4 Pimpinan KPK Dikabarkan 'Bobol' Saat Penangkapan Nurhadi, Begini Respons Firli Bahuri Komisi Pemberantasan Korupsi. (Antara/Benardy Ferdiansyah)

MerahPutih.com - Beredar kabar yang menyebut empat pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak mengetahui proses penangkapan mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono pada Senin (1/6) malam.

Penangkapan kedua buronan kasus suap mafia peradilan itu disebut atas intruksi Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango yang meminta penyidik senior KPK Novel Baswedan untuk menangkap para buronan lembaga antirasuah.

Baca Juga

Pimpinan KPK Sebut Novel Baswedan Ikut Tangkap Nurhadi

Ketua KPK Firli Bahuri membantah tidak terlibat dalam proses penangkapan Nurhadi dan Rezky. Menurut Firli, semua unsur di KPK punya andil dalam proses penangkapan tersangka kasus suap mafia peradilan itu.

"Kita kerja sesuai dengan tugas pokok peran fungsi kewenangan KPK. Apa yang dicapai pastilah karena semua pihak memberi andil," kata Firli saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (3/6).

Firli mengklaim kelima pimpinan KPK mengikuti seluruh kegiatan proses penangkapan terhadap Nurhadi dan Rezky. Menurutnya, semua pihak memainkan peran sesuai kewenangannya.

"Mulai dari kelengkapan administrasi, surat perintah, minta bantuan personil polri. Karena hal ini penting supaya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum dan sosial," ujar Firli.

Eks Kabaharkam Polri ini menegaskan, pimpinan lembaga antirasuah bekerja secara kolektif kolegial sehingga mengikuti seluruh proses penindakan terhadap Nurhadi dan Rezky.

"Jadi pimpinan terus mengikuti proses penindakan mulai dari tangkap, geledah dan sampai tersangka dibawa ke kantor KPK. Kita juga apresiasi atas dukungan masyarakat, info dari masyarakat serta ketua lingkungan dan rekan media," kata Firli.

KPK rilis penangkapan Nurhadi dan Rezky Herbiyono di Gedung KPK, Selasa (2/6). Foto: MP/Ponco

Untuk diketahui, tim penyidik KPK menangkap Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyono pada Senin (1/6) malam. Keduanya dibekuk di sebuah rumah di Simprug, Jakarta Selatan.

Dalam penangkapan itu, tim penyidik juga mengamankan istri Nurhadi, Tin Zuraida. Tin diketahui kerap mangkir saat dipanggil oleh penyidik KPK dalam kasus yang menjerat suaminya. Meski demikian, Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi itu masih berstatus saksi dalam kasus ini.

Tim juga turut menggeledah rumah yang diduga jadi tempat persembunyian Nurhadi dan mengamankan sejumlah barang bukti.

Dalam kasus suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA itu, KPK telah menetapkan tiga orang tersangka. Ketiga tersangka itu yakni, Nurhadi, Rezky Herbiono dan Hiendra Soenjoto.

Ketiganya sempat dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron karena tiga kali mangkir alias tidak memenuhi pangggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri. Saat ini, tinggal Hiendra Soenjoto yang belum diamankan.

Nurhadi dijerat sebagai tersangka karena yang bersangkutan melalui Rezky Herbiono, diduga telah menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 46 miliar.

Tercatat ada tiga perkara sumber suap dan gratifikasi Nurhadi, pertama perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara, kedua sengketa saham di PT MIT, dan ketiga gratifikasi terkait dengan sejumlah perkara di pengadilan.

Baca Juga

ICW Desak KPK Jerat Pihak Bantu Pelarian Nurhadi

Rezky selaku menantu Nurhadi diduga menerima sembilan lembar cek atas nama PT MIT dari Direkut PT MIT Hiendra Soenjoto untuk mengurus perkara itu. Cek itu diterima saat mengurus perkara PT MIT vs PT KBN.

KPK telah menahan Nurhadi dan Rezky di rumah tahanan (Rutan) Kavling C1, Gedung KPK lama
setelah menjalani pemeriksaan intensif sejak pagi tadi. Keduanya bakal mendekam di jeruji besi selama 20 hari ke depan terhitung sejak Selasa (2/6) kemarin. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH