5 Mitos Populer tentang Otak Kita, Ternyata Selama ini Salah Banyak mitos tentang otak yang ternyata tidak benar. (Foto Pixabaygeralt).

BEBERAPA pengetahuan yang kita tahu tentang otak lebih didasarkan pada kepercayaan populer daripada pada kebenaran berbasis ilmiah. Berbagai informasi terkait otak dan tips unik untuk meningkatkan kinerjanya pasti sudah sering kita dengar.

Kamu mungkin pernah mendengar bahwa bermain gim atau mendengarkan musik klasik mampu meningkatkan kemampuan otak kamu. Jika kamu mempercayainya, selamat, kamu telah termakan mitos. Dilansir dari laman brightside.me, berikut 5 mitos tentang otak manusia.

Baca Juga:

Perlu Diwaspadai, Ini 5 Tanda Seseorang Terkena Tumor Otak

1. 10%

otak
Faktanya, kita menggunakan 100% otak kita (Foto: Pixabay/Tumisu)

Sudah umum dipikirkan bahwa manusia hanya mampu menggunakan 1/10 massa otak kita. Ini karena kesalahan interpretasi dari penelitian yang dilakukan pada awal abad ke-20, yang menemukan bahwa hanya 10% dari neuron di otak yang aktif pada waktu tertentu.

Namun, menurut ahli saraf John Henley, kita terus menggunakan berbagai area di seluruh otak kita. Henley mengklaim bahwa aktivitas mulai dari menuangkan secangkir kopi hingga membuat keputusan. Memerlukan neuron yang berbeda di otak untuk aktif pada saat yang sama, karena berbagai keterampilan digunakan.

2. Musik klasik

musik
Ternyata musik klasik hanya membuat pintar sesaat. (Foto: Unsplash/Catalin Balta)

Pada awal 1990-an, eksperimen terhadap 30 siswa yang mendengarkan musik Mozart meningkatkan konsentrasi mereka dalam beberapa menit. Ini memunculkan mitos "Efek Mozart", yang mengatakan bahwa mendengarkan lagu-lagu oleh komposer klasik dapat membuat anak-anak atau bayi mengembangkan kecerdasan yang lebih baik.

Sebenarnya, ini adalah studi tahun 1993 yang melibatkan siswa muda yang melaksanakan tugas tertentu. Mereka yang mendengarkan Mozart telah berkinerja lebih baik. Tetapi itu hanya berlangsung selama beberapa menit saja, tidak membuat mereka lebih pintar. Pada tahun 2003, sebuah penelitian mengatakan bahwa anak-anak yang terlatih secara musik tidak memiliki kinerja yang lebih baik dalam hal keterampilan psikomotorik dibandingkan mereka yang menerima pelatihan visual.

3. Anak sulung

otak
Si sulung tidak selamanya lebih pintar. (Foto: Pixabay/White77)

Beberapa gagasan yang terbentuk sebelumnya menyatakan bahwa anak sulung dalam keluarga lebih cerdas daripada adik-adiknya. Jelas menciptakan mitos bahwa kakak yang lebih pintar. Namun, sebuah penelitian pada tahun 2007 berusaha untuk menyelesaikan masalah ini dan menemukan apakah ini benar atau tidak.

Meskipun ada perbedaan dalam kecerdasan saudara kandung, ini tidak ada hubungannya dengan urutan kelahiran mereka. Sebaliknya, mereka memiliki segalanya yang berkaitan dengan lingkungan kehamilan dan faktor-faktor psikologis dari hubungan yang dimiliki subjek dengan orang tua mereka sebelum dan sesudah kelahiran.

Jadi, jika kamu menerima asupan nutrisi dan lingkungan yang baik dan sehat saat di dalam perut, begitu juga ketika kamu sudah ada di dunia, itu dapat meningkatkan kinerja otak kamu.

Baca Juga:

Ritual Singkat Ini Tingkatkan Kesehatan Otak dan Membuatmu Terhindar dari Stres

4. Jenis kelamin

otak
Tidak ada perbedaan signifikan antara kecerdasan perempuan dan pria (Foto: PixabayBessi).

Meskipun ada lusinan karakteristik yang membuat perempuan berbeda dari pria. Namun tingkat kecerdasan mereka jelas bukan salah satunya. Mengutip laman scientificamerican.com, tidak ada perbedaan signifikan antara kecerdasan perempuan dan pria. Ternyata laki-laki lebih percaya diri pada kemampuan mereka. Sementara perempuan meragukan kecerdasan mereka dan kurang percaya diri. Ini menunjukkan bahwa bukan gender, melainkan persepsi diri yang memengaruhi kinerja kita.

5. Permainan

otak
Bermain gim lebih meningkatkan keterampilan bukan otak. (Foto:Unsplash/kellysikkema).

Mitos umum lainnya tentang pikiran adalah kecerdasan meningkat jika kita melakukan latihan stimulan mental. Seperti permainan memori, video gim, dan teka-teki silang. Kegiatan-kegiatan tersebut hanya terbukti efektif dalam mencegah penyakit mental dan kerusakan saraf, tetapi tidak dalam meningkatkan kecerdasan.

Sebuah studi yang dilakukan lebih dari 11 ribu orang yang menerima latihan mental mingguan menunjukkan bahwa, meskipun keterampilan tertentu dari peserta meningkat dibandingkan orang lain, kapasitas kognitif mereka tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Jadi bagaimana, ternyata banyak juga ya mitor tentang otak kita. Tentu ini bisa dijadikan pembelajaran untuk kita supaya tidak langsung percaya pada informasi yang kita terima. (arb)

Baca Juga:

Masih Suka Begadang? Hati-Hati Otak Bisa Memakan Selnya Sendiri!


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH