7 Gaya D'MASIV Berkarier di Dunia Musik MP/Rizki Fitrianto

Pernah dicap plagiat karya band mancanegara, seperti Muse, Keane, Switchfoot, dan Incubus, nyatanya D'MASIV terus melaju. Tak pedulikan komentar negatif, band beranggotakan Rian (vokal), Kiki (gitar), Rama (gitar), Rai (bas), dan Wahyu (drum) ini tetap fokus berkarya.

Mereka membuktikan bahwa mereka punya kemampuan dan layak bersinar di industri musik Indonesia. Lagu-lagu mereka sukses di tangga lagu nasional, berbagai penghargaan mereka raih, dan lima album sudah mereka telurkan. Band yang dibentuk 3 Maret 2003 ini bahkan sempat ke Irlandia karena menang festival "Guinness Live Arthur's Day 2013".

Untuk bisa melalui itu semua dan mencapai posisi mereka saat ini, D'MASIV punya tips dan trik tersendiri. Dalam wawancara merahputih.com di Clique Kitchen & Bar, Sabtu (10/6), inilah gaya D'MASIV dalam berkarier di dunia musik.

1. Referensi musik yang beragam

"Referensi sih kita enggak pernah berpatokan sama satu genre. Semakin ke sini—apalagi udah 14 tahun, Maret depan 15 tahun—kita enggak pernah ada patokan apa gitu dalam berkarya. Misalnya di album keempat, satu lagu judulnya 'PD' kita kasih suasana new wave 80-an. Di album kelima ada suasana seperti backing vocal-nya band tahun 60-an. Terus ada suasana elektronik tapi alternatif. Jadi sebenarnya kita berlima enggak ada patokan sih, berkembang terus."

2. Bisa memainkan bermacam genre

"Genre kita bisa dibilang pop alternative, jadi bisa ke mana-mana, kadang ada rock-nya juga. Malah pernah 2013 di sela-sela album, kita main di Java Jazz Festival. Sebenarnya dulu D’MASIV sebelum masuk rekaman itu mainnya di festival, jadi berbagai macam genre kita mainkan. Tapi begitu masuk ke rekaman emang dasarnya pop."

3. Tetap fokus berkarya

"Kalau orang bilang, 'Wah kok lo enggak pernah muncul di TV', ya buat kita yang penting berkarya terus. Dan D'MASIV sudah membuktikan, kesempatan datang buat yang terus berkarya. Hasilnya, kita sudah album kelima dan lagi menyiapkan album keenam. Kita juga manggung terus. Yang pasti kita emang fokusnya berkarya aja, udah."

4. Tidak pusingkan kesuksesan

"Kita enggak pernah mikirin lagi di atas atau di bawah, yang penting berkarya aja. Sampai sekarang pun enggak berubah. Kita tetap santai, enggak pernah menganggap diri kita itu siapa. Buat kita, industri mau kayak gimana enggak ngaruh, karena kita di sini intinya menghasilkan karya sebaik-baiknya."

5. Aktif di media sosial

"Salah satu cara yang paling ampuh untuk menjaga hubungan dengan Masivers adalah dengan media sosial. Dari situ mereka bisa tahu kegiatan kita, kita berangkat ke kota mana. Misalnya Surabaya kemarin, kita upload kita mau berangkat, pasti semua udah nungguin di bandara Surabaya, selalu kayak gitu. Kita manggung di mana itu kita share di media sosial, dari situ Masivers juga merasa terus mendapatkan info."

6. Berinteraksi dengan penggemar

"Fans. Itu yang bikin D'MASIV terus ada sampai sekarang. Mau penonton 1-2 sekalipun, kita akan tetap berikan yang terbaik. Meskipun kecil, tapi kita percaya dampaknya besar. Kita juga menyempatkan balas mention di Instagram dan lainnya. Mungkin awalnya jarang balas, tapi makin ke sini kita mikir, buat apa ada Instagram kalau enggak interaksi sama mereka?"

7. Santai tanggapi celaan

"Di media sosial kita sempatkan balas komentar. Entah itu komentar yang jelek kek, kita ladenin aja. Ada yang nyela, kita biasa aja. Seenggaknya sampai saat ini kita termasuk band yang jarang dapat komentar negatif."

Komentar negatif akan selalu ada, begitu pula dengan haters. Namun, semua kembali kepada fokus D'MASIV dalam bermusik. Tunjukkan dengan kemampuan, prestasi, dan karya, serta berikan yang terbaik dalam apa pun. Seperti kata D'MASIV, kesempatan akan datang bagi mereka yang terus berkarya.

Simak pula inspirasi lainnya dari D'MASIV di artikel Lebaran, D'MASIV Libur Manggung. Nantikan artikel wawancara eksklusif D'MASIV lainnya di hari Sabtu (17/6).
Kredit : irene


Asty TC

LAINNYA DARI MERAH PUTIH