70 Kasus Terbaru COVID-19 Pasca Pembukaan Sekolah di Prancis Kasus COVID-19 kembali bertambah di Prancis (Foto: Unsplash/Jason Sung)

MENTERI pendidikan Prancis, Jean-Michel Blanquer mencatat 70 kasus COVID-19 baru di sekolah-sekolah Prancis yang diizinkan kembali beroperasi minggu lalu. Prancis sempat menutup sekolah dan lembaga pendidikan tinggi sejak 17 Maret lalu sebagai bagian dari langkah-langkah negara untuk menahan wabah COVID-19.

Negara ini telah mencatat lebih dari 180.000 kasus virus Corona dan lebih dari 28.000 kematian pada hari Senin pekan ini. Setelah dua bulan masa lockdown, Prancis mulai mencabut penerapan larangan, termasuk pembukaan kembali beberapa toko dan prasekolah dan sekolah dasar.

Baca juga:

Kopenhagen Ubah Taman Tivoli Menjadi Taman Kanak-Kanak Sementara

1
Sekolah-sekolah mulai dibuka kembali (Foto: Unsplash/National Cancer Institute)

Menurut France24, kelas telah dibatasi hanya 10 siswa untuk prasekolah dan 15 siswa untuk kelompok umur lainnya. Blanquer mengatakan kepada stasiun radio Prancis RTL pada hari Senin bahwa 70 kasus baru COVID-19 telah terdeteksi dalam minggu sejak siswa kembali ke sekolah. "Tidak bisa dihindari hal seperti ini akan terjadi. Dalam hampir semua kasus, penularan ini terjadi di luar sekolah," tuturnya.

Blanquer mencatat 70 kasus merupakan porsi kecil dari total 1,4 juta anak sekolah yang telah kembali menjalankan aktivitas belajar di sekolah. Dia mengatakan sekolah yang terkena dampak akan segera ditutup.

Baca juga:

Eropa Berencana Membuka Perbatasan Menjelang Liburan Musim Panas

2
70 kasus dari total 1,4 juta anak tertular (Foto: Unsplash/NeONBRAND)

Prancis merupakan salah satu di antara beberapa negara Eropa, termasuk Jerman, Denmark, Norwegia, Republik Ceko, dan Polandia yang telah mulai mengurangi penerapan langkah-langkah lockdown. Walaupun banyak yang memperingatkan bahwa prosesnya akan lambat dan diawasi dengan ketat.

Denmark bulan lalu menjadi negara Eropa pertama yang membuka kembali sekolah, memancing para orang tua untuk menyampaikan kekhawatiran bahwa anak-anak mereka digunakan sebagai “kelinci percobaan” untuk menguji kebijakan pemerintah.

Namun, para pejabat Eropa telah meremehkan risiko dengan mengirim anak-anaknya kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Mereka juga mengatakan bahwa alternatifnya akan lebih berbahaya bagi siswa untuk jangka panjang. "Akan ada kerusakan yang mengerikan jika kita kehilangan satu generasi anak-anak yang telah berhenti belajar ke sekolah selama beberapa bulan," kata Blanquer, dilansir dari The Guardian.

Pada hari Senin, Blazenka Divjak, menteri pendidikan di Kroasia, mengatakan dalam konferensi pers bahwa tidak ada peningkatan kasus yang signifikan sejak sekolah-sekolah Eropa membuka pintu mereka. "Sejauh ini kami belum pernah mendengar hal negatif tentang pembukaan kembali sekolah, tetapi mungkin terlalu dini untuk memiliki kesimpulan akhir tentang itu," kata Divjak. (lgi)

Baca juga:

Prancis Mulai Melonggarkan Pembatasan

Kredit : leonard

Tags Artikel Ini

Leonard G.I

LAINNYA DARI MERAH PUTIH