Tong menjadi empu pembuat keris. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Desa Aeng Tong Tong, Sumenep, Madura masih mempertahankan budaya sejak zaman Kerajaan Sumenep pada 236 tahun silam, dahulu para raja Madura mempercayakan pembuatan keris dan senjata untuk prajurit dari desa tersebut. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Bunyi keras denting logam yang ditempa, suara besi yang sedang di gerinda, terdengar membahana di setiap sudut desa. Untuk membuat sebilah keris ukuran standar dibutuhkan setengah kilogram hingga satu kilogram besi. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Dengan jumlah perajin keris lebih dari 600 orang menjadikan desa Aeng Tong Tong, Sumenep, Madura bisa disebut menjadi sentra pembuatan keris terbesar di Indonesia. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Namun seiring berkembangnya waktu, pembuatan keris yang semula hanya berdasarkan pesanan untuk keris pusaka dan senjata sekarang tengah berkembang pada pembuatan keris hias dan untuk souvenir yang dipasarkan hingga ke penjuru dunia. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Keris dari Aeng Tong Tong sangat diminati kolektor dari negara-negara dari Asia Tenggara. Para kolektor mau terus membeli keris dari daerah tersebut karena motifnya selalu unik dan menarik. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Untuk pembuatan keris pusaka, pembuatannya dilakukan dengan syarat dan ritual khusus. Pembuatannya membutuhkan beberapa tahapan seperti mencari waktu yang tepat sesuai perhitungan dari calon pemilik dan diperlukan waktu satu hingga lima tahun, agar pusaka tersebut selaras dengan pemiliknya. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Image
Author by : ANTARA FOTO

Para empu mengarak keris pusaka Keraton Sumenep dan Aeng Tong Tong usai dijamas ke sejumlah makam leluhur desa setempat di Sumenep, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Saiful Bahri