Pria, Ini Solusi Hadapi Pasangan Berkarakter Social Climber Seorang social climber cenderung kecanduan pujian sehingga rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. (Foto: pixabay.com)

Sahabat MerahPutih mungkin ingat Francisca Paisal alias Sispai, traveler yang tempo hari sempat membuat gaduh dunia maya. Rupanya, perempuan yang satu ini rela berutang demi memenuhi hasratnya jalan-jalan keluar negeri dengan style hedon.

Traveler bergaya sosialita seperti Sispai memang mulai bermunculan beberapa tahun terakhir ini. Persoalannya, ternyata, mereka melakukannya hanya agar mendapat pengakuan sosial lebih tinggi daripada status sebenarnya. Menurut psikologi yang juga founder Ahmada Consulting, Rima Olivia, perilaku seperti itu menggambarkan karakter seorang social climber.

"Social climber adalah fenomena perilaku. Gejala sosial masyarakat karena gaya hidup hedon dan kapitalis," terangnya kepada merahputih.com.

Seseorang menjadi social climber karena dilatarbelakangi keinginan untuk diterima dan diakui oleh masyarakat. Perilaku ini berbahaya bagi dirinya dan keluarga. Seorang social climber senantiasa merasa gelisah ketika ada keinginannya tidak terpenuhi. Ia juga kecanduan dipuji oleh orang-orang yang terpesona melihat kemewahan yang dia pamerkan. Pada level 'parah', social climber bisa mengganggu kehidupan keluarga.

Ambil contoh seorang social climber yang ikut arisan atau pelesir mewah ala sosialita. Agar dapat membiayai arisan atau pelesir tersebut, ia menghalalkan segala cara. Ada yang menggunakan terlebih dahulu dana pendidikan anak hingga akhirnya anak terpaksa menunggak, bahkan ada yang pula bersedia menjadi istri simpanan. Memang, ada sejumlah pria yang mengenali karakter social climber pada pasangannya. Namun sayang, ada pula pria yang tidak dapat membaca tanda-tanda social climber pada pasangannya.

Akibatnya, pasangan jadi kebablasan dan merugikan kehidupan keluarga. Sebelum terlambat, kaum pria sebaiknya mengetahui lebih detail mengenai gejala social climber. Ketika pasangan mulai sering posting foto seolah-olah sering makan di resto-resto yang dianggap mewah serta mulai sering membeli barang-barang bermerek untuk meningkatkan status sosial atau demi mendapatkan apresiasi di mata teman-temannya, Anda sebaiknya sudah mulai bersiaps-siap.

Solusinya adalah tanamkan pemahaman bahwa pandangan pasangan tentang status sosial perlu diperbaiki. Katakan padanya, "Tidak ada yang salah dengan kondisimu saat ini". Lalu, ajak pasangan agar selalu merasa bersyukur dengan kelebihan yang dimiliki.

"Cara bersyukur paling gampang ialah melihat ke bawah. Dan emosi bersyukur itu healing," tegas Rima.
Jika pasangan terlihat sudah mulai kecanduan media sosial, Anda tidak perlu melarangnya. Akan tetapi, ajak dia melakukan aktivitas lain untuk mengalihkan perhatiannya dari media sosial.

Untuk menghilangkan karakter social climber memang dibutuhkan kesabaran. Bila merasa kurang sabar dan ingin prosesnya ingin cepat, Sahabat MerahPutih dapat meminta bantuan psikolog.

Baca juga artikel Psikolog : Beban Belajar Bisa Bikin Anak-Anak Gila


Tags Artikel Ini

Rina Garmina

YOU MAY ALSO LIKE