3 Fakta Mengejutkan Seputar Perang Puputan Klungkung 1908 Perang Puputan. (Foto: hariansejarah.id)

BAGI masyarakat Klungkung, Bali, 28 April bukan sekadar penanggalan biasa. Di dalamnya tercatat sebuah sejarah penting nan membekas di hati. Ratusan rakyat juga Raja Klungkung Dewa Agung Jambe II (1903-1908) gugur saat berperang melawan Belanda. Perang tersebut dikenal dengan nama Puputan Klungkung 1908.

Bagi rakyat Bali, haram hukumnya untuk diam ketika martabat dan harga diri diinjak-injak. Baik raja maupun rakyat ikut memberontak. Mereka pun angkat senjata. Meski hanya bermodalkan tombak, tanpa rasa takut mereka menyambar pasukan kolonial bersenjata modern seperti senapan hingga meriam berukuran besar.

Namun, di balik keberanian itu terdapat beberapa fakta menarik, jarang diketahui masyarakat Indonesia. Nah, merahputih.com mencoba merangkum fakta-fakta tersebut. Mau tahu apa saja, silakan simak berikut ini.

1. Laskar Klungkung berhasil membunuh perwira kolonial

Raja Dewa Agung Jambe II (tengah). (Foto: wikimedia.org)

Sebelum terjadi pertempuran hebat di Istana Semarapura, Kerajaan Klungkung pada 16 April 1908 berhasil membunuh 10 serdadu kolonial. Salah satunya seorang pimpinan mereka, Letnan Haremaker. Made Sutaba dkk dalam buku "Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Bali" menjelaskan, Haremaker mati setelah sampai di Gianyar.

Akibatnya, pihak kolonial menjadi murka. Bahkan mereka menuding pihak Kerajaan Klungkung telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Raja Dewa Agung Jambe II dan rakyat diminta untuk menyerah sampai 22 April 1908. Ancaman itu ternyata tak mengendurkan nyali raja dan rakyat. "Justru semangat perang semakin besar," tulis Made Sutaba dkk.

2. Perang dengan pakaian serbaputih

Perang Puputan. (Foto: balisaja.com)

Bagi masyarakat Bali, busana adat memiliki nilai-nilai luhur seperti keteduhan, kedamaian, dan sukacita. Tidak hanya dikenakan untuk upacara atau ritual saja, juga pada saat perang. Hal itu tampak ketika terjadi perang Puputan Klungkung 1908. Baik raja maupun rakyat mengenakan pakaian serbaputih.

Mereka meyakini, pakaian serbaputih dapat mengantarkan jiwa-jiwa yang tenang menuju alam nirwana. Selain itu, mereka juga meyakini, ketika hendak menunaikan "dharmaning ksatria" mesti mengikuti aturan yang telah dilakukan oleh leluhur-leluhur mereka.

3. Lawan meriam dengan tombak

Ilustrasi Perang Puputan Klungkung. (Foto: beritabali.com)

Ketika sudah berbicara perang, pantang bagi masyarakat Bali untuk gentar. Bahkan, mereka tak peduli meski hanya bermodalkan senjata ala kadarnya. Dalam perang Puputan Klungkung 1908, baik raja maupun rakyat maju ke medan laga menghadapi senjata modern kolonial seperti meriam hanya dengan sebuah tombak.

Meski kalah senjata dan jumlah, namun sejarah tak akan pernah melupakan keberanian mereka dalam melawan penindasan kolonial Belanda. Raja Klungkung Dewa Agung Jambe II (1903-1908) sendiri tewas dalam berondongan peluru serdadu pada Rabu, 28 April 1908.


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH