Staf BPPT: Dedi Priyono Beri 'Uang Taksi' Rp2 Juta Staf Rekayasa Madya di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Sampurno saat bersaksi di sidang e-KTP. (ANTARA/Rosa Panggabean)

Anggota tim teknis proyek e-KTP dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tri Sampurno mengaku pernah menerima 'uang taksi' sebesar Rp2 juta dari Dedi Priyono, kakak dari Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Staf Rekayasa Madya di BPPT itu mengatakan, uang tersebut diberikan usai dirinya menghadiri demo terkait proses pengadaan e-KTP di perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) dengan Tim Fatmawati.

Menurut Tri, demo berlangsung dari sore hingga pukul 10 malam. Karena sudah larut, lanjutnya, Dedi yang juga masuk ke dalam tim, menawari Tri untuk pulang bersama karena kebetulan mereka menuju ke arah pulang yang sama ke Cibubur. Di dalam mobil Dedi itulah, Tri diberi 'uang taksi' oleh kakak Andi Narogong.

"Saya nggak mau, saya bilang nggak usah. Tapi karena dipaksa, saya terima dan kemudian saya turun di Cibubur. Waktu itu saya buka di dalam taksi jumlahnya Rp2 juta," kata Tri saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi e-KTP di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Kamis (13/4).

Tri sebelumnya masuk dalam Tim Fatmawati. Setelah melangsungkan beberapa kali pertemuan dengan Tim Fatmawati tersebut, Tri menarik diri. Pasalnya, dia menilai tidak pantas bila tim teknis dari BPPT mendatangi pihak swasta, terlebih proyek e-KTP merupakan milik pemerintah.

"Kegiatan yang dilakukan di ruko Fatmawati tidak selayaknya dilakukan oleh BPPT, mengingat Tim PNRI adalah pihak swasta yang berencana menggarap pekerjaan dari Kemendagri," tandasnya.

Dalam persidangan yang sama, Tri Sampurno juga mengaku pernah diberikan uang sebesar US$20.000 (setara dengan Rp265 juta) oleh anak buah Johanes Marliem selaku Direktur PT Java Trade yang tergabung dalam konsorsium Murakabi, saat ingin pergi untuk melakukan pelatihan di Amerika Serikat.

"Saya pernah dikasih uang sebesar US$20.000 oleh pegawainya Pak Johanes Marliem," jelas Tri.

Kendati demikian, uang panas tersebut akhirnya Tri berikan kepada Ketua Tim Teknis BPPT, Husni Fahmi, saat berada di dalam pesawat yang membawa mereka berangkat ke Amerika Serikat untuk melakukan pelatihan pengadaan e-KTP. (Pon)

Baca berita terkait kasus korupsi e-KTP lainnya di: Kakak Andi Narogong Akui Pernah Rapat Dengan Tim Fatmawati



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH