Image
Author by : Nilam menyampaikan beratnya perjuangan bangun usaha kebab karena susah dapat dukungan pemerintah (Foto: MerahPutih/Venansius Fortunatus)

Perihal dukungan terhadap pengusaha lokal, Nilamsari sebenarnya merasa iri dengan pemerintah Malaysia. Ia mencontohkan, salah satu rekannya yang mengelola Kopitiam di Malaysia menceritakan, jika usaha tersebut bisa ekspansi ke luar negeri berkat campur tangan pemerintah.

"Jadi, mereka (Kopitiam) justru ditegur pemerintah Malaysia kenapa tidak ekspansi ke luar negeri. Mereka butuh dana dan pemerintah langsung menggelontorkan loan (pinjaman) dan tidak tanggung-tanggung hingga 90 persen. Lihat hasilnya, di Indonesia Kopitiam berkembang pesat, padahal itu punya Malaysia," bebernya panjang lebar.

Meski tidak didukung pemerintah, Nilam merasa hal tersebut bukanlah hal yang harus disesali. Justru membuatnya harus berpikir kreatif agar perusahaan tetap jalan dalam kondisi apapun.

"Ambil positifnya saja. Pengusaha Indonesia itu dikenal sebagai orang-orang yang kreatif dan banyak akal. Itu karena ya, kondisi di Indonesia," terangnya.

Menurut Nilam, hal itu pulalah yang membuat para pengusaha Indonesia kerap bisa bertahan dengan goncangan ekonomi negara.

"Jadi kalau ada goncangan ekonomi negara seperti saat ini, ya kita berpikir, kemarin-kemarin juga pernah dan bisa tetap jalan," ujar Nilam sambil tersenyum.

Image
Author by : Pengusaha kata Nilam harus punya jiwa bersaing dengan brand global (Foto: MerahPutih/Venansius Fortunatus)

Menurut Nilamsari, perusahaannya sempat mengalami kolaps pascareformasi, sekitar tahun 1998 dan 2009. Saat itu Nilam memiliki utang sekitar Rp14 miliar dan sudah tidak mampu lagi untuk membayarnya. Gejolak politik, ekonomi dan persaingan usaha menjadi momok yang cukup menakutkan kala itu.

"Saya sudah tidak mampu lagi bayar utang. Selalu gagal bayar," kenangnya.

Ia menyadari, dalam membangun sebuah usaha, maju dan mundur memang hal yang biasa. Prinsipnya, ketika sudah melangkah, pantang untuk mundur. Karena itu, ia berusaha putar otak untuk mengatasi krisis tersebut. Apalagi jika mengingat, saat itu ratusan karyawan bergantung pada perusahaan.

Namun, ketika sedang mengalami kebuntuan, ada pihak lain yang ingin membeli usaha yang telah dirintis dengan susah payah itu.

"Sempat ingin menjual. Kan enak tuh, saya terbebas dari utang dan dapat uang pula," ujarnya.

Di saat itu, ia kembali mengingat prinsip sekali melangkah pantang untuk mundur. Apalagi pertimbangannya, jika perusahaan dijual, banyak pegawainya akan kehilangan pekerjaan. Terlebih jika memang usahanya itu kemudian akan diambil pengusaha luar negeri.

"Secara moral saya tidak bisa melakukan itu (menjual perusahaan). Jadi jalan yang terbaik memikirkan solusi menyelamatkan perusahaan. Bukan untuk bertahan, tapi menyerang sekaligus. Karena kalau motivasinya bertahan, lebih baik mati saja. Saya ingin memotivasi pengusaha lainnya untuk bangkit, bangkit dan bangkit," tegasnya.

Mulailah Nilamsari mempekerjakan para ahli di bidang keuangan, kreatif dan logistik dengan mengucurkan dana yang besar untuk membayar mereka.

"Selama tiga bulan kita malah berdebat. Namun saya akhirnya dapat ilmu dan wawasan juga. Akhirnya perusahaan bisa kembali berjalan dan malah bisa berkembang," ujarnya.

Image
Author by : Sertifikasi Halal jadi salah satu prioritas Kebab Babarafi untuk bersaing ke luar negeri (Foto: MerahPutih/Venansius Fortunatus)

Menariknya, meski dibuka di luar negeri, mitra kerja Baba Rafi harus menyertakan sertifikasi halal dari badan terkait di negara masing-masing. Menurut Nilamsari, syarat itu menjadi hal utama jika kemitraan terbentuk.

