304 KPPS Meninggal Dunia, MUI: Pemilu Serentak harus Dievaluasi Sekjen MUI Anwar Abbas (Foto: antaranews)

MerahPutih.com - Jumlah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia yang jumlahnya mencapai angka hampir mendekati 300 orang dan yang mengalami sakit lebih dari 2.000 orang. Jumlah ini dinilai sangat memprihatinkan.

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menduga banyaknya korban dari kalangan KPPS tak lepas dari beberapa faktor.

Logo MUI
Logo Majelis Ulama Indonesia (MUI) (Foto: mui.or.id)

"Hal ini terjadi tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor usia, kesehatan dari masing-masimnf anggota KPPS. Diantaramya waktu kerja yang melebihi jam biologis karena ada diantara mereka yang bekerja 24 jam. Atau karena faktor stress dan keadaan lingkungan yang tidak mendukung," kata Anwar kepada Merahputih.com di Jakarta, Selasa (30/4).

Anwar melanjutkan, MUK meminta pemerintah untuk mempelajari dan mengkaji masalah ini drngan serius.

"Agar dalam kegiatan pemilihan yang akan datang hal ini bisa di atasi sehingga hal yang tidak kita inginkan ini, tidak terjadi lagi," ungkap Anwar.

Menurut Anwar, perlu juga bagi pemerintah dan DPR untuk mengkaji ulang tentang manfaat dan mudharat dari diselenggarakannya pemilihan serentak.

"Memang dari sisi pengeluaran keuangan mungkin akan terjadi efisiensi yang besar. Tapi dari sisi lain kebijakan ini ternyata juga telah membawa korban yang banyak baik yang meninggal atau sakit," jelas Anwar

Ilustrasi Surat Suara untuk DPR di Pemilu 2019 (Foto: antaranews)
Ilustrasi Surat Suara untuk DPR di Pemilu 2019 (Foto: antaranews)

Di samping itu, MUI juga menyampaikan ucapan belasungkawa dan dukacita kepada keluarga yang ditinggalkan.

"Dengan harapan semoga dalam menghadapi ujian dan cobaan ini seluruh anggota keluarga dan karib kerabat diberi ketabahan dan kesabaran yang tinggi oleh Allah SWT," tutup Anwar. (Knu)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH