Menatap Fajar Masa Depan dari Panorama Senja di Pantai Kuta Siswa-siswi SMPN Wonogiri di Pantai Kuta, Bali (MP/Aldus K)

Tanpa banyak mimpi, rombongan study tour dari kelompok guru SD Xaverius 1 Jambi menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai Senin sore (13/3). Om Swastiastu, demikian tulisan di lokasi kedatangan Bandara I Gusti Ngurah Rai seolah mengucap selamat datang pada para pendidik ini.

SD Xaverius 1 Jambi adalah salah satu sekolah favorit dari Kota Jambi, Pulau Sumatera, memberikan bonus plesiran kepada para gurunya. Rombongan ini mengambil kesempatan wisata ke Bali dengan tujuan terutama untuk meningkatkan kekompakan dan kerjasama di kalangan komunitasnya. Selain itu, mereka juga mau menginjakkan kaki di Pulau Dewata yang sehari-hari hanya jadi bahan pelajaran bagi siswa-siswinya.

Sebagaimana rencana semula rombongan guru-guru SD Xaveirus akan pertama kali menikmati pesona matahari terbenam di Pantai Kuta yang sudah tersohor itu. Tour guide yang menyebut dirinya dengan panggilan Bli Made sudah mewanti-wanti sejak rombongan duduk dalam bus pariwisata menuju ke sana.

“Semoga cuaca bersahabat dengan kita supaya kita bisa menyaksikan sunset di pantai Kuta,” jelasnya.

Tanda-tanda cuaca kurang bersahabat sudah tampak dari atas awan, ketika pesawat yang membawa rombongan ini meninggalkan Bandara Soekarno Hatta Cengkareng menuju Denpasar. Awan putih tebal dengan berbagai bentuk dan formasi eksotis membuat beberapa awak pendidikan mulai mengambil ponsel pintarnya dan mengabadikan momen ini. Mungkin kalau ada kesempatan menjelaskan kepada siswa-siswinya tentang berbagai jenis awan langit mereka akan mengambil foto-foto itu dan membanggakannya sebagai alat peraga hasil karya sendiri. Berbeda kondisinya dengan perjalanan dari Bandara Sultan Thaha Jambi menuju Jakarta yang langitnya lebih cerah. Fenomena cuaca di bagian barat kondisinya sedang lebih cerah dibanding daerah tengah Indonesia.

Bali terutama Kuta memang selalu menarik, itulah yang terbatin ketika menginjakkan kaki di pantai ini. Penikmat pantai, laut, ombak dari segala penjuru dunia terlihat di sana. Sayangnya sunsetnya tidak kelihatan. Kamera-kamera yang telah dikokang mengabadikan momen matahari terbenam terpaksa lesu disimpan kembali. Hanya menyimpan gambaran langit hitam. Matahari tidak kelihatan, mimpi sunset di Kuta tidak jadi nyata.

Siswa-siswi SMPN Wonogiri pungut sampah di Pantai Kuta (MP/Aldus K)

Tetapi lihatlah di penghujung garis laut ada ratusan anak remaja berbaris. Suara pria dari pembesar suara manual meraung-raung memanggil anak-anak itu. Sebagai insan pendidik fenomena ini menarik saya. Apa gerangan itu, anak-anak Balikah? Apa yang akan mereka buat?

Kamera yang tadinya lesu tersimpan saya keluarkan kembali dan saat ini saya hampiri barisan ini. Gurunya menyuruh anak-anak ini berbaris dengan rapi, lalu apa yang akan mereka kerjakan. Ternyata ratusan anak-ini memungut sampah-sampah yang bertebaran di pantai Kuta. Mereka kumpulkan sampah itu di suatu tempat. Tidak sedikit sampah yang berhasil dikumpulkan anak-anak ini. Luar biasa, inilah matahari masa depan Indonesia. Anak-anak yang terdidik untuk mencintai laut, pantai, terutama yang mengupayakan pantai dan laut sebagai tempat bersih dan nyaman untuk bermain dan mencari nafkah.

Kuhampiri seorang berbaju kaus merah tampak dari tindak-tanduknya, ia adalah guru dari anak-anak ini. Dari obrolan dengannya semakin timbul takjub saya pada anak-anak ini. Mereka bukan anak-anak Bali, mereka ini dari SMPN 1 Wonogiri.

“Ada hampir 300 siswa kelas VIII dari SMPN1 Wonogiri,” ungkap gurunya Drs. Heru Setiawan yang sedari tadi kelihatan mengamati dan mengabadikan kegiatan para siswa ini melalui kamera telepon genggamnya.

“Tadi mereka hunting para wisatawan untuk praktik Bahasa Inggris dan sekarang mereka kita tanamkan sikap cinta lingkungan,” jelasnya.

Banyak guru Jambi juga bergabung dengan guru Wonogiri sekedar berbagi kisah. Guru SD Xaverius 1 Jambi juga mengenang bahwa hari Sabtu sebelum mereka berangkat ke Bali, siswa-siswanya juga berkeliling memungut sampah di trotoar jalan umum sekitar lingkungan sekolah.

Memandang jauh kesana, langit masih tertutup awan, namun bibir pantai sudah tampak lebih bersih. Tidak ada lagi sisa-sisa bungkus sampah yang dibuang para wisatawan. Tindakan mereka harusnya membuka mata kita untuk tahu dan lebih mencintai lingkungan tempat kita berpijak.

Artikel ini adalah catatan perjalanan wisata Aldus K seorang guru dari Jambi yang berkesempatan menikmati panorama senja di Pantai Kuta.


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

YOU MAY ALSO LIKE