5 Suku di Indonesia yang Menganut Paham Matrilineal Bundo Kanduang Suku Minangkabau. (Foto/takaitu.com)

MATRILINEAL merupakan paham suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Penganut sistem matrilineal di Indonesia memang tidak sebanyak sistem adat patrilineal. Namun bukannya tidak ada, malahan mampu memberikan warna dalam kebudayaan di Indonesia.

Di Indonesia banyak suku yang menganut sistem garis keturunan ibu. Berikut merahputih.com merangkum 5 suku di Indonesia yang menganut sistem matrilineal;

Bundo Kanduang Suku Miangkabau. (Foto/saribundo.biz)
Bundo Kanduang Suku Minangkabau. (Foto/saribundo.biz)

Suku Minangkabau

Suku Minangkabau atau yang sering disebut Minang merupakan entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas agama Islam.

Pada suku tersebut sistem matrilineal yang mereka anut adalah "ayah adalah tamu" dalam sebuah keluarga. Dalam sistem Minang yang bertugas memberikan pengajaran kepada anak bukanlah ayah, melainkan paman atau yang dikenal dalam suku Minang dengan sebutan "mamak".

Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.

Suku Enggano

Suku Enggano menetapkan perempuan sebagai pewaris suku dan sebagai garis keturunan matrilineal. Nama marga suku diwariskan berdasarkan marga ibu. Suku Enggano menciptakan garis keturunan matrilineal mungkin karena seringnya terjadi peperangan antar suku dan kegiatan dari para lelaki suku ini.

Suku Enggano, adalah penghuni asli pulau Enggano dan empat pulau di sekitarnya yang merupakan salah satu wilayah terluar Indonesia, di sebelah barat pulau Sumatera. Lebih tepatnya berada di provinsi Bengkulu. sebagaimana suku Mentawai dan suku Nias, mereka adalah pembawa budaya Proto Malayan atau Melayu Tua.

Suku Petalangan

Masyarakat Petalangan dibagi atas beberapa suku yang diturunkan dari ibu, seperti Sengerih, Lubuk, Pelabi, Medang, Piliang, Melayu, Penyambungan dan Pitopang. Berdasarkan kekerabatan matrilineal yang mereka anut, dilarang melakukan perkimpoian dengan suku yang sama.

Suku Petalangan hidup di Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau. Desa-desa pemukiman orang Petalangan terletak sekitar 60-95 kilometer dari kota Pekanbaru. Kebanyakan orang Petalangan mencari nafkah dari hutan karet dan sebagai nelayan.

suku enggano
Suku Enggano di Pulau Enggano. (Foto: garudazitizen)

Suku Aneuk Jamee

Suku ini merupakan perantau Minangkabau yang bermigrasi ke Aceh dan telah berakulturasi dengan Suku Aceh. Secara etimologi, nama "Aneuk Jamee" berasal dari Bahasa Aceh yang secara harfiah berarti anak tamu. Dalam percakapan sehari-hari, kelompok masyarakat ini menggunakan Bahasa Jamee.

Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku di Indonesia yang tersebar di sepanjang pesisir barat Aceh mulai dari Singkil, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya dan Simeulue.

Suku Sakai

Berdasarkan sistem kekerabatan matrilineal yang dianut suku Sakai, anak perempuan penerus keturunan ibunya, sedangkan anak laki?laki hanya seolah?olah pemberi bibit keturunan kepada isteri. Dalam budaya Sakai hak perempuan Sakai besar, semua barang milik baik yang bergerak maupun tidak bergerak adalah milik wanita.

Suku Sakai merupakan salah satu suku terasing di Indonesia yang hidup di pedalaman Riau. Banyak versi tentang asal-usul suku Sakai. Ada yang berpendapat suku sakai berasal dari percampuran antara ras Wedoid dengan Proto Melayu. (Zai)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH