500 Tahun Sunan Kalijaga, Yogyakarta Gelar Festival Pathok Negoro Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X (kelima kiri) berdialog dengan Mendagri Tjahjo Kumolo (kedua kiri), di Komplek Puro Pakualaman, Yogyakarta, Minggu (22/11). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

MerahPutih Budaya - Dinas Kebudayaan (Disbud) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan Forum Komunikasi Langgar Dhuwur menggelar Festival Pathok Negoro yang akan dilaksanakan pada tanggal 10-18 Desember di tiga Masjid Pathok Negoro dan satu masjid Kagungan Ndalem. Ketiga masjid Pathok Negoro tersebut ialah Masjid Babadan, Masjid Plosokuning, Masjid Mlangi. Satu masjid berstatus Kagungan Ndalem adalah Masjid Wonokromo.

Kepala Disbud DIY Umar Priyono menyampaikan, penyelenggaraan festival ini merupakan bentuk perhatian dan usaha pemerintah dalam mengaktualisasikan nilai-nilai luhur dari ajaran Sunan Kalijaga. Sehingga bisa menggerakkan masyarakat melalui jalan kebudayaan untuk mencapai jati dirinya, baik sebagai individu, masyarakat maupun kebangsaan.

"Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga. Diharapkan melalui kegiatan ini mampu membangun dan merekatkan solidaritas di antara berbagai komponen masyarakat Yogyakarta dan bangsa Indonesia, termasuk hubungan yang dinamis antara agama dan budaya," papar Umar saat jumpa pers, di kantor Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (8/12).

Ketua Forum Komunikasi Langgar Dhuwur M Jadul Maula menyampaikan, Sunan Kalijaga adalah tokoh lintas generasi yang menjaga proses krusial transisi kerajaan-kerajaan Nusantara, yakni: Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram (Islam) sehingga berlangsung damai, berkesinambungan dan berbudaya. Dengan demikian, sosoknya merupakan arsitek budaya Islam Jawa dan peletak dasar "kosmologi" pendirian Kesultanan Mataram Islam, yang sekarang bertransformasi menjadi Daerah Istimewa.

"Beliau (Sunan Kalijaga) adalah guru ruhani para raja sekaligus pelindung dan pembimbing keberagamaan kawulo cilik, di hampir semua aspek kehidupan dan puncaknya kolaborasi harmonis beragam seni dan kisah di dalam pagelaran wayang kulit," jelasnya.

Festival Pathok Negoro akan diramaikan dengan lomba potensi Patok Negoro yang diisi berbagai varian lomba, sandiwara bahasa Jawa, dan puncaknya adalah pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon-lakon yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. (fre)


BACA JUGA:

  1. Terealisasi, 296 Rumah Khas Majapahit Hidupkan Kembali Budaya Jawa
  2. Wisata Seni dan Budaya di Museum Sonobudoyo Yogyakarta
  3. KPMP Kampanyekan Anti Kekerasan lewat Lomba Seni Budaya
  4. MUI: Kebudayaan Indonesia Jadi Inspirasi Penyebaran Islam
  5. Marunda Jadi Pilot Project Gerakan Nasional Budaya Bersih


Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH