5 Mitos dan Tren Menarik Jelang Bergulirnya Premier League 2018-19 Logo Premier League

MerahPutih.com - Premier League musim 2018-19 akan mulai bergulir pada Jumat (10/8) waktu setempat. Rimba persaingan ketat di Premier League jadi salah satu magnet yang menjadikannya sebagai liga terbaik dunia.

Menjelang musim baru, BBC Sports yang mengambil data statistik dari Opta, memunculkan mitos-mitos menarik di Premier League serta tren baru yang mungkin akan muncul nanti. Ingin tahu apa saja mitos dan tren tersebut? Berikut ulasannya seperti dilansir Bolaskor.com.

1. Peran Vital Pep Guardiola Dalam Pengembangan Kiper

Ederson Moraes. Foto: Zimbio

Tidak diragukan lagi, Pep Guardiola merupakan sosok visioner yang memulai perkembangan kiper yang tadinya hanya bertugas mengamankan gawang, menjadi seorang sweeper atau pemain tambahan di lini belakang yang turut berkontribusi memainkan bola untuk membangun serangan.Tugas utama mereka tetap mengamankan gawang dari kebobolan, tapi, dengan peran ekstra untuk membangun serangan.

Joe Hart telah menjadi korban revolusi peran itu, di mana dia tidak jadi pilihan Guardiola di Manchester City dan hengkang ke Burnley. Ederson Moraes datang dari Benfica dan di musim lalu, menyelesaikan 85,3 persen operan, selevel dengan gelandang tengah, Paul Pogba. Alhasil, musim lalu partisipasi operan kiper meningkat 54 persen ketimbang 15 tahun silam ketika hanya menyelesaikan 43 persen operan.

Revolusi peran kiper itu diprediksi akan semakin meningkat musim ini karena di era sepak bola modern, kiper sudah mulai melatih kakinya untuk mengoper bola di sesi latihan, hingga kurikulum membangun serangan dari lini belakang sudah menjadi keharusan bagi seorang kiper.

2. Harry Kane dan Kutukan Bulan Agustus

Harry Kane. Foto: Zimbio

Top skor Tottenham Hotspur dalam tiga musim terakhir dan di dua musim tersebut, Harry Kane sukses memenangi penghargaan Sepatu Emas Premier League (gelar bagi top skor) dua kali beruntun. Sudah terbukti, kapten timnas Inggris berusia 25 tahun bukanlah one season wonder.

Akan tapi, Kane punya catatan unik berupa kutukan di bulan Agustus. Kane punya catatan rata-rata 108 gol, tapi, tidak ada satupun yang dicetaknya di bulan Agustus. Tentu saja hal ini unik, karena pada akhirnya dia selalu menjadi top skor meski tidak mencetak gol di bulan kedelapan dalam kalender tahunan tersebut.

Kane tidak miskin peluang, dia melakukan 44 tendangan di bulan Agustus dari total 596 tendangan di Premier League, tapi ironisnya, tidak ada satupun yang berbuah gol. Mitos itu jelas akan coba dipecahkan top skor Piala Dunia 2018 tersebut musim ini.

3. Mitos Rekor Assist Thierry Henry

Thierry Henry

Performa Man City musim lalu memang sangat memukau dan memecahkan rekor 100 poin, berujung raihan titel Premier League dan Piala Liga. Tapi, ada satu rekor yang tidak mereka pecahkan musim lalu, meski bermain dengan sangat sensasional: yakni rekor assist.

Legenda Arsenal, Thierry Henry, masih memegang rekor 20 assists selama semusim di musim 2002/03, yang hanya mampu didekati playmaker The Gunners saat ini, Mesut Ozil, yang memberi 19 assists di musim 2015/16. Bahkan, Kevin De Bruyne dan Leroy Sane tak mampu mendekatinya.

Keduanya punya total 31 assists. Kendati demikian, 16 assists De Bruyne dan 15 assists Sane masih jauh dari 20 assists Henry. Menarik untuk dinanti, apakah rekor yang sudah bertahan 15 tahun itu berakhir di musim ini.

4. Efisiensi Bermain

Cardiff City

Di antara tiga tim promosi Premier League: Fulham, Wolverhampton Wanderers, dan Cardiff City, Cardiff merupakan penilik operan terendah musim lalu di Championship dengan hanya 166 kali melakukan operan sukses. Bahkan jika kesuksesan di Championship diukur dari jumlah operan, maka Cardiff akan terdegradasi ke League One dengan hanya persentase 59 persen operan.

Merunut dari statistik di Opta, Cardiff bisa saja mengikuti Wimledon yang degradasi di musim 1999-2000 dengan hanya sukses melakukan 59 persen operan. Namun di era sepak bola modern, terhitung dari musim 2009-10 hingga 2017-18, tim dengan jumlah operan terendah tidak pernah degradasi.

Cardiff pun bisa jadi Wimbledon baru atau melanjutkan tren tidak degradasi tersebut. Toh faktanya, permainan di Premier League belakangan ini lebih cenderung mengandalkan efisiensi mencetak gol ketimbang penguasaan bola. Chelsea menjuarai Premier League 2016-17 dengan cara tersebut, juga Leicester City di musim sebelumnya.

5. Jangan Remehkan Kekuatan Tim Promosi

Wolverhampton Wanderers

Musim lalu jadi bukti sahih: tim-tim promosi tak bisa diremehkan. Huddersfield Town, Brighton & Hove Albion, dan Newcastle United mampu bertahan di Premier League, sementara Stoke City, West Bromwich Albion (WBA), dan Swansea City degradasi. Unik, mengingat Stoke, West Brom, dan Swansea kekuatan yang sudah bertahan cukup lama di Premier League.

Fulham, Wolves, dan Cardiff juga punya potensi mengejutkan musim ini. Fulham dan Wolves sudah belanja besar-besaran mendatangkan pemain berkualitas dan berpengalaman, sehingga persentase mereka untuk bertahan cukup besar. Kans Cardiff sedikit lebih kecil karena mereka tidak banyak membeli pemain dengan kategori yang sama seperti Fulham dan Wolves. Tim besutan Neil Warnock hanya bermodalkan semangat dan kolektivitas untuk bertahan di Premier League.



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH