Ada Apa dengan Keong Sawah? Yuk Cari Tahu Kandungan Nutrisinya Keong sawah bisa jadi alternatif sumber protein. (foto: pinterest)

NAMA keong sawah mendadak tenar dan ramai diperbincangkan warganet. Menteri Pertanian Amran Sulaiman lah yang menjadi penyebab nama keong sawah jadi hit belakangan ini.

Keong sawah (Pila ampullacea) adalah sejenis siput yang mudah dijumpai di perairan tawar, seperti sawah, pairt, serta danau. Di beberapa daerah Indonesia, hewan ini dikenal dengan nama kreco, tutut, kol, dan kakul di Bali.

Sesuai dengan anjuran Menteri Amran, masyarakat diajak menmvariasikan sumber protein selain dari daging sapi. Salah satunya lewat konsumsi daging tutut ini.

Apa benar tutut bernutrisi?

Dengan berat daging satu ekor keong sawah dewasa dapat mencapai 4-5 gram, kadungan nutrisi di dalamnya, yakni protein 12% dan kalsium 217 mg. Positive Deviance Resource Centre menyebut dalam 100 gram keong sawah, terkandung 81 gram air. Nutrisi lain yang terdapat dalam keong sawah, yakni energi, protein, kalsium, karbohidrat, dan fosfor.

Kandungan vitamin pada keong sawah cukup tinggi, dengan dominasi vitamin A, E, niacin, dan folat. Keong sawah juga mengandung zat gizi makronutrien berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada tubuhnya.

Tubuh keong sawah juga mengandung mikronutrien berupa mineral, terutama kalsium yang sangat dibutuhkan manusia. Selain itu, daging tutut rendah kadar kolesterol.

Serupa, daging sapi yang umum dijadikan sumber utama protein mengandung berbagai nutrisi yang tak kalah penting.

Dalam 150 gram daging sapi terdapat 30 gram asam lemak omega 3, protein, serta zat besi yang cukup tinggi untuk meningkatkan sistem metabolisme tubuh.

Dalam hal vitamin, daging sapi mengandung vitamin B kompleks, zinc, dan selenium.

Namun, daging sapi juga mengandung lemak tak sehat, seperti lemak jenuh dan lemak trans. Tak ketinggalan kandungan kolesterol yang mencapai 90 mg dalam setiap 100 gram daging sapi.

Meskipun daging sapi mudah ditemukan di pasaran, harganya yang lumayan tinggi membuatnya sering tak terjangkau kalangan bawah.

Di lain hal, tutut mungkin masih awam bagi warga kota besar yang hidup tanpa persawahan. Namun, jenis bahan makanan itu umum disantap di beberapa daerah di Indonesia. Keong sawah pun banyak dikonsumsi secara luas di berbagai wilayah Asia Tenggara dan memiliki nilai gizi yang baik karena mengandung protein yang cukup tinggi. Bahkan, di Surabaya, sate keong sawah yang dikenal dengan sate kull tengah digemari.

Dengan pengelolaan yang tepat, tutut dapat dijadikan alternatif sumber protein hewani yang bermutu dengan harga yang jauh lebih murah daripada daging sapi, kambing atau ayam.

Pastikan keong sawah diolah dengan amat teliti dan seksama mengingat tutut merupakan inang beberapa penyakit parasit. Selain itu, hewan yang diambil dari dekat persawahan dapat menyimpan sisa pestisida di dalam tubuhnya.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH