Beginilah Peran Perempuan dalam Kegiatan Teror Tim Densus 88 dan Ditreskrimum Polda Jabar menggiring dua wanita yang diduga istri terduga teroris Soleh alias Abu Gugun alias Abu Fursan di Jamika, Bandung, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Pengamat teroris dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Solahudin menyebutkan keterlibatan perempuan dalam kasus terorisme merupakan hal yang baru di Indonesia.

"Perempuan terlibat teror ini baru," kata Solahudin dalam acara bertajuk Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme Bagi Insan Media di Jakarta, Jumat (7/4).

Komentarnya tersebut merujuk pada keterlibatan Dian Yulia Novi (DYN) dan Ika Puspitasari (IP) yang merupakan jaringan teroris Bekasi, Jawa Barat, dengan pimpinan selnya, M. Nur Solihin (MNS). Mereka ditangkap pada Desember 2016.

Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam aksi teror disebabkan oleh ajakan pemimpin militan ISIS dari Indonesia, Bahrun Naim agar perempuan ikut melakukan aksi 'jihad' karena hanya sedikit laki-laki yang mau.

"Bahrun bilang kalau di Suriah aksi amaliyah tidak wajib dilakukan oleh perempuan. Tapi di Indonesia, perempuan boleh melakukan aksi teror karena laki-lakinya pada pengecut. Itu dalam percakapan Telegram pada Juni 2016," katanya merujuk pada informasi dan riset yang dilakukannya.

Seperti diketahui, DYN ditangkap di Bekasi, sedangkan IP ditangkap di musola Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, Kecamatan Purworejo, Jawa Tengah.

DYN alias Ayatul Nissa Binti Asnawi merupakan mantan TKW di Taiwan yang kemudian pulang ke Indonesia dan menikah dengan MNS. Ia diproyeksikan sebagai calon 'pengantin' bom bunuh diri di lingkungan Istana Negara, Jakarta, pada Minggu pagi, 11 Desember 2016.

Rencananya aksi tersebut menargetkan momen pergantian petugas jaga Paspampres di Istana. Sedangkan IP diproyeksikan sebagai pengebom pada aksi teror di Bali.

Sumber: ANTARA


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

YOU MAY ALSO LIKE