Tokoh-tokoh Batavia dalam Bingkai Freemason Skull, simbol Freemason di Museum Taman Prasasti, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Freemason merupakan organisasi persaudaraan yang penuh misteri, yang berasal dari Eropa pada tahun 1717. Di Indonesia, gerakan tersebut didirikan oleh Jacobus Cornelis Mattheus (JCM) Radermacher (1741–1783) yang membangun perkumpulan Masonik (anggota Freemason) pertama di Batavia.

Berdasarkan catatan sejarah, JCM Radermacher merupakan putera seorang Grand Master Freemason generasi awal dari Belanda (diduga jejaknya berada di Museum Taman Prasasti).

Nisan yang diduga milik Grand Master Freemason di Museum Taman Prasasti, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Dengan mengusung pembaruan pada bidang pendidikan bagi semua warga, termasuk pribumi, tak ayal membuat sebagian tokoh-tokoh Batavia tertarik ikut dalam organisasi tersebut.

Ihwal demikian semakin diperkuat dengan buku karangan Dr. Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962 yang menyebut bahwa organisasi tersebut berhasil membuat elite Indonesia bergabung.

Sejarawan Wenri Wanhar mengatakan, dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, Freemason berhasil mengubah pandangan para elite yang ketika itu menggaungkan gerakan antikolonial.

“Tokoh-tokoh tersebut di antaranya Raden Saleh, Boedi Oetomo, sampai kepada Komisaris Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo yang merupakan Kepala Djawatan Kepolisian Negara pertama (sekarang Kapolri). Soekanto pernah menjabat sebagai Suhu Agung dari Timur Agung Indonesia atau Federasi Nasional Mason dan sebagai Ketua Yayasan Raden Saleh,” kata Wenri.

Untuk menelusuri penyebab gerakan Freemason pernah mengakar kuat di Jakarta, Wenri menjelaskan bahwa bisa dilihat pada masa pendirian organiasi Boedi Oetomo, organisasi nasionalis pertama di Indonesia.

“Dalam buku Dr. Th. Stevens disebutkan bahwa Freemason ternyata memiliki hubungan yang sangat akrab dengan tokoh-tokoh awal pergerakan kemerdekaan Indonesia,” jelas Wenri.

Hubungan erat anggota Boedi Utomo dan Freemason, menurut Wenri, berawal dari pidato seorang pengajar aliran teosofi asal Belanda, Dirk Labberton, pada tahun 1909 di Gedung Bintang Timur.

Bintang David, salah satu simbol khas Freemason di Museum Taman Prasasti, Jakarta. (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansjah)

Dalam pidatonya, kata Wenri, Labberton mengajak anggota Boedi Oetomo untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

“Dari situ, anggota Boedi Oetomo tergugah dan tidak lagi minder dengan kesukuannya (Jawa). Mereka merasa disetarakan dengan bangsa-bangsa Eropa,” kata Wenri.

Selain itu, Wenri juga menyebutkan bahwa salah satu peranan penting kaum Masonik adalah dengan mendukung kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda.

“Ini yang menjadi catatan tambahan dan terpenting. Namun tetap, organisasi ini selalu membuat propaganda atau konspirasi yang tidak pernah kita ketahui. Mungkin dengan kita membahas ini adalah salah satu agenda mereka. Hahaha,” kata Wenri mengakhiri.



Noer Ardiansjah

YOU MAY ALSO LIKE