Mengenang 69 Tahun Kepergian Si 'Binatang Jalang' Chairil Anwar Lukisan Chairil Anwar dan potongan sajaknya di dinding jalan. (Foto/urusandunia.com)

PELOPOR sastrawan angkatan 45 itu telah pergi, hari ini, 28 April, 69 tahun silam. Tapi karyanya tak pernah mati. Sebait nukilan puisinya bertajuk Sia Sia bahkan terpampang jelas di dinding Jembatan Kewek, Kota Baru, Yogyakarta. Menjadi ikon baru Kota Pelajar.

Empunya kata-kata itu tak lain Si "Binatang Jalang" Chairil Anwar.

Seperti kata pepatah “Ars longa, vita brevis”. Hidup itu singkat, seni itu abadi. Mungkin menjadi pepatah paling pas untuk menggambarkan lakon hidup Chairil Anwar. Ia meninggal di usia muda, 27 tahun. Meninggalkan beragam tema puisi.

Semasa hidupnya, Chairil melahirkan 94 karya di antaranya, 70 puisi asli, 4 puisi saduran, dan 10 puisi terjemahan, serta 6 prosa asli, 4 prosa terjemahan.

Putra pasangan Toeloes dan Saleha ini terlahir sebagai orang Minangkabau, meski catatan riwayatnya tertulis lahir di Medan. Darah kental Minang didapat dari sang ibu, Saleha, asal Taeh Baruah, Payakumbuh.

Chairil kecil beroleh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar kaum Bumiputera pada masa kolonial. Ia kemudian meneruskan sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara dengan SMP saat ini.

Pada usia 15 tahun, Chairil memutuskan untuk menjadi seorang seniman. Ia tak lagi berminat melanjutkan sekolah dan menganggap membaca buku jauh lebih penting ketimbang berada di kelas.

Meski tak menyelesaikan sekolahnya, ia sudah bisa memahami beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Modal itulah yang ia manfaatkan untuk membaca karya asing seperti, Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, Edgar Du Perron, dan banyak lainnya.

“Semua buku mereka aku sudah baca,” kata Chairil, seperti dikutip Eneste Pamusuk dalam Mengenal Chairil Anwar (1995).

1. Broken Home

Saat usianya menginjak 19 tahun, Chairil harus menelan kenyataan pahit. Toeloes dan Saleha bercerai. Chairil memilih tinggal bersama ibunya, Saleha, lantaran bisa merasa bebas merdeka.

Meski belakangan sang ayah menikah lagi, kiriman uang kepada Saleha tak pernah putus. Termasuk ketika ibu dan anak itu hijrah ke Jakarta.

Ibukota ternyata bukan tempat nyaman bagi keduanya. Saat itu tentara Jepang menduduki Hindia. Chairil dan ibunya sempat ditampung di rumah Sutan Syahrir. Ia kemudian begitu karib dengan salah satu anak angkat Syahrir, Des Alwi.

Di Jakarta, selain sempat menjadi penyiar, Chairil juga pernah bekerja pada Hatta. Tapi setelah beberapa lama Des tak melihat Chairil berangkat ke kantor, ia kemudian menanyakan perkara itu pada yang bersangkutan.

“Mana bisa tahan kerja dengan Hatta, masuk jam delapan pagi pulang jam dua siang,” Chairil menjawab.

Ilustrasi Bercerai. (Pixalbay/OpenClipart-Vectors)
Ilustrasi Bercerai. (Pixalbay/OpenClipart-Vectors)

2. Sastrawan Pembaru

Setelah setahun berada di Jakarta, akhirnya mimpinya untuk menjadi seniman mulai terang. Puisi Chairil berjudul "Nisan" muncul di media pada tahun 1942. Namun sayang, satu tahun berlalu, Chairil harus merasakan hebatnya siksaan Kenpeitai (Polisi Rahasia Jepang) yang dikenal kejam karena puisinya yang berjudul “Siap Sedia”.

