Nyadran, Tradisi Bakti pada Leluhur Jelang Ramadan Tradisi Nyadran warga Dusun Sidorejo, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah (Foto: Antara Foto/Mohammad Ayudha)

Tradisi mendoakan para leluhur masih dilakukan masyarakat Jawa hingga kini, terkhusus Jawa Tengah. Dikenal dengan Upacara Nyadran, tradisi ini merupakan wujud bakti terhadap para pendahulu. Selain itu, Nyadran juga menyimbolkan keyakinan adanya hubungan antara leluhur, sesama, dan Yang Maha Kuasa dalam segala sesuatu. "Nyadran" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu sraddha, yang artinya keyakinan.

Pelaksanaan upacara biasanya dilakukan dua minggu sebelum bulan Ramadan. Tak hanya oleh warga pedesaan, tetapi juga para penduduk kota, terutama mereka yang dididik dalam adat Jawa yang kental. Namun, para penduduk kota tidak melakukannya di daerah domisili mereka, tetapi desa asal mereka.

"Biasanya upacara ini dilakukan masyarakat Jawa di pedesaan. Tapi dua minggu sebelum Ramadan, warga Jawa yang tinggal di kota akan pulang kampung untuk melakukan upacara ini," ujar Prapto Yuwono, dosen prodi Jawa, Universitas Indonesia.

Warga Jawa yang bermukim di perkotaan pulang ke desa lantaran mereka percaya bahwa dua minggu menjelang Ramadan, para roh dari keluarga inti akan pulang ke makam. Maka dari itu, membersihkan makam leluhur menjadi aktivitas wajib yang mengawali rangkaian upacara ini. Kemudian, mereka berdoa bagi orang tua atau pun leluhur di makam tersebut.

Acara ditutup dengan makan bersama (kenduri), di mana para warga akan saling bertukar makanan. Itulah tujuan penting lainnya dari ritual Nyadran atau Sadranan ini, yaitu ajang silaturahmi keluarga dan sesama. Berbagai latar belakang sosial, budaya, dan agama berbaur dalam kegiatan ini.

Upacara Nyadran tidak selalu sama di berbagai daerah, tetapi intinya tetap sama. Di beberapa desa, Sadranan dimulai dengan arak-arakan seluruh penduduk desa. Mereka membawa tenong berisi aneka masakan, jajanan tradisional, serta buah-buahan, menuju makam leluhur. Setelah didoakan sesepuh adat setempat, para warga pun memakannya bersama-sama.

Setelah Sadranan, biasanya tidak ada lagi upacara yang dilakukan. Upacara ini dilakukan selama satu hari saja dan masyarakat yang bermukim di desa akan kembali ke kota.

Baca juga artikel Tradisi Unik Untuk Memperingati Isra Mi'raj.



Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH