MerahPutih Teknologi - Pelopor video game streaming, OnLive telah ditutup setelah menjual beberapa patennya pada Sony. Banyak hal yang menjadi penyebab OnLive tidak mampu bertahan pada bisnis game, yang bahkan belum banyak pesaingnya.
OnLive pernah dihargai senilai 1,8 miliar dollar Amerika (sekitar Rp23,4 miliar). Namun syarat-syarat kesepakatannya belum jelas dan menjadi masalah selama lima tahun layanannya.(Baca: Gamers Seksi Perebut Hati Para Netizen)
Pada tahun 2012, banyak staf OnLive kehilangan pekerjaan ketika perusahaan ini dijual kepada perusahaan modal setelah terlilit hutang sekitar 40 miliar dollar Amerika (sekitar Rp. 5,2 triliun). (Baca: Boy Hamzah Hilangkan Jenuh dengan Game)
Seperti dikutip dari berbagai sumber, sebelumnya telah banyak perusahaan besar menolak untuk mendukungnya, meskipun terbukti bahwa konsep konsol game ini mampu membawa cara bermain game yang baru.
Anda mungkin juga akan merasa malas memainkan game pada ekosistem OnLive, ketika mengetahui bahwa untuk bermain game streaming pada platform OnLive, membutuhkan koneksi broadband yang relatif cepat. Seperti yang kita ketahui, 4G LTE saja belum bisa berjalan dengan mulus di Indonesia.
Selain itu, banyak pemilik PC tampaknya lebih suka membeli game dari Steam dan pasar online lainnya, daripada membayar biaya berlangganan bulanan.
Akhirnya pada bulan Maret 2014, perusahaan memutuskan untuk berubah haluan. Mereka mengumumkan arah baru dengan peluncuran CloudLift, fasilitas yang memungkinkan gamer bermain game secara streaming dan memilih puluhan judul yang telah mereka beli dari Steam pada perangkat mobile, TV dan komputer lainnya.
Namun dengan walau sudah mengeluarkan berbagai upaya, tetap saja tidak ada pertanda baik. Padahal mereka sudah memotong harga berlangganan per bulan, dari 14,99 dollar Amerika (sekitar Rp195.000) ke 7,95 dollar Amerika (sekitar Rp103.400).