Nyorog, Tradisi Jelang Ramadan yang Mulai Terlupakan Tradisi Nyorog, bagi-bagi bingkisan makanan jelang Ramadan sudah mulai ditinggalkan etnis Betawi. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

Seiring dengan tergusurnya perkampungan Betawi di Ibu Kota sebagai imbas pembangunan, sebagian besar etnis Betawi pun pindah dan bergeser ke daerah penopang seperti Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi. Sayang, kepindahan mereka diikuti pula oleh menghilangkan beberapa tradisi khas Betawi.

Sebut saja Nyorog. Di kalangan generasi muda Betawi, tradisi yang biasa dilakukan saat menjelang Ramadan itu sudah mulai tidak dikenal istilahnya. Nyorog adalah tradisi membagikan bingkisan kepada anggota keluarga atau tetangga. Isi bingkisan bisa berupa sembako atau makanan khas Betawi seperti sayur gabus pucung. Sama seperti tradisi Nyorog, sayur gabus pucung pun kini sudah mulai jarang dijumpai.

Gabung pucung adalah sayur berbahan dasar ikan gabus yang digoreng, lalu dimasak dengan rempah-rempah seperti kemiri, cabai merah, jahe, dan kunyit.

Nyorog biasanya dijalankan oleh orang yang usianya lebih muda kepada yang lebih tua. Selain membawakan bingkisan, mereka juga meminta restu agar ibadah puasa lancar. Tradisi ini sekaligus pengingat bagi warga bahwa Ramadan akan segera tiba. Terlupakannya Nyorog amat disesalkan mengingat tradisi ini dapat mempererat tali silaturahmi antartetangga dan keluarga.

Anda termasuk generasi muda yang sudah mulai melupakan tradisi Nyorog? Jika ya, semoga Anda tidak pernah lupa menjaga tali silaturahmi dengan tetangga dan keluarga walaupun tidak diingatkan oleh sebuah tradisi ya.

Baca juga artikel Tradisi Keramas Pakai Sekam Masyarakat Betawi Hampir Punah.



Rina Garmina

YOU MAY ALSO LIKE