26 Tahun Berdiri, Yayasan AIDS Indonesia Terus Gencar Gaungkan Pencegahan HIV&AIDS YAI selama 26 tahun berusaha membuat masyarakat lebih peduli pada AIDS&HIV. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

YAYASAN AIDS Indonesia (YAI) didirikan pertama kalinya pada tanggal 13 Agutus 1993. Para pendiri Yayasan tersebut antara lain yakni Kartini Muljadi SH, Martina Widjaja, dr.Kartono Mohamad, Pof. DR Sarlito W. Sarwono, dr. Lukas Hendrata (alm), Dra. Mawarwati Djamaloeddin dan Darwina Pontjo Sutowo.

Tujuan utama dari Yayasan AIDS Indonesia sendiri yaitu membangun kesadaran masyarakat, tentang informasi HIV AIDS. Hal itu mengingat saat ini setiap tahunya kasus HIV AIDS terus meningkat. Dahulu sekitar tahun 1993 hingga tahun 1998, YAI lebih terkonsentrasi atau terfokus pada perusahaan. Namun seiring berjalannya waktu, dari mulai tahun 1998 hingga saat ini, YAI mulai merambah SMP, SMA, dan Kampus.

Baca Juga:

Harapan Hidup bagi ODHA itu Bernama ARV

aids
Menjadi lebih peduli pada ODHA. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Kegiatan yang dilakukan oleh YAI cukup beragam, intinya yakni bergerak pada pencegahan HIV&AIDS. Dari mulai penyuluhan, seminar, talkshow, pameran, kampanye, fliyering dan layanan konsultasi kepada masyarakat. Selain melakukan pergerakan nyata langsung terjun ke lapangan, YAI juga terus dengan gencar memberikan informasi soal pencegahan HIV&AIDS pada website resmi dan media sosial.

"Setiap harinya kita melakukan berbagai kegiatan, salah satunya penyuluhan. Anggotanya saat ini sudah ada 700 orang yang tersebar di Jabodetabek," tutur Andrian saat ditemui merahputih.com di kawasan CFD Bunderan HI, Jakarta, Minggu (1/12).

Seperti yang telah disebutkan Andrian, YAI sendiri kini hanya terfokus pada area Jabodetabek saja, melainkan belum merambah wilayah diluar tersebut. Namun Andrian menjelaskan, jika YAI diundang untuk memberikan informasi diluar pulau jawa, YAI akan hadir.

"Karena YAI fokusnya di pencegahan, kita banyak bertemu dengan orang-orang. Pas kita masukin proposal banyak banget penolakan, karena kan orang ga gampang nerima kayak 'eh ngapain nih orang nakal' penyakit kutukan," jelas Andrian.

Melihat adanya berbagai kesulitan untuk memberikan informasi tentang pencegahan HIV&AIDS, Andrian menuturkan itulah mengapa peran relawan sangat penting. Namun relawan saja tak cukup dalam hal ini, dibutuhkan sebuah kolaborasi dengan berbagai pihak demi tersampaikannya pesan positif tersebut pada masyarakat luas.

Baca Juga:

Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) Juga Bisa Traveling

aids
Respon masyarakat sangat positif pada YAI. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Perlu diketahui YAI disini hanya terfokus pada pencegahan HIV&AIDS, bukan tentang orang yang mengidap HIV/ AIDS (ODHA). Tapi pada beberapa kegiatan yang dilakukan, pihak YAI tak menampik jika bersinergi dengan rekan-rekan ODHA, namun bukan berarti seluruh kegiatan.

Setiap kegiatannya, YAI selalu mendapat respon yang baik dari masyarakat. Apalagi beberapa waktu lalu, kampanye YAI yang dilakukan dilokasi Car Free Day pun sempat menjadi viral di media sosial, hingga semakin hari respon dari masyarakat semakin baik.

Tak jarang banyak para masyarakat yang turut bergabung menjadi relawan di YAI, usai melihat kampanye tentang pencegahan HIV&AIDS.

"Banyak (yang mau jadi relawan), jadi kita juga buka pendaftaran dulu, prosesnya isi form dulu terus diutamakan usianya 18-24 tahun. Kita butuh teman-teman usia muda, karena kita lebih banyak turun di lapangan. Soalnya kan kalau sudah 24 (tahun) keatas produktivitasnya beda, tapi tetap boleh juga," ujar Andrian.

Untuk para masyarakat yang hendak menjadi relawan sendiri, syaratnya sangat mudah. Yang terpenting ialah memiliki komitmen dan tentunya bisa meluangkan sedikit waktunya ntuk YAI. Namun bukan berarti harus ada kewajiban hadir disuatu kegiatan, karena dari pihak YAI mengatakan waktunya sangat fleksibel dan bisa menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing relawan.

"Intinya yang penting mereka punya komitmen, bahkan mereka yang sudah punya keluarga dan sudah sibuk pun banyak yang mau. Berarti mereka emang pengen berbagai informasi. Karena mereka nganggepnya gini, orang yang enggak tahu jadi tahu itu kan amal ibadah yah, jadi etos kebaikan," tutup Andrian. (ryn)


Baca Juga:

Tetap Bersinar, Selebritas ini Hidup dengan HIV/AIDS

Kredit : raden_yusuf


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH