Sidang Ahok (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pakar hukum pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Muzakkir menilai tuntutan jaksa terhadap terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terlalu ringan, padahal jaksa telah membuktikan dakwaannya. Ahok dijerat Pasal 156a dan 156 terkait penodaan agama dan golongan.

Menurut Muzakkir, semestinya terdakwa dihukum lebih berat karena kasus ini bukan hanya terkait soal penodaan agama dan kitab suci umat Islam, melainkan keutuhan NKRI.

"Semestinya dalam tindak pidana kasus ini 156a dan 156, itu dalam konteks NKRI yang berfalsafahkan kebhinnekaan, mestinya hukumannya harus lebih berat. Karena taruhannya NKRI, bukan hanya agama saja," terangnya kepada merahputih.com, Kamis (20/4).

Ia menambahkan, disebabkan tindakan penghinaan seperti ini, apalagi antaragama dalam kitab suci yang tidak diimani, sudah sepatutnya tuntutan dan hukumannya berat. Jangan sampai tuntutan jaksa terhadap Ahok menjadi preseden buruk ke depannya.

"Tuntutan seperti itu sama saja dengan kalau begitu menghina kitab suci umat lain hukumannya ringan, orang tidak bikin perhitungkan kalau hukuman seperti itu, karena ringan," tambahnya.

Hal ini juga yang harus ditangkap hakim, ancamannya terhadap NKRI dan kebhinnekaan Indonesia.

"Seharusnya hukumannya lebih berat dari tindak pidana yang lainnya dalam konteks memelihara kebhinnekaan Indonesia," pungkasnya.

Berita tentang tuntutan terhadap Ahok baca juga di: Ahok Dituntut Ringan, GNPF MUI Adukan Jaksa Ke Komisi Kejaksaan

Kredit : fadhli


Zulfikar Sy

YOU MAY ALSO LIKE