2 Tahun Jokowi-Ma'ruf, MAKI Soroti Kinerja Buruk Kejaksaan Agung Gedung Bundar Kejagung. (Foto: Kejagung)

MerahPutih.com - Di momen dua tahun Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memberikan rapor merah dengan penilaian yang jelek, termasuk pada kinerja Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin terutama atas dasar kegagalannya melakukan penyelesaian terhadap kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Rapor merah atas kinerja juga disampaikan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI). Mereka menyebut Kejaksaan Agung belum menghadirkan keadilan dalam proses penegakan hukum bahkan banyak kasus ditidak ditindaklanjuti.

"Saya menghormati hasil survei dan meminta Kejagung untuk menjadikannya sebagai perbaikan. Kenyataannya Kejagung belum menghadirkan keadilan dalam proses penegakan hukum," ujar Koordinator MAKI, Boyamin Saiman kepada wartawan, Jumat (21/10).

Baca Juga:

Eks Wakil Ketua KPK: Penegakan Hukum di Rezim Jokowi Bermasalah

Menurutnya selain kasus Jiwasraya dan Asabri, masih banyak kasus yang mangkrak dan itu juga berlarut-larut, sehingga tidak mendatangkan keadilan. Misalnya kasus Bank Bali, yang diduga melibatkan Tanri Abeng sampai belum dibawa ke pengadilan, tetapi juga tidak dihentikan.

Kemudian, lanjutnya, terdapat juga kasus Ginandjar Kartasasmita yang dulu pernah ditangani Kejaksaan Agung juga belum jelas dan tidak dibawa ke pengadilan, tetapi juga belum dihentikan.

"Ini kan tidak membawa keadilan bagi masyarakat selaku korban kan, maupun bagi tersangka. Karena perkaranya jadi tidak diselesaikan," kata dia.

Boyamin menyebut, terdapat juga kasus Indosat uang pengganti Rp 1,2 triliun sampai sekarang belum dieksekusi. Padahal, menurutnya, peristiwa perkaranya sudah 6 tahun yang lalu, dan juga belum disidangkan.

"Sampai saya mengajukan gugatan praperadilan dua kali, dalam kasus Indosat.Terus kasus yang pernah saya gugat 10 praperadilan menjelang lebaran tahun 2019, itu misalnya kasus Dapen (dana pensiun) Pertamina yang itu kerugiannya hampir 550 miliar. Dari 3 tersangka itu baru mendapatkan 66 miliar dan sisanya itu belum dikejar. Meskinya kan dikenakan pencucian uang sehingga bisa mengejar sisa dari uang korupsi dari kasus Dapen Pertamina," lanjutnya.

Selanjutnya, Boyamin juga mencontohkan kasus Bank Mandiri yang sudah 5 tahun yang lalu debiturnya PT CSI (PT Central Steel Indonesia) itu baru menyidangkan kroco, kelas kecil. Sementara pemegang saham dan orang yang diduga menikmati paling banyak dari uang korupsi belum diproses bahkan sudah digugat pra peradilan. Lalu, kasus yang baru misalnya belum ada kepastian kasus BPJS, Jamsostek Ketenagakerjaan,kasus Pelindo di SP3.

Ia menyinggung, terkait dengan kasus eks jaksa Pinangki yang masih banyak misteri belum terpecahkan, dan terkesan ditutup-tutupi. Terutama peran para king maker serta banyak dari proses yang belum terselesaikan.

"Bagaimana kasus-kasus yang terkait dari proses mafia tanah diproses ke penegak hukum, Kepolisian tapi mestinya itu tidak dibawa ke pengadilan malah dibawa ke pengadilan, yang mestinya dibawa ke pengadilan tapi malah tidak dibawa. Banyak kasus-kasus seperti itu, sehingga dalam pidana umum pun kasus mafia tanah Kejaksaan Agung juga belum mampu menghadirkan keadilan," kata dia.

Termasuk, lanjut ia, kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) yang terkait Semanggi 1 dan Semanggi 2 yang juga berkaitan dengan peristiwa HAM yang lain tahun 98 terutama.

"Serta juga HAM yang lain Wasior juga belum pernah dibawa ke pengadilan karena hasil dari Komnas HAM tidak pernah ditindaklanjuti oleh kejaksaan Agung," katanya.

Selain itu, lanjut ia, di bagian pengawasan misalnya banyak oknum jaksa nakal yang kemudian tidak diberi sanksi berat. Bahkan dari catatan MAKI, yang kena kasus korupsi tidak dipecat. Tetapi, banyak jaksa yang baik, yang berkarya, pintar, tidak melakukan kesalahan tapi tidak dipromosi sesuai kepintarannya dan diparkir.

Jaksa Agung. (Foto:Kejagung)
Jaksa Agung. (Foto:Kejagung)

"Saya pernah melaporkan jaksa yang punya label kedudukan agak tinggi, tapi sampai sekarang juga masih tidak diapa-apakan. Masih menduduki jabatan yang selevel, ini selevel eselon 2 lah itu. Padahal menurut saya jelas-jelas melanggar PP 53 yang tentang disiplin pegawai negeri sipil ASN," kata dia.

Boyamin pun memberikan sarah agar Kejaksaan Agung melakukan pembenahan. Yaitu terkait jaksa nakal agar diberhentikan, yang integritasnya jelek jangan dipromosikan.

"Kemudian penanganan perkara harus mendatangkan keadilan dengan perspektif korban. Jadi kalau korupsi ya berarti justru ini harus cepat dan dituntaskan jangan berlarut-larut," lanjutnya.

Menurutnya juga, semua perkara baik pidana umum termasuk pelanggaran HAM berat juga segera dituntaskan.

"Dituntaskan itu tidak harus dibawa ke pengadilan, dihentikan, dihentikan aja, nanti segera saya uji ke praperadilan. Sehingga adil dan memberikan kepastian, jangan berlarut-larut," katanya.

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Penyaluran Bansos di Surabaya Tersendat, Risma Turun Tangan Langsung
Indonesia
Penyaluran Bansos di Surabaya Tersendat, Risma Turun Tangan Langsung

Padahal, Surabaya menjadi kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta.

Kuasai Reaktor Nuklir Chernobyl, Pesan Rusia ke NATO: Jangan Ikut Campur
Indonesia
Kuasai Reaktor Nuklir Chernobyl, Pesan Rusia ke NATO: Jangan Ikut Campur

Bencana Chernobyl terjadi di Ukraina saat masih menjadi bagian dari Uni Soviet pada 1986. Awan material nuklir menyelimuti banyak wilayah di Eropa setelah kegagalan uji keamanan pada reaktor keempat pembangkit itu.

[HOAKS atau FAKTA] Pemerintah Paksa Warga Divaksin Booster
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA] Pemerintah Paksa Warga Divaksin Booster

Beredar sebuah narasi melalui pesan Whatsapp yang mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia akan memberikan vaksin booster. Pemberian vaksin tersebut diklaim akan dilakukan dengan memberikan vaksin ketiga.

Resmikan Pembangunan Gereja, Anies Singgung Soal Keadilan
Indonesia
Resmikan Pembangunan Gereja, Anies Singgung Soal Keadilan

Terlebih, gereja ini juga memiliki manfaat untuk lingkungan

Ketua DPRD Sudah Kirim Surat Pemecatan Viani PSI ke KPUD DKI
Indonesia
Ketua DPRD Sudah Kirim Surat Pemecatan Viani PSI ke KPUD DKI

PSI) telah mengajukan surat pemberhentian Viani sebagai anggota DPRD DKI pada 14 Oktober 2021 lalu.

Pasien Sembuh COVID-19 di RSD Wisma Atlet Tembus 125 Ribu orang
Indonesia
Pasien Sembuh COVID-19 di RSD Wisma Atlet Tembus 125 Ribu orang

1.025 pasien dirujuk ke rumah sakit lain

Masyarakat Diminta Mengunduh Aplikasi e-Uji Emisi
Indonesia
Masyarakat Diminta Mengunduh Aplikasi e-Uji Emisi

Pemerintah daerah juga telah melibatkan 401 bengkel mobil

Dewas KPK Surati Dirut Pertamina Terkait Dugaan Gratifikasi Lili Pintauli
Indonesia
Dewas KPK Surati Dirut Pertamina Terkait Dugaan Gratifikasi Lili Pintauli

Dewan Pengawas (Dewas) KPK kembali mengirimkan surat kepada Direktur Utama (Dirut) Pertamina, Nicke Widyawati.

Warga Mampang Sayangkan Anies Ajukan Banding ke PTUN Jakarta
Indonesia
Warga Mampang Sayangkan Anies Ajukan Banding ke PTUN Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajukan banding pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta soal pengerukan Kali Mampang sampai dengan Pondok Jaya.

Alasan Pemprov DKI Tak Hentikan PTM Meski Kasus COVID-19 Tinggi
Indonesia
Alasan Pemprov DKI Tak Hentikan PTM Meski Kasus COVID-19 Tinggi

Pemerintah DKI Jakarta mengaku belum berniat untuk menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah dan kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).