Pelaku Teroris Bidik Generasi Muda Melek Internet Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) bersama Rektor Umaha Ahmad Fathoni Rodli. (Foto Dok BNPT)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengidentifikasi para pelaku aksi terorisme yang terjadi di Indonesia berada di rentang usia 23-27 tahun. Mereka adalah generasi yang masih produktif, namun kenyataannya banyak di antara mereka yang justru menjadi pelaku terorisme.

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menyatakan bila target pelaku teror guna merekrut penganut ideologi radikalisme dan terorisme keagamaan kini cenderung bergerak semakin ‘muda’.

“Generasi muda yang menjadi pelaku teror, ternyata tidak dipengaruhi oleh status ekonomi, tingkat kecerdasan, atau status pekerjaan. Faham radikalisme ini justru mudah menyasar di kalangan lembaga pendidikan,” tegas mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas RI ini dalam siaran persnya, Jumat (21/4).

Suhardi menambahkan, pergeseran usia pelaku terorisme terkait dengan perkembangan teknologi informasi. Dikatakan, doktrin faham radikalisasi ini, bisa efektif melalui media sosial tanpa harus melalui pertemuan fisik secara rutin.

“Kalau dulu para pelaku teror ini identik dengan orang yang sudah berumur dan berpengalaman di daerah konflik. Tetapi di era saat ini, basis pelaku teror ini bergeser ke usia yang lebih muda, karena begitu masifnya teknologi informasi yang mudah diakses oleh kalangan muda ini,” kata mantan Kabareskrim Polri ini.

Lebih lanjut, alumni Akpol tahun 1985 ini menyatakan Teknologi Informasi (TI) juga menjadi salah satu alasan mengapa generasi muda kian rentan terpapar radikalisme. Akses tanpa batas dunia internet, dengan mudah dilakukan generasi muda meski mereka hanya mengandalkan satu perangkat teknologi.

BNPT melakukan penandatanganan nota kesepahaman antara BNPT dengan Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha), Sidoarjo, Jawa Timur. BNPT bersama Umaha kini mulai mencari akar masalah terjadinya faham radikalisme di kalangan dunia pendidikan, guna menyusun kajian ilmiah pencegahan dunia radikalisme yang berada di dunia pendidikan.

Rektor Umaha Ahmad Fathoni Rodli mengakui jika kerawanan generasi muda terpapar faham radikalime memang sangat besar dan sudah cukup mengkhawatirkan. “Bahkan, saat menjadi mahasiswa, mereka sudah mendapatkan konsep radikalisme dari level dosen atau pengajarnya sendiri. Ini yang sedang kita cari penyebabnya dan cara penyelesaiannya,” ujar Ahmad Fathoni.



Luhung Sapto

YOU MAY ALSO LIKE