Ada Salah Paham Soal Konsep Ketuhanan, Bamusi: Justru Dijadikan Alat Memecah Belah Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Zuhairi Misrawi. (ANTARA/HO-Dok Pribadi)

Merahputih.com - Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Zuhairi Misrawi menyatakan ada kesalahpahaman yang sedang terjadi dengan konsep ketuhanan yang berkebudayaan dengan menuding menghapus sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada Pancasila.

"Ironisnya, soal ketuhanan ini justru dijadikan alat untuk memecah belah," kata Zuhairi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (8/7).

Hal itu disampaikan menanggapi masifnya pernyataan sejumlah pihak di media massa maupun media sosial belakangan ini.

Baca Juga:

Pembakaran Bendera PDIP Picu Konflik Anak Buah Megawati dengan PA 212

Menurut politikus PDI Perjuangan ini, mereka berupaya secara sistematis, masif, dan terstruktur menyebarluaskan informasi yang menyesatkan dan menebarkan fitnah terhadap khazanah pemikiran Bung Karno.

"Mereka ingin mengaburkan pemikiran dan jasa Bung Karno dalam menggali Pancasila. Padahal, Bung Karno dalam Pidato Pancasila 1 Juni 1945 menegaskan pentingnya Ketuhanan Yang Maha Esa," kata pria yang biasa disapa Gus Mis ini.

Untuk memahami ketuhanan yang berkebudayaan, dia menjelaskan bahwa Bung Karno menyatakan bangsa Indonesia bukan saja bertuhan, melainkan masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhannya sendiri.

Bung Karno juga menyatakan, "Yang Muslim bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad saw. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al-Masih. Yang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada pada mereka, dan begitu seterusnya agama-agama yang lain."

"Marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia adalah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa," kata Bung Karno yang dikutip Gus Mis.

Gedung Sekretariat Bamusi di Jakarta
Sekretariat Bamusi di Jakarta (Foto: pdiperjuangan.org.id)

Dengan pernyataan itu, lanjut Gus Mis, Bung Karno hendak menegaskan bahwa Indonesia bukan negara sekuler dan tidak akan pernah menjadi negara sekuler karena dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, hakikatnya setiap warga bertuhan.

"Karena bertuhan, kita sejatinya mempunyai budi pekerti yang luhur, saling menghormati, saling menghargai, tidak egois, dan tidak pula fanatik. Cara bertuhan yang seperti itu, menurut Bung Karno disebut ketuhanan yang berkebudayaan," katanya menegaskan.

Dalam konteks itu pula, lanjut budayawan Nahdatul Ulama (NU) itu, umat Islam harus menjadi penggerak kemajuan dengan terus membangun harmoni di antara sesama, menumbuhkan cinta Tanah Air, dan mengejar ketertinggalan dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan.

"Apa yang ditunjukkan oleh NU dan Muhammadiyah dalam mendorong harmoni, memperkuat solidaritas kebangsaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan selaras dengan cita-cita dan mimpi Bung Karno," ungkap dia.

Baca Juga:

Ini Kekhawatiran Polisi Soal PA 212 Cs Gelar Apel Siaga "Ganyang Komunis"

Oleh karena itu, dia menyayangkan jika belakangan ini ekspresi keagamaan di ruang publik hanya dijadikan sebagai instrumen politik yang memecah belah tali kebangsaan yang selama ini solid dan kukuh.

"Ada pihak-pihak yang secara sengaja hendak menggunakan agama sebagai alat politik yang memecah belah dengan cara mengembuskan fitnah dan provokasi yang tidak bertanggung jawab. Ini tentunya sangat disayangkan karena sangat jauh dari esensi Ketuhanan Yang Mah Esa," kata lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir itu. (*)

Tag
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Muhammadiyah Sebut Pasien COVID-19 dan Tenaga Medis Tidak Wajib Puasa
Indonesia
Muhammadiyah Sebut Pasien COVID-19 dan Tenaga Medis Tidak Wajib Puasa

Pengurus Pusat Muhammadiyah menyebut pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19, termasuk bagi yang tidak bergejala atau Orang Tanpa Gejala (OTG) tidak wajib menunaikan puasa.

Rocky Gerung: Moeldoko Enggak Mengkudeta Demokrat
Indonesia
Rocky Gerung: Moeldoko Enggak Mengkudeta Demokrat

Artinya seluruh dunia menganggap Indonesia sudah dalam gerak menuju otoritarianism

Fakta Baru dari CDC Tiongkok: Bir Tidak Kebal COVID-19
Dunia
Fakta Baru dari CDC Tiongkok: Bir Tidak Kebal COVID-19

Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Kota Tinjin, Tiongkok

Satgas Pamtas RI-Malaysia Diminta Bersinergi Tingkatkan Keamanan
Indonesia
Satgas Pamtas RI-Malaysia Diminta Bersinergi Tingkatkan Keamanan

LaNyalla menilai wilayah perbatasan sangat rentan

PDIP Kembali Umumkan 75 Jagoan di Pilkada 2020
Indonesia
PDIP Kembali Umumkan 75 Jagoan di Pilkada 2020

Direncanakan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP bidang politik Puan Maharani akan mengumumkan langsung.

Hati-Hati Begal Motor Beralih ke Sepeda, Ikuti Tips Aman Gowes dari Polisi
Indonesia
Hati-Hati Begal Motor Beralih ke Sepeda, Ikuti Tips Aman Gowes dari Polisi

Harga sepeda yang kini sudah setara motor bahkan mobil kini memancing pelaku kejahatan

Tidak Mudik, Presiden Jokowi: Memang Berat Tapi Keselamatan Sanak Saudara Lebih Penting
Indonesia
Tidak Mudik, Presiden Jokowi: Memang Berat Tapi Keselamatan Sanak Saudara Lebih Penting

"Saya yakin, bersama-sama kita bangsa Indonesia akan mampu melewati ujian berat ini," pungkasnya

Anak Mantu Jokowi Ikut Bertarung, Sorotan Media ke Pilkada Solo dan Medan
Indonesia
Anak Mantu Jokowi Ikut Bertarung, Sorotan Media ke Pilkada Solo dan Medan

Ramainya pemberitaan menyangkut pilkada di Surakarta dan Medan juga menunjukkan adanya atensi masyarakat dari berbagai wilayah tersebut,

Bandara Aminggaru Ilaga Kembali Beroperasi Normal
Indonesia
Bandara Aminggaru Ilaga Kembali Beroperasi Normal

Operasional Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua kembali normal, Rabu (28/4). Bandara

BTN Telah Salurkan Rp317 Triliun Untuk KPR
KPR
BTN Telah Salurkan Rp317 Triliun Untuk KPR

Dari keseluruhan pembiayaan KPR, sebanyak 76 persen mengalir ke segmen KPR subsidi