Image
Author by : Masjid Agung Banten Deskripsi (Foto: Instagram/@sahabatinspirasi)

Masjid Agung Banten yang berdiri sejak tahun 1569 merupakan salah satu peninggalan sejarah kesultanan Banten, yakni Sultan Maulana  Hasanudin yang merupakan putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Berbicara soal arsitektur bangunan, Masjid Agung Banten sendiri terdiri dari perpaduan beberapa sentuhan budaya, antara lain yaitu Tiongkok, Jawa, Hindu Serta Eropa.

Jika anda ingin berkunjung ke Masjid Agung Banten, letaknya yaitu kurang lebih sekitar 12 kilometer dari sebelah utara Kota Serang. Sementara dengan akses jalan sendiri, anda dapat menuju Masjid Agung Banten dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Lalu yang menjadi salah satu ciri khas Masjid Agung Banten sendiri yaitu sebuah menara setinggi 24 meter, di mana para pengunjung dapat keatas menara dengan melewati 83 anak tangga serta melewati lorong sempit. Namun sesampai diatas menara, perjuangan lelahnya naik keatas menara akan terbayar dengan pemandangan indah disekitar Masjid dari atas menara.

Di Masjid Agung Banten, anda tak hanya dapat melihat Masjid dengan arsitektur yang megah, pasalnya pada Masjid Agung Banten juga banyak makam orang-orang yang dikenal berjasa dalam penyebaran agama Islam di Banten. Antara lain yaitu, Sultan-Sultan Banten dan keluarganya. Maka tak heran jika Masjid Agung Banten tak pernah sepi dari pengunjung dan peziarah.

Image
Author by : Makam keramat di Solear (Foto: MerahPutih/Rizki Fitrianto)

Selain menikmati suasana alam dan berinteraksi dengan ratusan kera liar, Hutan Lindung Solear juga dikenal tempat berziarah. Di dalam hutan lindung terdapat makam seorang ulama Syekh Mas Masad bin Hawa.

Para peziarah juga mengunjungi Hutan Lindung Solear saat malam hari untuk mendapatkan suasana berbeda saat berziarah. Wisata religius ini tentu menambah keeksotisan Hutan Lindung Solear.

Hutan Lindung Solear terletak di Desa Solear, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Di Banten, ada beberapa kawasan konservasi yang menjadi objek wisata alam. Sebut saja kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang dan Pulau Dua atau Pulau Burung di Kota Serang. Di Kabupaten Tangerang, ada Hutan Lindung Solear.

Hutan Lindung Solear dapat ditempuh dari pusat kabupaten, Tiga Raksa, kurang lebih 17 kilometer. Destinasi wisata ini dapat ditempuh melalui Balaraja menuju Cisoka. Seperti diketahui, Kecamatan Solear merupakan pemekaran dari Kecamatan Cisoka.

Hutan Lindung Solear menawarkan keindahan alam. Kesegaran udara di dalam hutan dengan pohon-pohon besar membuat pengujung bisa berwisata sore saat bulan Ramadan. Hutan Lindung Solear telah dilengkapi dengan sarana wisata, seperti lahan parkir memadai. Jalur trekking di dalam hutan juga sudah bangun sehingga pengunjung dapat menikmati suasana alam bebas dengan nyaman.

Image
Author by : Situs Batu Quran (Foto: Instagram/fitriumayah_30)

Situs Batu Quran merupakan salah satu destinasi wisata religius diKabupaten Pandeglang, Banten. Situs berupa kolam tersebut terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya kurang lebih 300 meter dari kawasan wisata pemandian alam Cikoromoy, Desa Kadu Bumbang, Kecamatan Cimanuk.

Situs Batu Quran memperkenalkan cerita tentang tokoh Islam di kawasan tersebut pada masa Kesultanan Banten. Adalah Syekh Mansyur yang melekat pada destinasi wisata tersebut. Jika Anda mencari bahwa ada tulisan al-Quran di atas batu, Anda tidak akan menemukannya.

Situs Batu Quran hanya berupa kolam pemandian. Batu Quran yang dimaksud yaitu sebuah batu berukuran besar yang berada di dasar kolam. Saking jernihnya air, batu tersebut dapat dilihat dari pinggiran kolam. Suasana di lokasi sangat alami karena berada di kaki Gunung Karang.

Kolam Batu Quran banyak didatangi para wisatawan. Wisatawan setempat maupun dari luar kota membasuh diri di air yang sangat alami tersebut. Di dekat kolam terdapat banyak pohon sehingga kolam dengan luas kurang lebih 15x15 meter dan kedalaman 1 meter itu sangat teduh. Pengelola juga menyediakan wadah bagi pengunjung yang ingin membawa air dari sana sebagai oleh-oleh.

Image
Author by : Gunung Santri (Foto: Instagram/anggraini07dewi)

Gunung Santri terletak di desa Bojonegara, kecamatan Bojonegara, kabupatenSerang, Banten. Gunung Santri sebetulnya diambil dari nama salah satu bukit dan juga nama kampung yang bersejarah bagi syiar agama Islam di Banten.

Lokasi Gunung Santri berada di sebelah barat laut daerah pantai utara atau sekitar 7 kilometer dari Cilegon. Gunung Santri sendiri berada di tengah-tengah, dikelilingi gugusan bukit yang memanjang dari pantai hingga ke Gunung Gede.

Di puncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Di kaki Gunung Santri tepatnya sebelah utara kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Gunung Santri menjadi kesohor lantaran di bukit inilah dimakamkan ulama besar Banteng, Syekh Muhammad Sholeh.

Di kaki Gunung Santri tepatnya sebelah utara kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Gunung Santri menjadi kesohor lantaran di bukit inilah dimakamkan ulama besar Banteng, Syekh Muhammad Sholeh.

Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.

Dikisahkan usai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya.

Syekh Muhammad Sholeh wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan agama Islam. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M.

Jalan menuju makam Syekh Muhammad Sholeh mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai Gunung Santri jika hendak berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara.

 

Image
Author by : Masjid Pintu Seribu (Foto: MerahPutih/Instagram)

Jika ada Lawang Sewu di Semarang, Masjid Seribu Tiang di Jambi, di Tangerang pun memiliki bangunan unik yang tidak kalah menarik yakni Masjid Nurul Yaqin atau yang sering disebut Masjid Pintu Seribu.

Masjid Seribu Pintu terletak di di kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Di Indonesia sendiri jarang sekali ada Masjid yang memiliki seribu pintu. Tak heran jika keunikan Masjid Pintu Seribu ini mampu menarik perhatian dan menjadi salah satu objek wisata di tangerang yang tidak sepi pengunjung.

Usut punya usut, masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar ini didirikan sekitar tahun 1978. Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab yang warga sekitar menyebutnya dengan sebutan Al-Faqir.

Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu di daerah tersebut. Al Faqir membangun Masjid Pintu Seribu ini dengan menggunakan biaya sendiri.

Uniknya, pembangunan Masjid Pintu Seribu ini tidak menggunakan gambar rancangan seperti saat membangun bangunan lainnya. Bisa dibilang desain Masjid Seribu Pintu ini campur aduk.

Jika biasanya bangunan masjid di tanah air di pengaruhi budaya tradisional serta kultur asing terutama Timur Tengah, namun Masjid Seribu Pintu terdapat pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec.

Selain memiliki seribu pintu, tasbih berukuran raksasa yang terbuat dari kayu terpajang di salah satu sudut ruangan berteralis besi. Ukuran masing-masing butir tasbihnya berdiameter 10 cm atau sekitar kepalan orang dewasa dan di 99 butir tasbih tersebut tertulis asma'ul Husna. Di beberapa pintu Anda dapat menjumpai ornamen 999. Angka tersebut bermaknan 99 Asmaul Husna dan 9 wali di tanah Jawa.

Masjid Pintu Seribu juga diyakini sebagai salah satu tempat penyebaran Islam oleh pendirinya. Konon, penyebaran dilakukan dengan cara pembagian sembako untuk fakir miskin dan anak yatim piatu.

Di Masjid Pintu Seribu ini pun terdapat ruang bawah tanah dan makam. Masjid Pintu Seribu juga memiliki banyak lorong sempit yang menyerupai labirin yang dilengkapi dengan petunjuk arah. Jadi jika Anda ingin berkunjung dan menjelajahi tiap sudut Masjid Pintu Seribu ini disarankan untuk menyewa pemandu atau guide.