Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Siswa-siswi sekolah khusus tunanetra dan tunadaksa Yayasan Karya Dharma Wanita (YKDW) 03 Tangerang bersiap mengenakan pakaian adat untuk mengikuti peringatan Hari Kartini di lapangan sekolah, Jumat, (21/4). Sekolah tersebut untuk pertama kalinya merayakan peringatan hari besar nasional pada tahun ini. Merahputih.com / Rizki Fitrianto.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Seorang siswi YKDW 03 Tangerang tengah dirias wajahnya oleh sejumlah guru sebelum mengikuti acara peringatan Hari Kartini. Berjumlah 9 orang guru yang mendampingi 33 orang murid di sekolah tersebut.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Dion (16) siswa sekolah khusus YKDW 03 Tangerang sedang merangkak menuju lapangan agar dapat bergabung dengan kawan-kawanya mengikuti peringatan Hari Kartini.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Ragam pakaian adat yang dikenakan siswa-siswi mewarnai peringatan Hari Kartini di sekolah khusus YKDW 03 Tangerang.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Zelda dan Farhan yang merupakan pelajar peyandang tunanetra di sekolah khusus YKDW 03 Tangerang unjuk kebolehan bermain musik pada kegiatan peringatan Hari Kartini.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Didampingi guru kelasnya, seorang siswi penyandang tunanetra memberikan hormat kepada dewan juri pada peragaan busana dalam memperingati Hari Kartini

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Perayaan Hari Kartini di sekolah khusus YKDW 03 Tangerang disambut meriah para pelajar dan orangtua, sejumlah kegiatan seperti peragaan busana, bercerita, bermain alat musik dan bernyanyi dapat melatih kepercayaan diri siswa.

Image
Author by : Merahputih.com / Rizki Fitrianto

Siswa-siswi sekolah khusus YKDW 03 Tangerang setiap harinya diberikan pelajaran tentang kemandirian dan percaya diri serta sejumlah pelajaran siswa pada umumnya, namun disekolah tersebut juga memiliki beberapa program bulanan seperti berenang dan wisata ke berbagai tempat publik seperti memperkenalkan siswa pada moda transportasi atau kebun binatang. Namun sangat disayangkan, masih banyak tempat wisata maupun tempat publik yang belum dapat memfasilitasi para penyandang difabel.