Perajin Tenun Gedogan Khas Indramayu Tinggal Empat Orang Perajin tenun gedogan yang tersisa di Inramayu (MP/Mauritz)

Tenun gedogan adalah salah satu karya tenun khas Indramayu, Jawa Barat. Tenun gedogan memiliki corak, warna, serta motif yang beragam. Di antaranya adalah motif babaran, suwuk, dan kluwungan.

Namun sayang, seiring perkembangan zaman, perajin yang menggeluti kerajinan tenun ini semakin sedikit. Berdasarkan penelusuran merahputih.com, saat ini hanya ada empat orang perajin tenun gedogan yang masih tersisa. Itu pun usianya sudah tua renta, tidak ada lagi generasi yang menggeluti kerajinan ini.

Salah satunya adalah Nenek Sunarsih. Meskipun usianya sudah tua, saat merahputih.com mendatangi tempat pembuatan tenun gedogan, Senin (20/3), Nenek Sunarsih bersama tiga rekannya, masih terlihat cekatan memasukkan dan mengeluarkan kayu di antara celah bentangan benang tenun gedogan. Kedua tangannya tampak piawai menarik kayu sisir tenun untuk merapatkan helai demi helai benang hingga menjadi kain tenun.

"Kain tenun Indramayu sudah lama sekali dari zaman nenek moyang saya sudah ada. Saya sendiri lupa tahun berapa tenun gedogan sudah ada di sini," kata Nenek Sunarsih.

Tidak banyak orang tahu memang jika ternyata Kabupaten Indramayu memiliki kerajinan khas kain tenun gedogan. Dari buah karya keempat nenek-nenek ini, tampak corak dan warna yang beragam itu menghasilkan motif kain yang khas.

Masing-masing motif kain tentun gedogan memiliki kegunaan yang berbeda-berbeda. Motif Babaran, misalnya, ini bisa digunakan untuk keseharian, atau fashion sehari-hari. Sedangkan motif Suwuk, digunakan khusus ibu rumah tangga , biasanya untuk menggendong anak yang masih bayi. Sementara motif Kluwungan, digunakan dalam acara tradisi desa, serta penutup badan bagi warga yang meninggal.

Perajin tenun gedogan yang tersisa di Inramayu (MP/Mauritz)

Masing-masing jenis kain tenun gedogan tersebut, corak dan tingkat kekencangan benang saat ditenun menjadi ciri khas. Satu kain tenun dengan benang yang sama memiliki ukuran 3 meter x 50 cm.

"Sekarang tinggal empat orang dan yang paling muda usianya 57 tahun. Kita tidak bisa produksi banyak karena tenaga sudah tua," sebut nenek asal Desa Junti Kebin Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu ini.

Ia juga mengungkapkan, keterbatasan tenaga dan tidak adanya masyarakat yang mau belajar menjadi penenun, membuat tenun gedogan khas Indramayu ini terancam punah.

Ditanya soal penghasilan dari hasil menenun, Sunarsih mengaku, dalam satu bulan rata-rata mendapatkan penghasilan Rp 600ribu. "Karena satu minggu satu kain. Kita tidak bisa melayani pesanan banyak dengan tepat waktu karena tenaga kita sudah tua," katanya.

Meski pesanan banyak, Sunarih mengaku tidak terlalu memikirkan hal itu. Bagi dia, menjaga stamina lebih penting untuk mengisi aktivitas lain selain menenun, yaitu bermain dengan cucu dan pergi ke sawah.

Ia juga mengaku khawatir tenun gedongan khas Indramayu akan punah dan tak memiliki generasi penerus. Sebab, hingga saat ini, keempat penenun belum berhasil mencetak generasi penerus kain tenun gedogan.

"Pernah ada yang belajar tapi mereka tidak sabar akhirnya pergi begitu saja. Generasi sekarang kurang memiliki daya tarik terhadap tenun," tutup Sunarih, seraya menuturkan jika pemerintah setempat hanya mengajak penenun ke dalam acara pameran atau promosi potensi daerah saja.

Artikel ini berdasarkan liputan Mauritz, kontributormerahputih.com yang bertugas di wilayah Cirebon, Indramayu, Kuningan dan sekitarnya.



Widi Hatmoko

YOU MAY ALSO LIKE