27 Steps of May, Kisah Kelam Trauma Korban Kekerasan Seksual 1998 May menggambarkan kisah para perempuan korban kerusuhan Mei ‘98. (Foto: Instagram 27stepsofmay)

MAY menikmati harinya di taman bermain seorang diri. Gadis nan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut asyik menyaksikan wahana permainan kora-kora, kincir angin, melihat atraksi tong, menikmati permen kapas, dan membawa pulang balon serta boneka. Namun, siapa sangka, hari bahagia itu berubah menjadi malam kelam mengubah hidupnya secara drastis.

Baca Juga:

Mengungkap Efek Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kenakalan Anak SMA Lewat 'Dignitate'

Dalam perjalanan pulang melewati lorong sepi, May melihat lampu merah berkedip di jalan. Saat akan memungutnya, ia kontan dibekap seseorang dari belakang dan ditarik ke suatu ruangan. Malam itu, May diperkosa tiga lelaki dewasa. Ia pulang dengan tatapan kosong dan lunglai tanpa membawa apapun selain pakaian robek masih melekat di tubuhnya.

Saat dipanggil ayahnya, ia tidak menjawab. Ayahnya kemudian terus memanggilnya sembari menghampirinya, tetapi tidak ada sepatah kata keluar dari mulutnya. Ia hanya terus berjalan dengan tatapan kosong hingga ke dalam rumah. Sesaat kemudian, ayahnya tahu sesuatu mengerikan telah terjadi kepada putri semata wayangnya.

27 step of may
Potongan adegan di dalam film 27 Steps of May. (Foto: Instagram 27stepsofmay)

Kejadian itu meninggalkan trauma sangat mendalam hingga mengubah hidup May, semula periang menjadi seseorang sangat tertutup. May bahkan menutup diri dari dunia luar dan kehidupan sosial. Ia sehari-hari hanya melakukan kegiatan dengan pola sama persis, dan memakan makanan dengan menu sama setiap harinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Ayahnya telah melakukan segalanya agar putrinya bisa kembali seperti semula, tetapi tidak ada satu pun cara berhasil. Di hadapan May, ayahnya terlihat tegar namun ternyata memendam rasa putus asa. Ayahnya sampai harus naik ring tinju untuk melampiaskan rasa putus asanya sekaligus amarah melihat putri satu-satunya menjadi pemurung.

Meski mengurung diri, May tetap setia membantu ayahnya membuat boneka saban hari sesuai dengan permintaan pelanggan. Kisah kelam May di dalam film 27 Steps of May, bukan sekedar fiktif belaka, namun mewakili para korban kekerasan seksual pada peristiwa Mei ’98 terutama remaja perempuan.

27 step of may
Bantu May bangkit dari trauma kekerasan seksual. (Foto: Unsplash-Romina Farias).

May memperlihatkan perjuangan korban kekerasan seksual untuk bangkit kembali dari trauma. Film besutan suradara Ravi Bharwani tersebut sangat minim dialog, seolah penonton diajak menjelajahi situasi kelam, serta trauma dialami para korban kekerasan seksual lewat.

Film nan kali perdana tayang di gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 pada 28 November 2018 tersebut memperlihatkan perjuangan sepasang anak dan ayah berjuang sekuat tenaga keluar dari trauma mendalam, bahkan tak ada hukum tegak baginya untuk menuntun keluar dari situasi kelam.

Baca Juga:

Kacamata 3D Merah-Biru, Pelengkap Nonton Masa Kecil 90-an

Gambaran di dalam 27 Step of May tersebut serupa sebangun dengan kebanyakan korban kekerasan seksual nan enggan bahkan tak berani melapor lantaran senantiasa beroleh stigma buruk.

Para korban merasa kasus mereka alami sebagai aib sehingga harus ditutup rapat, tetapi dalam beberapa kasus, korban perempuan memberanikan diri untuk melapor juga sering tak beroleh hasil maksimal.

Di dalam film bahkan nyatanya di kehidupan sehari-hari, korban kekerasan seksual harus menerima situasi dan perasaan tak mengenakan akibat trauma. Pemulihan para korban tidaklah mudah, tidak hanya luka fisik. Para korban biasanya mengalami trauma psikis bahkan ada sampai melukai diri sendiri hingga mengakhiri hidupnya.

Belakangan, para korban kekerasan seksual mulai berani bersuara dan beroleh dukungan banyak pihak. Mereka berdiri dan memihak korban. Tak heran bila satu per satu kasus kekerasan seksual bahkan di lingkungan kampus mulai terkuak lantaran para korban berani buka suara.

Dalam hal pencegahan aksi kekerasan seksual di lingkungan kampus, lahir Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Meski jelas-jelas aturan tersebut menjadi payung bagi pencegahan tindak kekerasan seksual di lingkungan kampus, pro kontra tetap saja terjadi. (Tel)

Baca Juga:

Budayakan Membersihkan Sampah Sendiri Setelah Nonton Bioskop

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Sepatu Baru Bikin Lecet? Ini Cara Mengatasinya
Hiburan & Gaya Hidup
Sepatu Baru Bikin Lecet? Ini Cara Mengatasinya

Mengapa sepatu baru, bahkan yang terbuat dari kulit lembut, hampir selalu tidak nyaman untuk dipakai pada awalnya?

Hal yang Harus Dilakukan Saat Orangtua Punya Gaya Parenting Berbeda
Fun
Meskipun Menyebalkan, Gemini Itu…
Fun
Meskipun Menyebalkan, Gemini Itu…

Karakter Gemini tidak seburuk yang ada di dalam benak kebanyakan orang.

Squid Game Masuk Nominasi Serial Drama di Emmy
Fun
Doctor Strange Menggunakan Rune di 'Spider-Man: No Way Home'
Fun
Doctor Strange Menggunakan Rune di 'Spider-Man: No Way Home'

Rune tersebut mirip seperti yang ada di serial 'Wandavision'.

Prank Muhammad Nuh Menang Lelang Motor Listrik Jokowi
Fun
Prank Muhammad Nuh Menang Lelang Motor Listrik Jokowi

Seorang pria yang berhasil memenangi lelang motor listrik yang ditanda tangani oleh Presiden Jokowi.

Bentley Flying Spur Speed Debut dengan Mesin Besar dan Tenaga Monster
Fun
Bentley Flying Spur Speed Debut dengan Mesin Besar dan Tenaga Monster

Akselerasi Bentley Flying Spur Speed 0-100 km/jam hanya 3,7 detik.

Waspadai Endometriosis, Jangan Remehkan Nyeri Haid
Hiburan & Gaya Hidup
Waspadai Endometriosis, Jangan Remehkan Nyeri Haid

Endometriosis menelan biaya yang sangat mahal dalam perawatan kesehatan.

Berkenalan dengan Karakter di Film 'Free Guy'
ShowBiz
Berkenalan dengan Karakter di Film 'Free Guy'

Layaknya dunia nyata, tiap karakter memiliki kepribadian yang unik dan beragam.

Fakta Seru di Balik Drama Netflix 'Narco-Saints'
ShowBiz
Fakta Seru di Balik Drama Netflix 'Narco-Saints'

Narco-Saints terinspirasi dari kisah nyata.