Vihara Avalokitesvara, Simbol Romantisme Dua Agama
Vihara Avalokitesvara, Banten (MerahPutih/SR)
MerahPutih Budaya- Budaya dan sejarah etnis Tionghoa sangat erat kaitannya dengan Kesultanan Banten, hal tersebut dapat terlihat dari berbagai bangunan bersejarah dan catatan panjang mengenai toleransi antar budaya, agama, dan negara yang terbangun di Banten.
Salah satunya dapat terlihat dari kisah di balik pembangunan Vihara Avalokitesvara. Siapa sangka, jika vihara tertua di Banten ini merupakan bukti cinta dan kerukunan dari dua agama dan suku yang berbeda.
Dikisahkan, Putri Ong Tien Nio dari Negeri Cina hendak bermalam Pamarican, untuk menambah perbekalan sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya. “Putri Ong Tien Nio bersama para anak buah kapal memutuskan untuk bermalam di Pamarican, karena saat itu daerah sini banyak merica," kata Humas Vihara Avalokitesvara, Asaji Manggala Putra, Rabu (3/2/2016).
Pada masa keemasannya, Banten merupakan pusat perdagangan internasional, kala itu banyak saudagar dari Tionghoa, Arab, dan Eropa yang menjadikan Banten sebagai pusat rempah-rempah.
Setelah tinggal beberapa hari, ternyata sang putri merasa betah untuk tinggal di Banten. Namun, kedatangannya membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah. Ditambah sang putri juga membangun vihara yang pada awalnya berada di bekas kantor bea (douane) yang digunakan untuk sembahyang orang Cina. “Kedatangannya dianggap ancaman merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat,” terangnya.
Kehadiran vihara ini membuat masyarakat di Banten ingin mengusir para pendatang dari Tionghoa, karena dinilai bisa merusak keimanan masyarakat Islam saat itu. "Dari situlah figur Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mengambil perannya dengan melakukan mediasi antara warga dengan Sang Putri," jelasnya.
Mendengar hal tersebut, Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati menegur masyarakat Banten. Ia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang menerima perbedaan. Ternyata, pembelaan Sunan Gunung Jati juga mendapatkan perhatian sang putri.
Dari perjumpaan itu, sang putri kemudian memutuskan untuk menjadi mualaf dan masuk Islam, sebelum akhirnya menikah dengan Sunan Gunung Jati. Guna menyimbolkan persatuan antara dua agama dan dua kebudayaan, maka Sunan Gunung Jati membuat Masjid Agung Banten Lama dan Vihara yang bernama Avalokitesvara.
“Posisinya yang dekat (Vihara dan Masjid) menandakan hubungan harmonis antara etnis Tionghoa dan penduduk setempat yang memeluk Islam,” ujar Asaji. (SR)
BACA JUGA:
Bagikan
Berita Terkait
Wagub Rano Karno Pastikan Persiapan Imlek 2026, Jakarta Light Festival Bakal Digelar
Sambut Tahun Baru Imlek 2026, Hennessy Hadirkan Koleksi Tahun Kuda nan Berani
Geliatkan Ekonomi Jakarta, Gubernur Pramono Gelar Lomba Lampu dan Lampion Imlek di Pusat Perbelanjaan
Pramono Ingin Warga Jakarta Dibikin Senang Saat Imlek, Tebar Diskon Belanja
Sambut Imlek, Rekayasa Lalin Bakal Diberlakukan di Kota Tua hingga Pertengahan Februari 2026
Menelusuri Asal Usul Perayaan Cap Go Meh
Perayaan Imlek Jadi Simbol Akulturasi Berbagai Budaya di Jakarta
Fang Teh, Tradisinya Pagi Hari Pertama Tahun Baru Imlek Simbolkan Harapan Keberuntungan
Ekspresi Kebebasan Barongsai di Perayaan Imlek, Makin Eksis di Ruang Publik Sejak Dibebaskan Presiden Gus Dur
Arus Balik Long Weekand Padati Stasiun, 37.579 Penumpang Tiba di Jakarta