Selain Pantai, Belitung juga Punya Tradisi Menarik Pulau Belitung memiliki kekayaan tradisi yang juga membanggakan dan menarik minat wisatawan (Foto: indonesiakaya.com)

Saat berlibur ke Pulau Belitung, pasti Anda membayangkan keindahan pantainya. Namun, tahukah Anda jika Belitung juga memiliki kesenian dan tradisi yang menarik?

Sebagian besar penduduk Belitung berumpun Melayu. Mereka yang tinggal di perkampungan jauh dari kota disebut Orang Darat. Sementara, penduduk asli di daerah laut dan pesisir dikenal dengan nama Urang Laut (Suku Sekak atau Suku Sawang) dan Urang Juru. Datangnya etnis Tionghoa, Jawa, Bugis, Madura, dan sebagainya menambah keragaman populasi di daerah ini.

Walau memiliki populasi beraneka, latar belakang Melayu masih kuat memengaruhi Belitung, khususnya dari segi tradisi. Mari kita mengenal lebih jauh tentang Pulau Belitung dari beberapa tradisi khasnya berikut.

1. Baripat Baregong

Baripat Baregong yang dilakukan di 'area' khusus (Foto: flickr.com)

Kesenian ini merupakan permainan adu ketangkasan dengan menggunakan rotan sebagai alat pemukul. Masing-masing pemain mengandalkan kemampuan menangkis dan memukul punggung lawan. Orang yang paling sedikit mendapat pukulanlah yang akan memenangkan pertandingan ini. Permainan tersebut diiringi pula dengan alat musik kelinang (gong dan gamelan) serta serunai (alat musik tiup).

2. Tari Sekapur Sirih

Penari membawa sirih pada Tari Sekapur Sirih, tarian selamat datang dari Belitung (Foto: indonesiakaya.com)

Tari Sekapur Sirih merupakan sambutan selamat datang yang dibawakan pada acara-acara besar. Penari membawa sebuah wadah berisi sirih untuk menunjukkan hormatnya. Di tengah tariannya, mereka menebarkan bunga sebagai tanda penolak kesialan. Tari Sekapur Sirih biasanya dibawakan oleh 10-12 penari, dua di antaranya lelaki, yang diposisikan di belakang. Para penari juga memberikan sirih dalam kotak kepada tamu kehormatan di barisan terdepan sebagai lambang kehormatan dan persahabatan.

3. Nirok Nanggok

Masyarakat sedang melakukan prosesi Nirok Nanggok (Foto: anggyrodith.blogspot.com)

Pada 'ritual' Nirok Nanggok, masyarakat Belitung menangkap ikan secara masal di Lemong Titi Jemang, sebuah ceruk sungai di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong. Dilakukan pada musim kemarau, prosesi Nirok Nanggok dipimpin oleh seorang Dukun Aik (dukun air), dengan tahapan dan aturan adat tertentu. Untuk menangkap ikan, digunakan alat tradisional berupa tirok (semacam tongkat kayu, mata tombak dipasang pada pangkalnya) dan tanggok (jalinan rotan). Nirok nanggok diharapkan bisa membawa kekompakan, kepatuhan, dan kelancaran ekosistem sungai.

4. Muang Jong

Sejumlah pemuda sedang mengangkat kerangka perahu kecil dan akan dilepas ke laut (Foto: imaji tour)

Secara arti, Muang Jong bermakna melepaskan perahu kecil ke laut. Perahu tersebut berbentuk kerangka dengan isi sesajian di dalamnya. Tradisi ini dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Suku Sawang di Kabupaten Belitung sekitar bulan Agustus atau September. Tujuan tradisi Muang Jong ini adalah memohon perlindungan agar terhindar dari bencana yang akan menimpa, karena ombak laut bulan tersebut lebih 'ganas' dan mengerikan.

5. Tradisi Makan Bedulang

Makan bedulang, salah satu prosesi adat masyarakat Belitung (Foto: babelprov.go.id)

Tradisi Makan Bedulang merupakan prosesi makan bersama yang dilakukan dengan adat dan etika Belitung. Misalnya, satu dulang (nampan) digunakan untuk empat orang yang duduk bersila di lantai dan saling berhadapan. Makna tradisi ini adalah rasa kebersamaan dan saling menghargai antaranggota masyarakat, yaitu sejajar tanpa kasta.

Ingin tahu lebih banyak tentang Pulau Belitung? Simak pula artikel berikut: Di Belitung, Pulau Kosong pun Menarik.



Irene Gianov

LAINNYA DARI MERAH PUTIH