“Kawan, kawan. Mari mengayun pedang ke dunia terang,” tulis Chairil seperti dikutip HB Jassin dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1969).

Nama Chairil makin melambung usai majalah Timur menerbitkan puisinya yang berjudul "aku" pada 1945. Puisi inilah yang kemudian dianggap khalayak sastra sebagai pendobrak cara berpuisi, dan ia dijuluki 'Binatang Jalang.'

Ilustrasi. (Istimewa)
Ilustrasi. (Istimewa)

3. 'Binatang Jalang' Menikah

Chairil bertemu dengan Hapsah Wiriaredja semasa dalam perjalanan ke Krawang. Pertemuan mereka ibarat cinta pandang pertama untuk Chairil. "Chairil sanggup menunggu kehadiran Hapsah pada tempat yang sama sehari setelah bertentang mata dengan Hapsah. Setelah berkenalan selama 3 bulan, mereka pun bernikah pada 6 september 1946.

Menurut Sri Sutjiatiningsih, setelah pernikahan mereka, Hapsah menghadapi masa yang sukar kerana keperibadian Chairil. Chairil hanya mahu mengarang dan membaca sepanjang hari tanpa mempedulikan kesejahteraan keluarga yang telah dibinanya. Chairil juga enggan bekerja tetap. Oleh kerana itu, pernikahan Chairil dan Hapsah tidak bertahan lama.

Mereka dikatakan telah bercerai pada tahun 1948 semasa anak mereka berusia 7 bulan. Hasil daripada perkahwinan ini, Chairil dianugerahkan seorang anak perempuan bernama Evawani Alissa yang lahir pada 4 Oktober 1947.

Chairil Anwar dan Hapsah Wiriaredja. (Foto/chairilanwar2013.wordpress.com)
Chairil Anwar dan Hapsah Wiriaredja. (Foto/chairilanwar2013.wordpress.com)

4. Sang Ayah Ditembak Mati

Ayah Chairil menjabat sebagai Bupati Inderagiri, Riau pada 5 Januari 1949 mati ditembak oleh pasukan Belanda di hadapan ibu tiri Chairil dan adik-adiknya. Dalam kisah yang diungkap Hoek di situs Inside Indonesia, disebutkan sebelum pendaratan KST dengan kode “Operatie Modder” atau Operasi Lumpur, lebih dulu sejumlah “Cocor Merah”, sebutan untuk P-51 Mustang.

Pesawat tempur terbaik pada perang dunia II itu menjatuhkan bom-bom dan menembaki warga sipil di jalan-jalan raya, pasar, hingga permukiman. Tak lama setelah serangan Cocor Merah, dimulailah penerjunan Kompi I Parasut KST berjumlah 180 personel dengan dikomando Letnan Rudy de Mey, ke daerah Sekip dekat Rengat.

Selesai mendarat, sweeping terhadap pemuda-pemuda lokal bersenjata dilancarkan. Penembakan di mana-mana. Termasuk Bupati Toeloes yang ditembak mati di depan rumahnya, di hadapan istri dan anak-anaknya.

P-51 Mustang. (Foto/wikimedia.org)
P-51 Mustang. (Foto/wikimedia.org)

5. Pulang Menyusul Ayah

Di tahun yang sama denga kematian ayahnya, Chairil mulai sakit-sakitan. Ia bahkan harus dilarikan ke CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) Jakarta. Paru-paru Chairil terjangkiti Tuberculosis (TBC), hingga akhirnya meninggal pada 28 April 1949 di umur yang belum genap 27.

Menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dirinya dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku...". Kemudian ia meninggal pada pukul setengah tiga sore 28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul "Jang Terampas Dan Jang Putus".

Berikut bunyi sajaknya;

Patung Chairil Anwar diresmikan oleh Walikota Malang keenam M. Sardjono Wirjohardjono. (Foto/kanal.web.id)
Patung Chairil Anwar diresmikan oleh Walikota Malang keenam M. Sardjono Wirjohardjono. (Foto/kanal.web.id)

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

Karya Chairil Anwar

(Zai)

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH