Ridwan Kamil: Humor Kunci Berkomunikasi Masyarakat Indonesia Ridwan Kamil saat beri kuliah umum di Cirebon (MP/Mauritz)

Walikota Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil mendapat kesempatan untuk mengisi kuliah umum di Aula Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Kota Cirebon, Kamis (16/3). Dalam kesempatan tersebut, Ridwan Kamil membahas persoalan komunikasi masyarakat Indonesia di era teknologi informasi.

Dalam kuliah umum tersebut, Kang Emil sapaan akrabnya, memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk tidak mudah terpengaruh informasi negatif yang didapat dari sumber tidak jelas melalui gawai. Ridwan Kamil juga mengharapkan para mahasiswa Cirebon untuk terus berkreasi dan berinovasi.

"Inovasi lahir dari gotong royong dan budaya gotong royong itu hanya ada di Indonesia. Orang Indonesia mau menyempatkan diri jadi relawan, bekerja untuk kegiatan sosial," papar Ridwan Kamil disambut tepuk tangan oleh para Mahasiswa, Rabu (16/3).

Ridwan Kamil menyebutkan, menurut penelitian Facebook, berkomunikasi dengan orang Indonesia itu harus memiliki rasa humoris. Hasil penelitian inilah yang menjadi dasar Emil untuk aktif dalam media sosial baik Twitter, Instagram maupun Facebook.

Selain itu, lanjut Kang Emil, rasa sukarelawan yang dimiliki masyarakat di Indonesia maupun Jawa Barat merupakan puncak kebahagiaan tertinggi. Sementara dalam perkembangan di era digital, sosok pemimpin lebih dominan dari orang kebanyakan, visioner serta mau berakselerasi untuk kemajuan masyarakat.

"Demokrasi dan populisme itu beda. Kalau Demokrasi harus dengan easy listening dan knowledge, populisme dengan emosi. Hasil penelitian menyebutkan kalau sudah berbagi itu menjadi puncak kebahagiaan tersendiri," tutur dia.

Oleh karena itu, Ridwan Kamil menganggap praktek dari teori Ki Hajar Dewantoro di era digitalisasi adalah Ing Madya Mangun Karso.

"Saya bukan trah raja, anak yang punya partai, bukan anak raja, bukan konglomerat. Tapi saya punya semangat gotong royong yang menjadi nilai plus Indonesia," terang Ridwan Kamil.

Di era teknologi dan digitalisasi, Walikota Bandung ini meminta para mahasiswa maupun masyarakt Kota Cirebon untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dia mengaku, dalam berkepribadian, anak muda saat ini sudah banyak mengkonsumsi gawai.

Bahkan, tingkat konsumsi gawai dan teknologi tersebut juga sudah mengakar di semua kalanan. Kondisi ini seharusnya dimanfaatkan baik oleh pemerintah Indonesia maupun daerah untuk memaksimalkan konten lokal yang dimiliki.

"Kenapa ibu-ibu seneng India, anak muda suka drama Korea karena bisa produksi dan dua negara ini seakan sudah meramal kedepan akan ada dua informasi yang penting. Kita tidak punya konten, Korsel fokus ke film dan musik. Kalo KPOP mendunia dan Hollywood mendunia karena mereka paham," pungkas Ridwan Kamil.

Artikel ini ditulis berdasarkan laporan Mauritz, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Cirebon dan sekitarnya.



Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE