5 Fakta Tentang Polisi Jujur Bripka Seladi

  • Bripka Seladi, seorang anggota polisi Polresta Kota Malang kini menjadi sorotan di dunia maya.Pasalnya, pria tiga anak ini memilih berbisnis sampingan sebagai pemulung dibandingkan menerima suap saat bertugas.

    Hingga akhirnya apa yang dilakukan Seladi pun mendapat apresiasi dan respon positif dari ketua DPR RI Ade Komarudin. Ia diundang untuk menerima penghargaan atas nilai kejujuran yang selama ini ditanamkan dirinya. 

    "Saya membaca sebuah kisah dari berbagai media. Saya terkaget sekaligus bersyukur bahwa masih ada seorang petugas negara yang memilih mengutamakan kejujuran dalam bekerja dibandingkan dengan pilihan lain yang tidak kita kehendaki," ucap Ade saat memberikan penghargaan kepada Seladi di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

    Dalam acara pemberian penghargaan tersebut, Bripka Seladi menjelaskan alasannya memilih berbisnis sampingan sebagai pemulung. Menurutnya memulung lebih cepat menghasilkan uang dibandingkan dengan pekerjaan lainnya.

    "Lebih nikmat memulung dibandingkan yang lainnya. Mudah, gampang seperti toko emas sekarang diambil langsung jual, laku sekali," kata Seladi.

    Sebelum mencari pekerjaan sampingan di tahun 2004, pria yang lahir di Malang, Jawa Timur 57 tahun yang lalu ini sempat ditipu. Saat itu ia mengalami kerugian hingga berhutang Rp150 juta.

    "Yang jelas sebelumnya saya merintis masalah bisnis. Tapi namanya orang dipercaya ya sulit, enggak dipercaya tapi ternyata seperti itu. Itupun saya sudah serahkan kepada yang maha kuasa. Rezeki yang bagi yang maha kuasa berarti itu bukan rezeki saya," ujarnya. (Yni)

  • Bagi Bripka Seladi, anggota Polresta Malang Kota bekerja secara jujur merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada negara, khususnya kepolisian. Ia lebih memilih jadi pemulung dibandingkan memanfaatkan posisinya untuk mendapat tambahan penghasilan.

    Di sela waktu kosong, pria kelahiran Malang, Jawa Timur 57 tahun silam ini memungut sampah untuk dijual kembali. Pekerjaan sampingan ini dilakoninya sejak 2004. Saat itu Seladi terhimpit utang yang cukup besar, yakni Rp150 juta. Asal muasal utang itu, menurut Seladi, dirinya pernah merintis bisnis, tapi ia ditipiu oleh rekan bisnisnya.

    "Awalnya saya menjadi pemulung di tahun 2004. Saat itu saya memang sedang butuh biaya untuk anak istri makanya saya memulung," kata Seladi kepada awak media di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

    Seladi mengatakan selama ia memulung, tak seorangpun tahu bila dirinya adalah seorang polisi. Bahkan, aku Seladi, dirinya sering diusir pemulung lain yang menganggap Seladi memungut sampah di wilayah mereka.

    "Kalau masalah wilayah enggak ada cuma kadang ada yang nakal aja. Saya pernah diusir, katanya saya mengambil lahannya. Sebenarnya lokasi memulung itu di mana aja," ujarnya.

    Selesai bekerja sebagai polisi ayah tiga anak ini memulung menggunakan sepeda onthelnya. Meski demikian, ia pernah sekalipun meninggalkan tugasnya sebagai polisi.

    "Saya carinya malam kalau udah enggak ada kegiatan," tutur Seladi.

    Hingga akhirnya ada media yang mengetahui pekerjaan sampingannya sebagai pemulung. Seladi juga sempat ditegur atasannya lantaran pemberitaan itu.

    "Saya sempat ditegur Pak Dicky (Kapolres Malang Kota). Beliau tanya kenapa saya begini (memulung) tapi saya jelaskan apa adanya. Dan, beliau bisa menerima," ucap Seladi. (Yni)

  • Setelah memperoleh penghargaan dari Ketua DPR RI Ade Komarudin atas kejujurannya saat menjalankan tugas sebagai polisi, Bripka Seladi mengatakan tidak ingin meninggalkan bisnis sampingannya sebagai pemulung.

    "Ya jelas saya lanjutkan, apalagi sebentar lagi saya pensiun," kata Seladi kepada merahputih.com di Gedung Nusantara III DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (23/5).

    Pria asli Malang, Jawa Timur ini berharap dengan pekerjaan sampingannya ini ia bisa membantu orang-orang yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

    "Bisa membantu saudara-saudara saya. Karena banyak yang menganggur daripada cari kerja kesana-kesini, insya allah dimudahkan jalannya," ucap Seladi.

    Seperti yang diketahui, Bripka Seladi tiba-tiba menjadi sorotan netizen. Polisi jujur Bripka Seladi ternyata lebih memilih berbisnis sampingan sebagai pemulung daripada mencari uang dengan memanfaatkan pekerjaannya sebagai polisi. (Yni)

  • Kejujuran Bripka Seladi, anggota polisi yang bekerja sambilan sebagai pemulung, menginspirasi banyak orang. Meskipun hidup dalam kekurangan anggota Satlantas yang bertugas di bagian penguji praktek pemohon Surat Izin Mengemudi (SIM) A Polresta Malang Kota tidak pernah menerima suap. 

    Seladi mengaku selama 14 tahun berdinas dirinya tidak pernah menerima uang ataupun makanan dari para pemohon SIM A. Padahal, godaan itu selalu ada. 

    "Setelah selesai praktek peserta mengajak saya salaman, tapi di balik tangannya ada amplop berisi uang. Saya langsung lepas (salaman) sehingga peserta ujian praktek SIM A lainnya akan melihat dan dia akan malu," kata Seladi kepada wartawan di Gedung Nusantara, Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/5).

    Bripka Seladi mengaku selalu menolak suap yang diberikan para pencari SIM agar mudah saat proses tes berkendara. Tak sedikit pula barang-barang yang sudah terlanjur diterima ia kembalikan kepada pemiliknya.

    Jika ada peserta yang gagal ujian praktek, Seladi akan mengajari. Dengan sabar, ia akan terus mengajari. Seladi tak ingin meloloskan begitu saja karena hal ini menyangkut keselamatan di jalan raya.   

  • Kejujuran Bripka Seladi, anggota Satlantas Polres Malang Kota, menginspirasi masyarakat dan anggota DPR RI. Meski berdinas di bagian 'basah', Bripka Seladi yang bertugas sebagai penguji praktek Surat Izin Mengemudi (SIM) A di Polres Malang Kota ini tidak pernah menerima pemberian uang ataupun barang dari pemohon SIM.

    "Selama 14 tahun berdinas saya tidak pernah menerima uang ataupun makanan. Saya ingin menjaga antara hati dengan ucapan sama. Saya tidak mau seperti itu (terima suap)," jelas Bripka Seladi di Gedung Nusantara, Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/5).

    Lebih lanjut pria kelahiran Malang, Jawa Timur 57 tahun silam ini mengatakan sebenarnya kalau ia mau mencari uang dengan memanfaatkan posisinya sekarang sangatlah mudah. Terlebih ia ditempatkan sebagai penguji untuk mendapatkan SIM.

    "Cari rezeki itu mudah. Saya sering diberi uang saat sedang menguji, tapi langsung saya tolak," ujarnya. 

    Bripka Seladi mengaku selalu menolak suap yang diberikan para pencari SIM agar mudah saat proses tes berkendara. Tak sedikit pula barang-barang yang sudah terlanjur diterima ia kembalikan kepada pemiliknya.

    "Yang bilang susah buat SIM itu cuma calo. Anak istri saya terlatih untuk tidak menerima suap, jadi kalau ada orang yang bawa makanan atau barang ke rumah kalau itu ada hubungannya dengan pembuatan SIM saya langsung tolak," tuturnya.

    Nilai-nilai kejujuran pada diri Bripka Seladi juga ia ditanamkan kepada tiga anaknya, di mana dua anak laki-lakinya telah mendaftar sebagai polisi.

    "Anak saya yang kedua sedang proses masuk kepolisian. Anak yang terakhir juga katanya mau masuk polisi," imbuh Seladi. (Yni)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Polisi Temukan Bukti Ajakan Berbuat Rusuh Demo Setahun Jokowi-Ma'ruf
Indonesia
Polisi Temukan Bukti Ajakan Berbuat Rusuh Demo Setahun Jokowi-Ma'ruf

Namun, beberapa orang disebutnya juga telah ada yang dipulangkan

ISIS Masih Eksis di Indonesia, Pengamat Minta Warga Waspadai Teror Saat Natal
Indonesia
ISIS Masih Eksis di Indonesia, Pengamat Minta Warga Waspadai Teror Saat Natal

Stanislaus mennyebut, bom malam natal yang pernah terjadi secara serentak di beberapa kota menjadi momok menakutkan saat perayaan Natal.

 Tegur Pemprov DKI, Setneg Desak Revitalisasi Monas Dihentikan Sebab Tak Berizin
Indonesia
Tegur Pemprov DKI, Setneg Desak Revitalisasi Monas Dihentikan Sebab Tak Berizin

"Karena itu (izin) jelas belum ada, ada prosedur yang belum dilalui ya kita minta untuk disetop dulu," ujar Pratikno

Deposito Bank DBS Swiss Sunda Empire Terbukti Palsu
Indonesia
Deposito Bank DBS Swiss Sunda Empire Terbukti Palsu

Kesimpulan dipastikan setelah pihaknya mendapat konfirmasi dari Kedutaan Besar Swiss.

Rapot Merah untuk Pemerintahan Jokowi
Indonesia
Rapot Merah untuk Pemerintahan Jokowi

Di sisi lain, hal ini tidak menjamin bahwa kritik dan rekomendasi dari masyarakat sipil dipertimbangkan dan berdampak dalam proses kebijakan.

Banjir dan Tanah Longsor Tutup Akses Jalan ke Geopark Ciletuh
Indonesia
Banjir dan Tanah Longsor Tutup Akses Jalan ke Geopark Ciletuh

Rusaknya jalur penghubung itu, menyebabkan warga terpaksa harus mengalihkan perjalanannya ke lokasi lainnya yang lebih jauh.