"Kami ingin ada unsur kenyamanan bagi konsumen muslim. Kalau di luar itu (non muslim) terutama di eropa kan lebih mementingkan unsur kesehatannya," ujar Nilamsari, Direktur Marketing PT Baba Rafi Indonesia kepada merahputih.com, Selasa (18/8).

Nilamsari mencontohkan, Baba Rafi yang ada di Tiongkok dan Filipina, mitranya pun tak keberatan dengan syarat itu.

"Kebetulan yang di Tiongkok itu pemiliknya muslim juga," ujar Nilamsari.

Selain itu, Nilamsari membebaskan mitranya untuk membuat olahan bumbu sehingga pas untuk masyarakat di negara itu, namun tetap dalam kontrol perusahaannya.

"Misalnya di Tiongkok, rasanya agak berbeda dengan Malaysia. Di Belanda yang nanti September buka, lebih kepada unsur kesehatannya. Rotinya harus gluten free (bebas gula).

Kalau yang rasanya hampir sama dengan di Indonesia, yang di Filipina," urainya.

Untuk bahan baku utama kebabnya, yakni daging sapi, ambilnya dari sapi New Zealand.

Harganya lebih murah," ujarnya lagi.

Image
Author by : Daging Sapi lokal belum bisa penuhi standar kualitas kebab Babarafi (Foto: MerahPutih/Venansius Fortunatus)

Sebagai pengusaha Indonesia, Nilamsari juga menginginkan produk olahannya menggunakan bahan baku yang berasal dari Indonesia, terutama daging sapi. Namun apa daya, ketersediaan yang terbatas dan harga yang mahal, membuatnya berpikir ulang. Ia berharap, pemerintah segera mengatasi hal tersebut.

"Bukannya enggak mau menggunakan produk lokal, nah, harganya mahal, barangnya sulit serta kualitasnya juga belum memadai. Jadi kami gunakan daging sapi impor dari New Zealand. Nah, berhubung tergantung dolar, harganya juga sedang naik," ujarnya.

Meski kembali dirundung situasi ekonomi yang sedang sulit, Nilamsari sudah memperhitungkannya dengan matang. Produk Baba Rafi sudah dihitung berdasarkan harga atas dan bawah.

"Ini sudah terjadi berkali-kali jadi sudah biasa pada akhirnya," tuturnya.

Menurut Nilamsari, banyak cara untuk mengatasi situasi ekonomi yang membuat daya beli masyarakat saat ini menurun.

"Kita kembangkan varian baru, jenis baru. Kan Baba Rafi tidak hanya menjual kebab, ada sosis, ada daging ayam. Lagipula produk Baba Rafi bukan hanya kebab. Jadi ada subsidi silang, seperti itu," urai perempuan yang punya hobi travelling itu.

Ia berharap, pemerintah bisa menyelesaikan masalah ketersediaan daging sapi lokal yang berkualitas dengan ditunjang infrastruktur dan fasilitas lainnya untuk mendukung pengusaha lokal.

Image
Author by : Baba Rafi melalui kebabnya ingin perkenalkan Indonesia ke dunia internasional (Foto: MerahPutih/Venansius Fortunatus)

Menjalin kemitraan dengan beberapa pengusaha kuliner di beberapa negara Asia dan Eropa membuat Nilamsari merasa bangga. Bukan karena usahanya kini dikenal luas namun sebagai orang Indonesia, dirinya bisa ikut memperkenalkan Indonesia.

Dalam setiap transaksi di luar negeri, Nilamsari mengaku tidak pernah malu untuk menyebutkan jati dirinya sebagai orang Indonesia meski diakui banyak pertanyaan dan cibiran miring.

"Namun masyarakat dunia masih menganggap Indonesia itu pasar yang seksi. Waktu ada pertemuan dengan pengusaha dunia beberapa waktu lalu, orang-orang membicarakan Indonesia, bukan Singapura dan negara lain. Mereka merasa Indonesia menjadi pasar yang seksi. Di Indonesia dengan segala keterbatasan, orang masih sanggup beli barang," ujarnya.

Malah, menurut Nilansari, pengusaha luar negeri kerap memuji pengusaha Indonesia karena selalu bisa melewati goncangan ekonomi dan kreatif. Selain itu untuk kemitraan di luar negeri, Nilamsari tidak lagi menyebutkan Kebab Turki Baba Rafi, melainkan hanya Kebab Baba Rafi.

"Biar kata-kata Turki-nya hilang dan supaya tidak identik dengan Turki," ujarnya.(wan)

 


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH