Perajin Batik Kulonprogo: Kalau Ekspor Kan Ngeri Perajin batik di Desa Gulurejo, Yogyakarta. (MP/Fredy Wansyah)

Para perajin batik di Kulonprogo hanya memasarkan hasil batiknya di pasar nasional. Mereka takut memasarkan produknya ke luar negeri tak punya alat produksi yang memadai serta modal menjaga kepercayaan.

"Kendalanya di ekspor, kita belum berani. Soal cuaca kan harus mendukung. Kalau musim hujan, mana bisa produksi banyak, karena proses penjemurannya butuh kondisi cuaca yang mendukung," papar Girin, 47, pengusaha batik geblek renteng, kepada merahputih.com di Desa Gulurejo, Kulonprogo, DI Yogyakarta, baru-baru ini.

Dia membandingkan produsen batik di Yogyakarta dan Solo yang telah sukses mengekspor ke berbagai negara. Menurut pemilik Sembung Batik Galery ini, produsen batik yang sudah bermain di ranah ekspor biasanya memiliki alat yang memadai. Utamanya ialah alat pengering kain. Dengan alat tersebut, pesanan dalam jumlah besar dapat diselesaikan sesuai tenggat waktu.

"Kalau ekspor itu kan ngeri. Misalnya, pesanan gak tepat waktu, bisa jadi nombok nantinya kan. Beda sama industri yang sudah besar, kaya batik Danarhadi misalnya. Mereka punya mesin," katanya. (Fre)

Berita tentang batik Jogja lainnya bisa dibaca juga di Akhir Pameran Batik Terbesar JIBB 2016


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

YOU MAY ALSO LIKE