3,5 Tahun, Jokowi Genjot Aset BUMN Menjadi Rp 7.500 T Presiden Jokowi saat meresmikan PLTB di Kabupaten Sidrap, Senin (2/7). (Foto: BPMI)

MerahPutih.com - Juru Bicara Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Rizal Calvary Marimbo, mengapresiasi kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hanya dalam tiga setengah (3,5) tahun terakhir, aset BUMN tumbuh signifikan menjadi sekitar Rp 7.500 triliun

"Perhitungan kami aset BUMN saat ini mencapai sekitar Rp 7.500 triliun," ujar Rizal dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, hari ini.

Dia mengatakan, saat Jokowi-JK “mengambil alih” kekuasaan, pemerintahan diwarisi aset BUMN sekitar Rp 4.500 triliun pada akhir 2014. Pertumbuhannya pun sangat lamban. Namun, kini, aset BUMN tersebut tumbuh hingga 60 persen, menjadi Rp 7.200 triliun pada akhir tahun lalu.

"Sampai akhir Semester I-2018, perhitungan kami aset BUMN sudah mencapai Rp 7.500 triliun, artinya ada penambahan nilai aset sebesar Rp 3.000 triliun hanya dalam tiga tahun," ucap Rizal.

Kementerian BUMN

Rizal mengatakan, pesatnya lonjakan aset BUMN ini tak lepas dari keberhasilan pemerintah dalam melibatkan BUMN dalam pembangunan infrastruktur secara besar-besaran. Sehingga perseroan, utamanya BUMN Karya dan infrastruktur, memiliki pasar yang besar untuk menaikkan asset values-nya.

“Dulu itu kan masalahnya, BUMN tidak berani bangun infrastruktur karena rata-rata dept to equity ratio-nya (DER) sudah ketinggian. DER-nya diselesaikan pemerintah dengan penyertaan modal, BUMN berani ekspansi,” ujarnya.

Tak hanya itu, kinerja BUMN relatif membaik juga sebab ditopang oleh 20 perseroan yang melantai di pasar modal tahun lalu. Dampaknya, Rasio Return on Asset (RoA) BUMN di Indonesia kini lebih baik daripada Khazanah, meskipun masih dibawah Temasek, punya Singapura.

“Kita punya pasar yang besar. Tak mustahil secepatnya bisa lampaui Singapura,” ucap Rizal.

Terlebih lagi, imbuh Rizal, pembentukan holding BUMN akan berdampak positif bagi efisiensi dan percepatan pertumbuhan perusahaan.

“Gigantis holding BUMN akan mendorong efisien dan produktifitas. Tapi juga akan mendorong konsolidasi di unit-unit dan sektoralnya, sehingga BUMN akan lebih kompetitif di pasar domestik maupun global,” tegas dia.

Perusahaan BUMN Indonesia

Bagi pemerintah, lonjakan aset tersebut menambah perbendaharaan aset produktif negara dengan nilainya tiga kali Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

“Bila dibandingkan dengan total utang negara atau utang BUMN itu sendiri, DER-nya masih lapang sekitar 55 persenan,” ucap dia.

Agent of development

PSI menilai, optimalisasi BUMN sebagai agent of development (agen pembangunan) baru benar-benar terimplementasi di rezim saat ini.

“Dulu itu kita selalu berteriak defisit pembangunan infrastruktur, disparitas terlalu tinggi, sehingga negara diminta intervensi. Muncul kalangan interventionalism. Tangan pemerintah musti berperan. Sekarang sudah dijalankan,” ucap dia. (*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH