Adu Keras Pemuda Radikal Versus Sukarno-Hatta Bung Karno dan Sjharir. (Foto: Wikimedia)

GEDUNG bekas Hotel Schomper I, Jalan Menteng 31, tampak padat pemuda radikal, 14 Agustus 1945. Di sana tampak Sutan Sjahrir, Chairul Saleh, Sukarni, dan Suhud berdiskusi keras merespons kekosongan kekuasaan setelah Jepang takluk di tangan Sekutu.

Dari hasil diskusi, Pemuda Menteng 31 bersepakat mendesak Bung Karno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Di lain tempat, 'golongan tua' seperti Bung Hatta, Dr Samsi, dan Buntaran segendangsepenarian dengan para pemuda. Mereka ingin segera merdeka. "Hanya saja mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat," tulis Marwati Djoened Poesponegoro dalam Sejarah Nasional Indonesia V.

Golonga tua, tulis Djoened, menginginkan agar kemerdekaan dilakukan lewat revolusi secara terorganisasi. Bung Karno dan Hatta pun lantas membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Dengan cara itu, menurut golongan tua, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. "Sikap ini tidak disetujui golongan pemuda. Mereka menganggap PPKI badan buatan Jepang." tulis Djoened.

Baca Juga: Fakta Unik Selama Perjalanan Sukarno-Hatta Menuju Rengasdengklok

Mendesak Sukarno-Hatta

SUKARNO
Bung Karno dan beberapa tokoh sedang berbincang. (Foto: Wikimedia)

Keesokan harinya, Rabu, 15 Agustus 1945, golongan muda kembali menyambangi rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta. Di hadapan Bung Karno, Sutan Sjahrir dan para pemuda lainnya bersikeras agar kedua tokoh tersebut segera memproklamasikan kemerdekaan.

"Saya berharap Bung tidak akan mengadakan rapat dengan anggota PPKI, karena yang saya takutkan nanti Jepang malah mengetahui rencana ini, Bung. Kita tahu PPKI memang dibentuk oleh Jepang," kata Sjahrir seperti ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Meski terus didesak, Bung Karno tetap bergeming. Ia enggan mengamini permintaan para pemuda. "Kita tidak bisa begitu saja memproklamasikan kemerdekaan," kata Bung Karno.

Keadaan semakin tegang. Para pemuda diwakili Sutan Sjahrir berdebat keras dengan Dwi Tunggal, Sukarno-Hatta.

Meminta Waktu

Hatta
Bung Hatta. (Foto: Wikimedia)

Setelah berulang kali didesak para pemuda, Bung Karno akhirnya luluh. Ia meminta waktu untuk sekadar berunding dengan para tokoh lainnya. Sjahrir dkk mempersilakan golongan tua berunding.

Sukarno pun berunding dengan Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tak lama berselang, gantian Bung Hatta menghampiri para pemuda.

Di hadapan mereka, Hatta menyampaikan hasil pertemuan tokoh-tokoh senior secara tegas menolak usul para pemuda dengan alasan kurang perhitungan dan kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta.

Mendengar penjelasan tersebut, para pemuda tampak tidak puas.

Meski begitu, mereka tak ingin harapan tinggal kenangan. Sebuah siasat pun dirancang: menculik Sukarno-Hatta. (*)

Baca Juga: Merancang Proklamasi di Rumah Petinggi Militer Jepang



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH