Romansa Chairil Anwar dan Wanita - Wanita di Sekitarnya Chairil Anwar (id.wikipedia.org)

MerahPutih Nasional - Tepat di hari ini, 28 April 2016 menjadi peringatan Hari Puisi Nasional untuk mengenang wafatnya sosok penyair ternama Chairil Anwar, yang berhasil melahirkan banyak karya dari puisi-puisi yang hingga kini masih sering dikumandangkan oleh para pecinta puisi Tahan Air.

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 dan wafat diusianya yang terbilang masih sangat muda yakni 26 tahun pada 28 April 1949 di Rumah Sakit CBZ yang sekarang berubah menjadi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.

Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah hasil tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat ia berusia 20 tahun.

Selama masa hidupnya yang terbilang masih sangat muda, Chairil Anwar telah mengeluarkan banyak karya, diantara 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Beberapa puisi yang dibuat olehnya ditujukan untuk perempuan-perempuan yang sempat mengisi hatinya.

Meskipun penampilannya urakan, namun nama Chairil Anwar bisa dikatakan sangat tenar dan dikenal sebagai pemuda yang banyak penggemarnya terutama di kalangan para wanita masa itu. Ketampanan yang dimilikinya menjadi daya tarik banyak wanita, kulitnya putih dan wajahnya menyerupai Indo.

Chairil Anwar juga merupakan pria yang dikenal pintar memikat gadis-gadis karena dia termasuk orang mudah bergaul dan berteman dengan siapa saja, baik itu teman lelaki atapun perempuan. Chairil pernah tertarik pada beberapa perempuan seperti, Karinah Moorjono, Dien Tamaela, Gadis Rasid, Sri Arjati, Ida, dan Sumirat.

Dari sekian banyak nama wanita yang berhasil mencuri perhatiannya, Namun hanya ada satu nama wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta saat ia menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi sayangnya sang penyair hingga akhir hayatnya tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanya pasa Sri Ayati.

Puisi-puisi hasil karyanya itu pada akhirnya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, meski akhirnya mereka sepakat untuk bercerai pada akhir tahun 1948.

BACA JUGA:

  1. Selamat Hari Puisi Nasional
  2. Dewan Kesenian Banten Segera Luncurkan Buku Gelombang Puisi Maritim
  3. Penyair Perempuan Rayakan Hari Kartini dengan Puisi di Tembi
  4. "Membaca Puisi Membaca Laut" di Tembi Rumah Budaya
  5. Ketika Pejabat Kabupaten Bantul Baca Puisi Sastra Bulan Purnama


Selvi Purwanti

YOU MAY ALSO LIKE