Acquaree Spa Journey Ajak Orang Tua Milenial Mendidik Generasi Alfa Secara Demokratis Anita Chandra saat mengisi sesi workshop di Acquree Spa Journey (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

SUASANA di Acquaree Spa Journey, Sabtu (7/12) terlihat berbeda. Di salah satu sudut ruangan itu sejumlah orang tua muda alias milenial duduk dengan hikmat. Mereka tampak serius mendengarkan nasehat dari seorang perempuan berkacamata dalam workshop bertajuk Milenials Parenting. Sementara anak mereka tengah menikmati wahana Acquaree Spa Journey.

"Wobble skills harus dimiliki si kecil ya moms, mereka harus bisa menerima kegagalan," ungkap, Psikolog Anak Anita Chandra menjelaskan pentingnya wobble skills yang harus dimiliki seorang anak.

Baca juga:

Cara Ayudia Bing Slamet Atasi Anak Tantrum

Wobble skills sendiri menjadi penting karena banyak anak yang tidak mau menerima kegagalan. Terutama bagi mereka yang memiliki nilai IQ tinggi. Mereka selalu memikirkan hal apapun.

Banyak orang tua milenial gelisah dengan cara mendidik anak di era digital (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Worskhop tersebut berjalan dengan dua arah. Tampak para orang tua memang memiliki kegelisahan soal parenting di era digital ini. Soalnya sebagai orangtua milenial, artinya mereka harus mendidik anaknya yang sangat melek teknologi karena termasuk generasi alfa.

Orang tua milenial mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi. Karena harus mengkombinasikan kemajuan teknologi tersebut dengan cara parenting mereka. Sehingga metode pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan masanya.

Salah satu orang tua bertanya kepada Anita. Pria tersebut menanyakan apakah metode otoriter bagus digunakan untuk mendidik anak. "Perlukah otoriter saat usia anak 1-5 tahun?" kata penanya itu.

Baca juga:

Bentuk Anak Kreatif, Shahnaz Haque Sarankan Pola Asuh Mandiri

Anita langsung menanggapi pertanyaan itu. Menurut dia sikap otoriter tidak perlu dilakukan. Kreativitas anak bisa terhalangi karena metode pendidikan tersebut. Psikolog yang berpraktek di Jakarta Utara itu lebih menyarankan agar orang tua menggunakan metode demokratis.

Metode demokratis artinya memberikan anak ruang untuk berdiskusi mengenai keinginan mereka. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk menemukan kemampuan mereka. "Jadi kita harus membiarkan anak untuk bereksplorasi, karena ke depannya anak harus kreatif dan berkembang," jawab Anita.

Namun, Anita menambahkan demokratis bukan berarti tidak memberikan batasan kepada anak. Jika keinginan anak memang tidak baik, orang tua harus menolaknya dan memberikan alasan yang logis.

Orang tua milenial tampak serius mendengarkan nasihat Anita (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Dalam workshop tersebut, Anita mengatakan banyak informasi parenting yang tidak relevan beredar di sosial media. Oleh karena itu, Anita menegaskan agar orang tua lebih cermat dalam mencerna informasi tersebut. Tidak semuanya benar. "Banyak juga orang tua yang mengonfirmasi kebenaran-kebenaran informasi itu," tuturnya kepada merahputih.com usai workshop.

Yang masih membuat bingung orang tua kata Anita ialah cara menerapkan metode pendidikan yang tegas tapi tidak bersifat otoriter. Kembali lagi Anita menyarankan agar orang tua lebih menggunakan metode pendidikan demokratis. Tentunya tetap dengan menggunakan batasan-batasan tertentu. "Jadi demokratis itu bukan permisif, bukannya anak bebas dengan aturan," tukasnya. (ikh)

Baca juga:

Ibu-Ibu Butuh Komunitas untuk Menghilangkan Stres

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH