Vihara Dhanagun, Benteng Kerukunan Suku Hokkian dengan Pribumi di Kota Bogor Gapura Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Setelah berhasil mengungsi ke Buitenzorg (Bogor), sekira tahun 1746, orang-orang yang berasal dari suku Hokkian membangun sebuah kelenteng yang hendak digunakan sebagai tempat penampungan dan berkumpulnya orang-orang Tionghoa dari kejaran pasukan VOC Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier.

Para pedagang yang baru datang, belajar sama yang sudah lama di sini. Kelenteng dulu awalnya berguna untuk ciri khas dari komunitas Tionghoa. Kelenteng sebagai batu loncat. Awalnya mereka berkumpul dan ditampung di kelenteng. Di sini mereka membicarakan masalah kongsi dagangnya atau misalnya mau mencari pekerjaan, di sinilah tempatnya,” ungkap Ko Ayung selaku pengurus Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat, Senin (9/1).

Vihara Dhanagun, dahulunya dijadikan basis bagi Suku Hokkian dari kejaran VOC Belanda. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Lebih dalam ia menjelaskan bahwa keadaan zaman dulu lokasi tersebut merupakan hutan belantara dengan luas tanah lebih kurang 7.000 meter. Pada masa itu, pemerintah masih dipegang oleh kerajaan. Dan setelah Belanda berhasil menjajah, sebagian tanah ini diambil oleh mereka untuk mendirikan istana sebagai tangsi militer atau markas tentara Knil.

Setelah Indonesia merdeka, tangsi ini tidak berguna dan dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi pasar tradisional. Perekonomian dan kesejahteraan etnis Tionghoa pun perlahan membaik. Dalam hal ini, tegasnya, tentu ada peranan masyarakat lokal yang begitu ramah menerima kehadiran mereka.

"Dari dulu, di sini kami hidup berdampingan. Tradisi yang dijaga dari dulu bisa dilihat ketika perayaan Cap Go Meh. Justru 70 persen dari panitianya adalah masyarakat asli sini," ucap Ko Ayung.

Ko Ayung selaku pengurus Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana, Bogor, Jawa Barat. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Generasi pertama Tionghoa, kata Ko Ayung, sangat menjaga hubungan baik dengan masyarakat asli sehingga dari situlah asimilasi budaya bahkan kawin silang antara Tionghoa dengan masyarakat lokal marak terjadi. "Kalau masalah budaya, melebur menjadi satu. Perkawinan budaya dan juga pernikahan antara Tionghoa dengan masyarakat lokal. Dan untuk masalah agama, dari dulu tidak ada masalah. Kenyataan, tetap rukun hingga tua," katanya.

Selain membaur dalam kerukunan, orang-orang Tionghoa yang pada dasarnya memang untuk berdagang, lambat laun memberdayakan masyarakat sekitar. Dengan mengandalkan tenaga masyarakat lokal, orang-orang Tionghoa kemudian merekrut mereka sebagai pekerja.

"Kalau namanya kontribusi Tionghoa terhadap masyarakat lokal (pribumi Bogor), itu tergantung dari sudut pandang orang lain. Ada yang bilang baik, ada juga yang bilang kurang. Saya sulit untuk mengatakannya. Begini contohnya, kalau mereka usahanya berkembang, otomatis butuh pegawai. Nah, warga akhirnya diajak untuk bekerja. Misalnya juga dalam hal berjuang, mereka juga ikut. Hanya saja kalau dalam sejarah, tidak pernah tertulis," pungkasnya.

Dan patut juga untuk diketahui, sebelum menjadi Vihara Dhanagun, kuil tersebut bernama Hok Tek Bio, hingga akhirnya resmi menjadi cagar budaya.

"Dulu namanya Hok Tek Bio, tidak usah pakai nama kelenteng. Karena bio sendiri artinya kelenteng. Kalau tidak salah, sekitar tahun 1970-an. Sebelum dibongkar, akhirnya dijadikan cagar budaya yang bukan lagi milik kami melainkan milik pemerintah. Sekarang namanya Cagar Budaya Vihara Dhanagun," katanya.

Dari hal inilah, akhirnya Jalan Suryakencana terus berkembang menjadi tempat dengan nuansa Tionghoa seperti di kota-kota kebanyakan lainnya di Indonesia. "Saya, kan, keturunan, tapi bukan keinginan saya untuk menjadi keturunan. Selama ini, kami (keturunan) juga memberikan semuanya untuk Indonesia. Memang untuk negara Tiongkok? Kan, tidak. Saya mencari mata pencaharian untuk kemajuan Indonesia," papar Ko Ayung.

Nasihat orang alim, Mpu Tantular yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, ternyata menjadikan Kota Bogor selalu damai dan sejahtera, kendatipun hidup beraneka ragam keyakinan.

Semboyan bangsa Indonesia yang dikutip dari Kakawin Sutasoma pupuh 139 bait 4 gubahan Mpu Tantular berbunyi sebagai berikut: "Bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrva - meskipun berbeda-beda, tapi tetap satu tujuan. Tidak ada kebenaran yang mendua."

Petuah tersebut ternyata, diresapi betul oleh masyarakat kota Bogor sehingga menimbulkan keselarasan dalam kelangsungan hidup mayarakat sekitar.

Daerah yang dijuluki Kota Hujan itu tetap menjunjung tinggi kerukunan antarsesama, seperti yang dijelaskan oleh Udin (48) salah seorang warga asli. Hal demikian menurutnya, kerukunan yang begitu erat terang memudahkan masyarakat dalam segala urusan.

"Sejak dulu, kehidupan di sini selalu damai. Tidak pernah ada cekcok antara pribumi dan keturunan Tionghoa. Karena itu, sudah merupakan tradisi dari nenek moyang kami. Menjaga kerukunan antarsesama," jelas Udin di tempat ia menjajakan buah-buahan di Jalan Suryakencana, Bogor.

Dengan perdamaian tersebut, Udin berharap agar ke depannya Indonesia bisa menjadi contoh negara yang menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama seperti yang diinginkan oleh para pendiri bangsa dan juga leluhur kita.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH