100 Hari Kerja, Jokowi-Ma'ruf Dinilai Hanya Fokus Bagi-Bagi Jabatan Presiden Jokowi juga sempat menyaksikan ibu-ibu PKH mengambil uang di ATM, Rabu (29/1). (Foto: Humas/Rahmat)

Merahputih.com - Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menilai di 100 hari pertama Joko Widodo-Ma'ruf Amin menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 hanya fokus bagi-bagi jabatan

"Satu hal positif yang patut dicatat dari kerja 100 hari pertama Jokowi ini adalah keberhasilannya melakukan konsolidasi politik dalam waktu yang cepat," kata Lucius kepada wartawan, Jumat (31/1).

Pada periode jabatannya yang kedua bersama Ma'ruf, Jokowi bergerak cepat melakukan konsolidasi. Di minggu pertama pasca pelantikan, Jokowi sudah berhasil mengajak Gerindra yang sejak periode lalu menjadi oposisi bagi Jokowi.

Baca Juga

Ini Satu-satunya Kisah Keberhasilan di 100 Hari Jokowi-Ma'ruf

"Sebagai salah satu partai dengan raihan kursi parlemen ketiga, kesuksesan Jokowi membalikkan posisi Gerindra berdampak serius bagi konstelasi perpolitikan nasional," tuturnya.

Sebagai sebuah partai besar ditambah lagi dengan peran Gerindra dan Ketumnya Prabowo Subianto sebagai pusat kekuatan oposisi, perpindahan Gerindra ke koalisi pendukung pemerintah bak mengamputasi gerakan oposisi yang semula diprediksi masih akan signifikan jika Gerindra tetap menjadi koordinator oposisi.

"Jokowi berhasil 'melumpuhkan' kekuatan oposisi dan dampaknya sangat terasa dalam perjalanan 3 bulan pertama Jokowi-Ma'ruf. Tak ada pergolakan serius sejak hari pertama hingga akhir bulan ketiga pemerintahan Jokowi- Ma'ruf. Bahkan nyaris tak ada pergolakan," ungkapnya.

Presiden saat menyerahkan PKH kepada 2.500 Keluarga Penerima Manfaat se-Bandung Raya di Lapangan Rajawali, Kota Cimahi, Jabar, Rabu (29/01). (Foto: Humas/Rahmat).
Presiden saat menyerahkan PKH kepada 2.500 Keluarga Penerima Manfaat se-Bandung Raya di Lapangan Rajawali, Kota Cimahi, Jabar, Rabu (29/01). (Foto: Humas/Rahmat).

Lebih jauh, Lucius menyebut, pemilihan pimpinan DPR disamping karena perintah undang-undang yang mengunci pembagian kursi berdasarkan jumlah kursi parlemen, peran Jokowi dan koalisinya untuk memuluskan proses juga terlihat. Yang paling kelihatan adalah pemilihan pimpinan MPR yang menjadi lahan bagi-bagi kursi bagi semua partai di parlemen.

"Partai dengan suara paling buncit seperti PPP saja diberikan jatah. Memberikan penghargaan bahkan bagi partai yang tak semestinya mendapatkannya. Parpol menengah yang berposisi sebagai oposisi tak luput dari penghargaan Jokowi melalui kursi atau jabatan di pimpinan MPR," imbuhnya.

"Keharmonisan saat pelantikan kursi pimpinan MPR karena jatah yang dibagi rata menumpulkan kegarangan parpol oposisi hingga tiga bulan sesudahnya. Setiap kali parpol oposisi ingin terlihat galak, mereka sepertinya tak punya kekuatan lebih untuk mewujudkan keinginannya mengoreksi kebijakan pemerintah," jelas dia.

Baca Juga

Sandiaga Uno Soroti Pertumbuhan Ekonomi Belum Berjalan Maksimal di 100 Hari Jokowi

Lucius menilai, semua itu adalah bagian dari keberhasilan Jokowi sebagai presiden yang disaat bersamaan menjadi semacam konduktor bagi parpol koalisi. "Narasi keberhasilan di atas nampaknya menjadi satu-satunya kisah keberhasilan Jokowi yang sayangnya menimbulkan efek positif sekaligus negatif," tutur Lucius.

"Positifnya, ada ruang leluasa bagi Jokowi-Ma'ruf untuk mengerek cepat program-program unggulan mereka karena hampir pasti tak akan ditolak oleh parlemen," pungkasnya. (Knu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH